
Axel berdiri di samping mobil petugas militer yang terparkir di hutan, tak jauh dari kediaman Maxi yang saat ini sedang mereka intai. Perasaan Axel sangat campur aduk, antara gugup, cemas dan juga takut jika ia sampai terlambat menyelamatkan putrinya.
"Lapor O1, semua tempat dipastikan sudah aman. Saat ini target membawa Nona Gwi ke ruang bawah tanah" terdengar seorang tentara melaporkan dari alat komunikasi yang ada ditangan Jendral Martin.
"Lumpuhkan!" perintah Jendral Martin tegas.
"Tuan Axel, semua keadaan didalam aman. Kita akan menyusup masuk dari pintu belakang. Menurut laporan, ruang bawah tanah itu berada disisi kanan rumah. Persiapkan diri Anda" kata Jendral Martin memberi arahan kepada Axel.
"Ya" sahut Axel tak kalah mantapnya.
Ia sempat menarik nafas panjang-panjang sebelum berjalan menyusuri hutan yang sangat gelap itu. Umurnya yang sudah lumayan tua, sedikit terganggu dengan hawa dingin yang menyergap disana. Namun, tak mengurangi tekad Axel untuk menyelamatkan putrinya.
Axel mengendap-endap bersama 6 anggota khusus lainnya, ia menatap sekelilingnya dengan tajam. Namun Maxi yang sudah lebih dulu mengetahui kedatangannya, sudah menyiapkan jebakan kepada mereka. Mereka di kepung oleh anak buah Maxi yang sangat banyak.
Axel mengertakkan giginya, ia merasa dejavu dengan situas ini. Tanpa membuang waktunya, mereka pun akhirnya langsung saling melawan.
Axel beberapa kali terkena pukulan telak di tubuhnya, tapi ia tak menyerah begitu saja. Tanpa basa-basi atau apapun, ia langsung mengambil pistolnya lalu menembak satu persatu musuhnya. Axel tak menembak di bagian vital agar mereka masih tetap hidup.
Para penjaga itu tampak mengerang, ada juga yang langsung kabur sebelum mereka terkena tembakan dari Axel.
"Dimana Tuanmu?" tanya Axel dengan suara khas dirinya yang tegas.
"Aku tidak tau," ucap Penjaga itu seraya mengerang kesakitan karena lengannya terluka.
Axel begitu geram, ia paling benci dengan hal seperti itu. Ia kemudian menarik pelatuk pistolnya hingga mengenai tembok di belakang penjaga itu. Mungkin tinggal beberapa centi dari telinga penjaga itu.
"Percayalah itu bukan tembakan yang meleset! Sekali lagi kau mengatakan tidak tau! Aku pastikan peluru ini akan bersarang di kepalamu" kata Axel dengan auranya yang mengerikan.
"Mereka di bawah! Ruangan ujung paling belakang" ucap Penjaga itu, ia masih sayang nyawanya untuk tidak mematik emosi pria didepannya ini. Ternyata meskipun cukup berumur, Axel masih punya kekuatan untuk mengintimidasi lawannya.
__ADS_1
"Amankan mereka! Kita akan langsung menyusup kesana," kata Axel memberi perintah kepada anak buahnya.
Saat ini dia ditemani oleh 4 orang anggota khusus lainnya. Menyusuri ruangan rumah Maxi yang tampak sangat luas itu. Ia menajamkan telinganya untuk mendengar suara sekecil apapun.
Axel cukup kagum melihat bagaimana pintarnya Maxi membuat bunker yang begitu rapi. Apalagi umurnya yang masih terbilang muda, pria itu sudah memiliki banyak bisnis. Tapi meskipun hebat, Maxi juga menggunakan cara yang sangat licik.
"Tunggu dulu!" kata Axel menghentikan langkahnya.
"Ada apa Tuan Axel?" tanya salah satu anggota.
"Apa kau merasa ini terlalu mudah?" kata Axel merasa semuanya sangat janggal sekali. Orang sekelas Maxi tentu tak akan membiarkan mereka lolos dengan mudah, tapi sesaat kemudian ia kaget saat tiba-tiba saja ada orang yang menendangnya dari arah samping.
Belum selesai dari kekagetannya, ia dikejutkan dengan beberapa anak buah Maxi yang bermunculan kembali. Kali ini tak ingin membuang tenaga, Axel dan para anak buahnya langsung menggunakan pistolnya untuk melumpuhkan mereka.
Axel langsung berlari ke arah bagian Kanan, pendengarannya yang tajam bisa mendengar suara orang yang menangis dari sana.
******
"Aku tidak mau!" tolak Kirana dengan tegas.
"Kau berani menolak ku? Baiklah, jika kau tidak mau, sebagai gantinya aku akan membunuhmu!" ancam Maxi dengan tatapan tajamnya.
"Lebih baik aku mati daripada aku harus membunuh orang Max! Kau memang gila!" kata Kirana langsung berontak dari pangkuan Maxi.
"Jangan menguji kesabaranku! Cepat bunuh dia atau aku akan membuat kau menjadi budak nafsu para anak buahku disini?" kata Maxi menarik tangan Kirana dengan keras.
"Argh....sakit Max!" Kirana mengerang kesakitan saat tangannya di cengkeram dengan sangat kuat.
"Aku akan lebih menyakitimu kalau kau tidak menuruti perintahku! Pegang ini, dan tembak dia!" Maxi memberikan sebuah pistolnya ke tangan Kirana yang gemetaran, lalu ia mengangkat tangan wanita itu dan mengarahkan kepada Gwi.
__ADS_1
Gwiyomi hanya bisa menangis, ia tak bisa melakukan apapun lagi sekarang. Sepertinya, malam ini dia benar-benar akan mati. Papa, Mama, maafkan Gwi...
Kirana pun ikut menangis, ia tak mungkin menghabisi adiknya Rendra. Tapi Maxi yang sudah kesetanan itu terus memegangi tangannya dengan sangat kuat.
"Tunggu apalagi? Cepat tembak sekarang!" bentak Maxi sangat tak sabar.
Ia sengaja menyuruh Kirana yang menembak karena tak ingin mengotori tangannya sendiri. Selain ingin membalas dendamnya kepada keluarga Rendra dengan membunuh putri kesayangannya, Maxi ingin membuat Kirana hidup dalam rasa bersalah karena telah membunuh adik dari pria yang dicintainya.
Kirana semakin gemetaran, ia benar-benar tak ingin menarik pelatuk pistol itu. Tatapan matanya dengan Gwi sama-sama memancarkan kengerian yang sama.
"Tembak sekarang juga!" teriak Maxi tepat di telinga Kirana.
Duar!!!!
Suara tembakan itu menggema di dalam ruangan yang kecil itu. Sebuah peluru melesat dengan cepat membuat Gwi langsung ambruk begitu saja.
"GWIYOMI!!!!" Axel berteriak sangat keras demi melihat tubuh putrinya terkapar akibat luka tembakan.
"Wah...Wah, akhirnya tamu kita datang juga. Selamat datang Tuan Axel Leander. Aku ucapkan bela sungkawa untuk kematian putrimu" kata Maxi tertawa dengan penuh kepuasan.
"BA JI NGAN! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI MU!"
Tak membuang waktunya, Axel langsung merangsek dan mengajar Maxi dengan membabi buta. Kemarahannya berkobar layaknya api yang menyala-nyala. Ia bahkan hampir membuat Maxi KO di detik pertama.
Para anak buahnya dan juga anak buah Maxi juga saling hantam dengan kekuatannya masing-masing. Benar-benar pertarungan yang sangat sengit.
Kirana masih berdiri mematung disana melihat semuanya, ia lalu melihat Axel yang sepertinya mulai kewalahan menghadapai Maxi yang kekuatannya pasti masih kuat dari Axel. Kini bahkan Maxi sudah menindih tubuh Axel yang tak berdaya.
Melihat hal itu pandangan Kirana menggelap, ia lalu mengambil pisau yang disembunyikannya. Kirana tersenyum seperti orang gila, ia lalu melangkahkan kakinya lebar-lebar dan mendatangi Maxi. Tanpa pikir panjang, Kirana langsung menancapkan pisau itu di punggung Maxi.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.