
Rendra masuk kedalam rumah pribadinya setelah cukup lama berpandangan dengan Kirana. Melihat wanita itu membuat hatinya kembali sakit karena ingat penolakan dari wanita itu beberapa saat lalu.
Rendra mungkin tidak pernah jatuh cinta, tapi dia yakin perasannya bukan main-main, dia memang mencintai wanita itu, bukan hanya sekedar rasa kasihan. Tapi apa mau di kata, Kirana sudah menolak dirinya, jadi sekarang dia harus melupakan wanita itu kan?.
"Bram, tolong suruh pelayan membuatkan ku kopi" kata Rendra memijit keningnya yang terasa sangat pegal karena terlalu banyak memandang laptop.
"Baik Tuan"
"Nanti tolong antarkan saja ke kamar, aku kan beristirahat. Malam ini kau boleh pulang ke rumah utama, mungkin Papa akan membutuhkanmu" kata Rendra tadinya ingin melembur pekerjannya, tapi sepertinya tubuhnya tak mampu lagi.
"Saya akan disini saja Tuan, tadi Tuan Axel mengabarkan kalau Kakek anda masuk rumah sakit dan beliau langsung kesana" kata Bram.
"Kakek drop lagi? Kita akan kesana saja kalau begitu" kata Rendra kaget mendengar kakeknya masuk rumah sakit.
"Tekanan darahnya naik, kata Tuan Axel keadaannya sudah mulai stabil. Jika ingin menjenguk, besok saja bersama Nona Gwiyomi Tuan" kata Bram lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kesana besok" kata Rendra mengangguk singkat lalu masuk kedalam kamarnya dan membersihkan dirinya.
*****
Kirana baru saja menyelesaikan mandinya, ia langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Rendra bersama Sella. Pikiran Kirana sudah melayang entah kemana saja sampai dia tak mendengar saat Sella memanggil-manggilnya.
"Kiran! Kebiasaan banget kalau di panggil suka ngelamun" kata Sella berteriak tepat di samping Kirana hingga membuat wanita itu kaget.
"Astaga Sella! Kau mengagetkanku" kata Kirana mengelus dadanya.
"Kamu sih, jangan suka melamun kalau memasak, ntar gosong baru tau rasa" kata Sella.
"Iya maaf, kamu ada apa manggil aku?" tanya Kirana.
"Aku mau minta tolong sama kamu, Tuan Rendra minta di buatin kopi, aku kebelet pup sekarang, jadi buatin kamu ya, sekalian anterin ke kamarnya" kata Sella.
__ADS_1
"Tapi...."
"Please, aku udah nggak tahan Ran" kata Sella dengan raut wajah memelasnya.
"Baiklah"
"Yaudah buruan, Tuan Rendra nggak suka nunggu, gue cabut dulu" kata Sella langsung melesat pergi begitu saja.
Kirana menghela nafasnya, ia melihat kopi yang sudah Sella buatkan. Raut wajah Kirana tak tertebak sama sekali, ia lalu melihat ke arah pintu dapur untuk memastikan tidak ada siapapun ada disana. Kirana lalu mengeluarkan sebuah plastik kecil yang berisi obat berbentuk bubuk dari dalam saku roknya.
Obat itu adalah obat yang di berikan oleh Maxi padanya tadi, dan pria itu memerintahkan Kirana untuk memberikannya pada Rendra.
"Maafkan aku, harusnya kamu tidak menolongku waktu itu" batin Kirana mengigit bibirnya untuk menyamarkan tangisnya.
Kirana segera mengusap air matanya, ia langsung mencampurkan obat itu kedalam kopi milik Rendra, namun Kirana tak memberikannya semua. Setelah memasukan obat itu, ia segera mengandung-aduk kopi itu. Dia memang wanita ter jahat yang pernah ada di muka bumi ini, wanita yang tidak tau diri dan sangat-sangat kejam karena tega melakukan hal seperti ini demi keuntungannya sendiri, yaitu sebuah kebebasan.
"Apakah sudah siap?" terdengar suara basa yang membuat seluruh tubuh Kirana menggigil, ia melirik Bram yang datang di pintu dapur, sepertinya pria itu tidak mengetahui apa yang dilakukannya.
"Sudah Tuan" kata Kirana mencoba sebisa mungkin menormalkan eskpresi wajahnya.
Kirana membawa kopi itu dengan tatapan mata kosong dan wajah dinginnya. Tak ingin terpengaruh oleh perasaan yang mencoba mempengaruhinya untuk menggagalkan semua rencana gila ini. Tapi tidak ada jalan mundur.
"Permisi Tuan, saya mau mengantarkan kopi" kata Kirana mengetuk pintu kamar Rendra.
Beberapa kali Kirana mengetuknya namun tak ada sahutan dari dalam membuat Kirana mengerutkan dahinya. Ia pun mencoba lagi mengetuk pintunya dengan sedikit keras.
"Tuan?" panggil Kirana lagi.
Namun tak ada sahutan sama sekali, Kirana pun akhirnya membuka pintu kamar itu dengan perlahan, di lihatnya kamar itu kosong. Kemana perginya Rendra? Pikir Kirana.
"Tuan?" kata Kirana memutuskan untuk langsung masuk saja kedalam kamar Rendra, tapi dia membuka sedikit pintunya.
__ADS_1
Kirana menatap keseluruhan kamar Rendra yang tampak sangat luas itu, barang-barangnya pun tersusun sangat rapi. Pandangan Kirana lalu bertumpuk pada sebuah foto dengan figura yang sangat besar di pajang di sisi kiri ruangan.
Di Foto itu ada Rendra bersama kelurganya saat acara wisudanya. Kirana menatap dua orang paruh baya yang tampak masih sangat tampan dan cantik meskipun di usinya yang sudah lanjut. Sekarang Kirana tau darimana Rendra memiliki wajah yang begitu sempurna, ternyata keturunan dari kedua orang tuanya.
Lalu pandangannya beralih kepada pria gagah yang berada di samping pria paruh baya itu. Wajahnya sangat mirip dengan Rendra, namun memiliki senyum yang sangat manis, selain itu ada sosok lain yang menarik perhatiannya, yaitu sosok wanita yang terlihat sangat dekat dengan keluarga Rendra, bukankah dia wanita yang pernah kesini? pikir Kirana.
"Sedang apa kau disini?" seruan Rendra membuat Kirana langsung menoleh, namun sedetik kemudian ia mengalihkan pandangannya karena melihat Rendra yang hanya bertelanjang dada dan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Maaf Tuan jika saya lancang, saya hanya ingin mengatakan kopi untuk anda" kata Kirana segera meletakkan kopi yang di bawanya ke meja.
Kirana ingin cepat-cepat pergi darisana tapi lagi-lagi Rendra menahan dirinya.
"Aku ingin berbicara padamu" kata Rendra menahan tangan Kirana.
"Apalagi yang akan anda bicarakan Tuan? kita sudah tidak punya urusan apapun" kata Kirana mencoba bersikap dingin dan tak terbawa perasaannya.
"Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri?" kata Rendra menatap lekat wajah Kirana.
"Saya tidak mengerti maksud anda" kata Kirana.
"Kau sangat tau maksudku Kirana" kata Rendra kali ini langsung memutar tubuh Kirana agar berhadapan dengannya.
"Tuan, jangan seperti ini" kata Kirana menggelengkan kepalanya, tak bisa jika harus menatap wajah Rendra.
"Kenapa? Kau punya perasaan itu padaku kan?" kata Rendra mencoba mengejar mata Kirana yang tak mau menatapnya itu.
"Saya tidak mengerti maksud anda, jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, saya akan pamit, pekerjaan saya masih banyak, permisi" kata Kirana melepaskan dirinya dari Rendra.
"Kau pembohong" kata Rendra menghentikan langkah Kirana yang menjauh.
"Kau pembohong Kirana, kau mencintaku, tapi kenapa kau harus membohongi dirimu sendiri" kata Rendra sangat tau jika Kirana punya perasaan padanya, bahkan orang bodoh pun bisa melihatnya hanya dengan menatap sorot mata Kirana.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.