Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 63.


__ADS_3

Rendra hanya bisa menatap nanar Kirana yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Ia sengaja tidak turun untuk menemani Kirana karena ia merasa saat ini belum waktu yang tepat. Hal yang dilakukan Rendra hanyalah berdiam seraya menatap Kirana dari jauh tanpa berani mendekat.


"Bram,setelah ini kita kembali ke kantor saja." Perintah Rendra kepada asistennya itu.


"Baik Tuan," sahut Bram segera menjalankan tugasnya.


"Apakah menurutmu aku harus menyerah Bram?"ujar Rendra tiba-tiba.


"Maksud Anda tuan?" tanya Bram tak begitu paham pertanyaan atasannya itu.


"Mama masih belum bisa menerima Kirana, aku tidak bisa memaksa Mama karena kau tahu sendiri bagaimana keadaannya saat ini. Apakah menurutmu aku harus menyerah saja?" Ujar Rendra mengulanginya dengan lebih jelas.


"Saya tidak begitu mengerti jika Tuan bertanya masalah seperti itu. Coba tanyakan pada hati Tuan sendiri,"ujar Bram membuat Rendra terdiam.


Jika boleh jujur, saat ini memang iya tak bisa sedikitpun memalingkan pikirannya dari sosok Kirana, tapi sekali lagi Rendra mempertimbangkan tentang Mamanya yang masih menentang hubungan mereka.


"Jika Anda memang ingin menyerah lebih baik menyerah sekarang saja, jangan berdiri di tengah-tengahnya, hal itu pasti hanya akan menyakiti tuan dan juga Nona Kirana," ucap Bram menambahkan lagi.


Rendra tak menyahut namun, dalam hatinya ia membenarkan perkataan Bram. Jika ia hanya berdiam diri seperti ini ia hanya akan menyakiti hatinya sendiri dan juga Kirana, ia harus bertindak.


"Baiklah, aku tidak jadi ke kantor Bram. Antarkan saja aku ke rumah," kata Rendra berubah pikiran.


"Baik Tuan"


*****


Renda tiba di rumahnya setelah setengah jam kemudian, saat ini masih jam 4 sore. Biasanya di jam seperti ini Mamanya sedang memasak untuk makan malam, jadi Rendra langsung memutuskan untuk pergi ke dapur menemui Mamanya di sana.


Bella yang sedang memasak tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah tangan melingkar di perutnya, ia tersentak lalu menoleh dan bertatapan dengan mata anaknya


"Rendra, kamu sudah pulang?" Tanya Bella merasa sikap putranya ini tak biasa.

__ADS_1


"Iya, Mama masak apa hari ini?" Ujar Rendra mengintip apa yang sedang dibuat oleh Bella.


"Masak kayak biasa, kamu udah bersih-bersih belum? Bersih-bersih dulu sana, Mama mau menyelesaikan ini sebelum Papa sama Adikmu pulang," kata Bella mengingat kapan terakhir kali putranya ini memeluknya seperti ini.


"Mau aku bantuin nggak, Ma" ucap Rendra tak ingin beranjak dulu dari sana.


Bella semakin menekuk wajahnya, jika putranya sudah bertingkah seperti ini pasti sedang menginginkan sesuatu. Hal ini sama persis seperti beberapa saat yang lalu ketika Rendra merayunya untuk meminta dibelikan motor baru. Rendra memang begitu, jika sudah sangat menginginkannya, ia pasti tak akan semudah itu menyerah dan terus merayu Mamanya.


"Pasti ada maunya nih," kata Bella tersenyum kecil.


"Enggak, aku cuma mau bilang sama Mama, kalau aku sayang banget sama Mama. Restui aku dan Kirana ya, Ma" kata Rendra semakin mengeratkan pelukannya kepada wanita yang telah melahirkannya itu.


Bella menghela nafas panjang, sudah sangat tahu apa yang saat ini diinginkan putranya.


"Bukankah Mama sudah bilang kalau kau boleh menikah dengan dia, Papamu juga sudah setuju," kata Bella.


"Aku hanya akan menikah kalau mama menyetujuinya," kata Rendra.


"Mama memang mengizinkanku, tapi Mama tidak merestui hubungan kami. Lalu apa gunanya kami menikah, Ma" ucap Rendra menatap punggung Mamanya yang kini sedang menyibukkan dirinya di depan kompor.


"Mama hanya masih belum menerimanya," kata Bella tak ingin menatap putranya, karena ia tak sanggup jika terus-terusan seperti ini.


"Aku pikir saat aku mengatakan ingin menikahi Kirana. Aku ingin memberikan keluarga yang selama ini tak pernah dia punya, aku selalu menceritakan padanya bagaimana rasanya memiliki seorang Papa dan Mama yang mencintaiku. Mama tahu, dia selalu merasa senang, padahal hanya sekedar mendengar ceritaku. Apakah menurut Mama wanita seperti itu tega melakukan hal kejam dengan kesengajaan?" ucap Rendra membayangkan wajah Kirana yang selalu memandangnya teduh setiap kali mereka berbicara apapun.


Ucapan Rendra itu sontak membuat Bella menoleh, hatinya tiba-tiba bergetar. Sekejam itukah dirinya? Membenci seseorang hanya karena membuat kesalahan yang sama sekali bukan keinginannya? Lagipula kenapa ia harus tak percaya kepada Rendra? Seharusnya Bella lebih tahu kalau Rendra bukan orang yang sembarangan bertindak, semua yang dilakukannya itu pasti sudah dipikirkan matang-matang.


Tanpa sadar air mata Bella mengalir, isak tangisnya terdengar membuat Rendra segera mendekat.


"Ma, Mama jangan nangis, kalau Mama memang tidak menginginkan aku menikah dengan Kirana, aku tidak akan menikahinya Ma. Aku sayang Mama," ucap Rendra memeluk erat bahu mungil Mamanya yang bergetar.


"Maafkan Mama karena sudah bersikap egois, Mama benar-benar hanya ingin yang terbaik untukmu. Tapi jika memang kau mencintai Kirana, maka menikahlah dengannya," Bella menghela nafasnya berkali-kali, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Mama merestui kalian," sambungnya lagi dengan nada rendah.

__ADS_1


"Mama tidak perlu memaksakan diri hanya untuk kebahagiaanku, mungkin aku dan Kirana memang tidak berjodoh. Aku akan meninggalkannya, Mama jangan nangis lagi ya," kata Rendra mengusap air mata Mamanya, ia lebih hancur melihat Bella menangis seperti ini.


Bella menggelengkan kepalanya, ia mengusap air matanya lalu menggenggam lembut kedua tangan anaknya. "Tidak, Mama tidak terpaksa. Mama benar-benar merestui hubungan kalian, berbahagialah nak" kata Bella mau tak mau memaksa senyum Rendra terangkat dan merekah di bibirnya.


"Mama serius?" Sekali lagi Rendra ingin memastikan kalau yang didengarnya ini tidak salah.


"Ya, kau siapkan saja semuanya, kita akan melamar Kirana secara resmi sebelum kalian menikah," sahut Bella mengangguk tipis, melihat senyum anaknya yang begitu lega membuat ia ikut bahagia.


"Terima kasih Ma, terima kasih. Mama memang yang terbaik," Rendra langsung menarik untuk wanita itu ke dalam pelukannya, mencium berkali-kali rambut Bella untuk mengungkapkan rasa senang di dalam hatinya


Bella hanya mengangguk-angguk seraya menangis, ia harus mencoba berdamai dengan keadaan dan mencoba menerima semua masa lalu Kirana. Hanya wanita itu yang bisa membuat putranya bahagia.


*****


Malam datang menggantikan cahaya matahari dengan cahaya rembulan. Kirana sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang ke rumah, sebelum pulang ia sempat membuka ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau telepon, namun sayangnya nihil. Rendra sepertinya benar-benar menghindarinya.


Malam itu suasana cukup sepi karena hujan baru saja turun, Kirana melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kontrakan miliknya, namun saat tiba di depan gang ia dikejutkan dengan sosok pria yang berdiri di depan mobil seraya menatapnya tajam.


"Bukankah dia adiknya Rendra?" batin Kirana menatap Eril dengan tatapan bingung namun juga tersirat ketakutan.


"Aku ingin berbicara padamu," kata Eril sangat dingin dan terus menatap tajam ke arah Kirana.


"Maaf, tapi ini sudah malam. Aku tidak bisa," Kirana menolak sebab ia merasa takut jika adik Rendra akan macam-macam padanya.


Elu tersenyum sinis, ia memandang Kirana dari atas sampai bawah seolah menilai perempuan di depannya ini.


"Jika kau berpikir aku akan melecehkan mu, buang pikiranmu itu jauh-jauh. Aku tidak berselera dengan wanita sepertimu," celetuk Eril ketus. "Kedatanganku kesini hanya ingin membicarakan tentang masalah kakakku,"


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2