
Rendra sampai di Hutan tempat dimana para mobil pasukan mereka terparkir. Ia datang bersama Eril yang sudah menggunakan baju khususnya. Terpaan angin malam itu membuat Rendra sedikit menggigil karena kondisinya yang masih cukup lemah. Namun meskipun begitu, tak mengurangi niatnya untuk menyelamatkan adiknya.
"Selamat malam Tuan Rendra, Tuan Eril," Jendral langsung sigap memberikan hormatnya kepada mereka saat datang.
"Malam, bagaimana kondisi di dalam?" tanya Rendra langsung.
"Tuan Axel sudah menerobos masuk dan beberapa penjaga sudah di lumpuhkan. Saat ini, beliau sedang mencari keberadaan Nona Gwiyomi agar bisa langsung di selamatkan" lapor Jendral Martin dengan suara tegasnya.
"Aku akan masuk kesana," kata Rendra mantap.
"Maaf Tuan, permintaan Anda saya tolak karena di dalam kondisinya tidak kondusif. Saya tidak ingin Maxi akan melukai Anda nantinya" ucap Jendral Martin tak kalah mantapnya.
"Kalau begitu aku perintahkan kalian menjagaku disana," ucap Rendra sedikit kesal karena tak dibiarkan masuk.
"Tapi Tuan..."
"Kau berani melawan perintahku?" ucap Rendra kini mengeluarkan tatapan tajamnya yang membuat Jendral Martin tidak berkutik.
"Baiklah, anggota kami yang akan mengawal anda masuk kedalam," kata Jendral Martin terpaksa menyetujui saja.
Rendra menatap Eril yang sama tegangnya seperti dirinya, karena memang pada dasarnya hal seperti ini baru pertama kali ini terjadi dalam kehidupannya. Mungkin beberapa kali ada musuh yang mengancam atau mengirimkan teror, namun tidak secara terang-terangan seperti ini.
Mereka masuk kedalam rumah Maxi dari pintu belakang. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah banyak orang yang bergelimpangan tak sadarkan diri. Entah itu meninggal atau hanya sekedar pingsan.
"Sepertinya mereka ada di ruang bawah tanah," ucap Eril menerka kemana perginya semua orang.
"Ya kita akan langsung kesana," kata Rendra mempercepat langkahnya menuju ruangan bawah tanah.
Sebelumnya Jendral Martin sudah memberikan instruksi tentang lokasi itu jadi Rendra dan Eril cukup mudah memasuki area rumah Maxi.
Sama seperti masuk tadi, di ruang bawah tanah pun sama berantakannya seperti di atas. Rendra langsung masuk kedalam salah satu ruangan dimana mereka melihat Papanya yang tergeletak tak sadarkan diri. Disini lain juga ada adiknya yang terdengar mengerang beberapa kali.
"Papa! Gwi!" Rendra dan Eril berucap hampir bersamaan.
Eril langsung bergegas mendatangi adiknya, dan ia sangat kaget melihat adiknya yang berdarah itu.
__ADS_1
"Gwi? Bagaimana keadaanmu? Gwi?" ucap Eril menepuk-nepuk pipi Adiknya.
"Argh.....Kak, tangan ku sakit, panas" sahut Gwi dengan bibirnya yang bergetar karena menahan sakit di lengannya. Sebenarnya peluru tadi hanya menyerempet saja, ia sengaja pura-pura pingsan setelah melihat kode yang diberikan Kirana padanya tadi.
"Kak! Gwi terkena tembakan, kita harus secepatnya membawa keluar," kata Eril begitu paniknya.
Rendra yang membantu Papanya untuk duduk pun kaget mendengarnya, ia melihat Papanya yang juga babak belur itu. Tapi entah kenapa ia malah enggan keluar darisana.
"Kita akan keluar, Aku akan membantu Papa," kata Rendra memapah tubuh Papanya.
"Dia kesana," kata Axel sepertinya mengerti apa yang di pikiran anaknya.
"Maksud Papa?" kata Rendra tak mengerti.
"Selamatkan dia," kata Axel dengan suara lemahnya.
Sesaat Rendra merasa kaget, namun ia paham apa yang dimaksud oleh Papanya. Ia menatap lorong gelap yang di tunjuk oleh Papanya.
"Biarkan anak buah Papa yang membantu, kau cepat temui dia sebelum semuanya terlambat," kata Axel melepaskan tangannya lalu mendorong anaknya untuk pergi.
Rendra menatap Papanya sebentar, lalu sedikit mengulas senyumnya. Ia menyerahkan Papanya kepada para anggota lainnya. Ia kemudian berlari untuk menyusul Kirana.
"Ja lang! Berhenti! Kau tidak akan bisa pergi!" Maxi berteriak penuh amarah, luka di punggungnya semakin lama semakin nyeri, namun ia sudah bersumpah, jika dia mati, maka ia akan membawa Kirana mati bersamanya.
Kirana masih berlari sekuat tenaga, namun sialnya lorong itu buntu hingga ia tak bisa kemana-mana lagi.
"Jangan mendekat!" teriak Kirana mengacungkan kembali pisaunya untuk menakuti Maxi.
Maxi justru tertawa dengan keras hingga suaranya menggema di lorong yang sepi itu.
"Kau memang wanita ja lang! Aku akan membunuhmu!" teriak Maxi langsung merangsek maju sebelum Kirana sigap. Tangannya menepis kasar tangan Kirana hingga pisau itu jatuh ke lantai.
"Arghh......" Kirana berteriak keras saat Maxi tiba-tiba mencekik lehernya.
Cekikan itu sangat kuat hingga membuat Kirana tak bisa bernafas, tangannya memukul-mukul tangan Maxi agar melepaskannya. Namun Maxi sudah gelap mata terus mencekik Kirana hingga kaki wanita itu tak menyentuh tanah.
__ADS_1
"Kau harus mati!" teriak Maxi tepat di depan wajah Kirana.
Air mata Kirana tak henti mengalir, semakin lama kekuatan memukulnya melemah seiring rasa sakit akibat cekikan itu. Sepertinya ia memang akan mati saat ini, tapi...
"Lepaskan wanitaku!" Rendra berteriak penuh amarah dan langsung melibas kepala Maxi dengan tendangan kakinya.
Maxi langsung tersungkur jatuh dan seketika cekikannya terlepas. Kirana terbatuk-batuk, tubuhnya sangat lemas sekali.
Rendra tak memberi kesempatan untuk Maxi berdiri, ia menarik kerah baju pria itu lalu menghantamnya dengan pukulan keras.
Bugh!
"Ini untuk kau yang sudah berani mengusikku!"
Bugh!
"Ini untuk kau yang lancang menculik adikku!"
Bugh!
Rendra memukuli Maxi dengan membabi buta hingga pria itu berlumuran darah. Rendra benar-benar meluapkan emosinya kepada Maxi. Pria ini juga yang sudah membuat Kirana dan keluarganya menderita. Mengingat hal itu membuat amarah Rendra memuncak.
"Dan ini karena kau sudah membuat Kirana menderita!" Pukulan terakhir langsung telak membuat Maxi roboh seketika.
Namun ternyata dia masih sadar dan malah tertawa seperti orang gila. Disela-sela wajahnya yang babak belur, ia malah mengulas senyum mengejeknya kepada Rendra.
"Kau ternyata sudah sangat mencintainya? Uhuk...Uhuk.... Apa kau tidak tau seberapa menjijikkannya dia. Aku bahkan sudah bosan memakainya. Dia hanya wanita murahan!" ucap Maxi jelas cari mati karena ucapannya itu mematik emosi Rendra yang sudah di ubun-ubun.
Hatinya tak terima Maxi menghina Kirana seperti itu, ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Kirana. Rendra seperti kesetanan, ia kembali memukuli Maxi dengan membabi buta.
"Kau membunuhku pun tak akan merubah segalanya Rendra! Hahaha...dia wanita sampah murahan!"
Maxi terus mengata-ngatai Kirana hingga membuat kesabaran Rendra habis. Ia mengambil salah satu pajangan yang ada disana dan bersiap menghantamkannya ke Maxi namun. Kirana ternyata lebih dulu mengambil pisaunya dan menikam dada Maxi tepat di hadapan Rendra.
Bahkan tak hanya satu kali Kirana menusuk Maxi, ia mengulanginya berkali-kali agar memastikan pria itu mati. Biarkan saja dia menjadi pembunuh, ia tak ingin Rendra mengotori tangannya dengan membunuh iblis ini.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.