
Rendra segera tersadar saat sudah cukup lama mencium bibir Kirana, ia segera melepaskannya dan melihat Kirana menangis membuat Rendra langsung memeluknya.
"Maaf" bisik Rendra sangat pelan merasa bersalah karena kelakuannya itu cukup kurang ajar.
Kirana diam namun air matanya mengalir, dia tidak marah dengan Rendra yang menciumnya, namun dia merasa hatinya tidak baik-baik saja jika berdekatan dengan Rendra dan Kirana takut, sangat takut jika akan jatuh cinta kepada Rendra. Tapi bukankah ini terlalu cepat?
"Sepertinya mereka sudah pergi" kata Rendra mendengar langkah kaki yang menjauh.
"Ya, kita harus secepatnya keluar dari sini Tuan, sebelum hari mulai gelap" kata Kirana melepaskan dirinya dan membelakangi Rendra agar tak melihat wajahnya.
"Ya" Rendra mengangguk setuju, ia menatap langit yang mulai menggelap karena mendung. Mereka harus secepatnya keluar dari hutan itu jika tidak ingin kehujanan.
Sama seperti sebelumnya, Rendra memimpin jalan terlebih dulu, mereka kembali menyusuri tepian sungai dengan menahan lapar, lelah dan juga haus didalam tubuh mereka. Kirana yang berjalan di belakang Rendra diam-diam terus memperhatikan pria itu. Pria yang sangat sempurna, pasti akan banyak sekali wanita yang berlomba untuk mendapatkannya.
"Tuan, jika keluar darisini nanti, apa yang akan kau lakukan?" tanya Kirana tiba-tiba.
"Melakukan apa yang ingin aku lakukan" kata Rendra sekenanya.
"Apa kita bisa bertemu lagi Tuan?" kata Kirana membuat Rendra menekuk wajahnya.
"Bisa saja, kita kan tinggal di kota yang sama" kata Rendra lebih panjang menjawabnya.
"Hahaha, tapi aku rasa kita tidak akan bertemu lagi" kata Kirana tertawa hambar.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" kata Rendra tak mengerti.
"Ya tidak apa-apa, oh ya Tuan Xavier kan namamu? Sebelum kita benar-benar berpisah, aku ingin meminta maaf padamu, tolong maafkan kesalahanku yang mungkin saja merepotkan mu. Aku juga sangar berterimakasih padamu karena sudah sudi membantu orang sepertiku, sekali lagi terimakasih Tuan Xavier" kata Kirana memberanikan diri mengambil tangan Rendra lalu mengajaknya bersalaman.
__ADS_1
Rendra semakin mengerutkan dahinya, ia menatap wajah Kirana lekat-lekat, untuk pertama kalinya ia menatap langsung mata Kirana, entah kenapa perasaannya tak enak saat melihat sorot mata sayu itu. Seolah banyak sekali kesedihan dalam mata itu. Rendra menggelengkan kepalanya, apa yang dia pikirkan?
"Ya sama-sama, kau bisa menemuiku nanti, datang saja ke kantorku, aku akan memberikanmu pekerjaan yang lebih baik agar kau bisa membayar hutang Ayahmu" kata Rendra mendadak bersimpati pada wanita ini.
"Ya kalau ada waktu Tuan, Ayo sepertinya kita akan segera sampai" kata Kirana terdengar ambigu, wajahnya pun semakin suram membuat Rendra merasa ada yang tidak beres.
Semakin langkah mereka dekat dengan muara, semakin tak enak pula perasaan Kirana. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan mengajak Rendra kembali kesana, tapi semuanya sudah terjadi, kini bahkan ia sudah bisa melihat banyak sekali orang yang berkumpul di muara itu.
Rendra lega namun juga bingung, kenapa banyak sekali orang, bahkan juga ada polisi dan juga wartawan yang berkumpul disana. Selain itu ada satu orang yang sangat mencolok tengah menyunggingkan senyum liciknya. Tentu dia sangat mengenalnya, dia Maxi salah satu saingan bisnisnya, tiba-tiba instingnya bekerja sangat tajam.
"Itu dia! Itu dia yang menculik calon istriku! Ayo tangkap dia Pak polisi" kata Maxi berteriak seraya menunjuk Rendra membuat para polisi dan wartawan itu mengerumuni Rendra.
"Apa-apaan ini?" bentak Rendra mengelak saat ada polisi yang menarik tangannya dan langsung memborgolnya.
"Tuan Gyanendra Xavier, anda ditangkap atas tuduhan penculikan terhadap Nona Kirana tunangan dari Maxime Deluxe" kata polisi itu.
"Nona Kirana, bagaimana anda bisa diculik? Apa yang dilakukan oleh para penjahat itu?" tanya salah satu wartwan mengerumuni Kirana.
Rendra langsung menatap wajah Kirana yang menangis dan juga hanya menunduk didalam pelukan Maxi.
"Calon istriku sepertinya masih sangat syok, makanya dia tidak bisa mengatakan apapun, tapi percayalah kalau semua ini benar, dia diculik dan disekap oleh Tuan Rendra pemimpin Belaxe High Conporation, dia pasti sangat ketakutan sekali karena semalaman bersama pria itu" kata Maxi dengan wajah sedihnya dan terus merangkul Kirana.
"Apakah itu benar Nona? Anda di culik dan di sekap oleh Tuan Rendra?" tanya wartwan lagi.
Rendra mengepalkan tangannya erat, ia bisa melihat Kirana yang mengangguk sebagai jawaban. Hal itu membuat darah Rendra mendidih dan terus menatap wanita itu sangat tajam.
"Sudah ya, calon istriku butuh istirahat, setelah ini kami akan mengadakan konferensi pers dan meminta kepada pihak polisi untuk menghukum pelaku dengan hukuman setimpal" kata Maxi membawa Kirana masuk kedalam mobilnya, ia sempat mengulas senyum sinisnya kepada Rendra yang hanya bisa menahan amarahnya saat tubuhnya di seret secara kasar oleh para polisi itu.
__ADS_1
Baru kali ini seumur hidupnya Rendra mendapatkan perlakuan yang sangat tidak hormat seperti ini, bodoh! Bagaimana bisa di tertipu oleh trik wanita polos yang sedang membutuhkan bantuannya tapi ternyata wanita itu sudah bersekongkol dengan musuhnya.
*****
Maxi tersenyum begitu puas didalam mobilnya, ia mengambil rokoknya lalu menyulutnya dan menatap Kirana yang hanya diam saja sejak tadi.
"Akting mu bagus sekali, aku sangat menyukainya" kata Maxi mencolek dagu Kirana namun segera ditepisnya.
"Puas kau sekarang? Aku sudah melakukan semua maumu, kau harus menepati janjimu untuk melepaskan ku dan ibuku" kata Kirana menatap Maxi tajam.
"Berani sekali kau menatapku seperti itu? kau pikir posisimu pantas untuk melakukan itu?" kata Maxi berubah menyeramkan, ia mencengkram rahang Kirana hingga kukunya menancap.
"Bunuh saja aku agar kau puas! Kau memang iblis" teriak Kirana begitu kesakitan saat Maxi mencengkram rahangnya.
"Tentu, aku dengan senang hati melakukanya, tapi kau tau? Aku lebih suka melihat lawanku sangat kesakitan perlahan-lahan dan barulah aku membunuhnya" kata Maxi langsung menancapkan rokoknya itu ke dada Kirana.
"Araaghhhhhh......Sakit!!!!" Kirana menjerit hingga tubuhnya gemetaran, kulitnya langsung terbakar dan panasnya tak tertahankan, air matanya keluar tanpa bisa dicegah.
"Bersikap baiklah kalau kau masih ingin ibumu hidup" kata Maxi mendorong Kirana hingga wanita itu terbentur kaca mobil dengan keras.
Kirana menahan tangisnya, lukanya terasa sangat sakit namun luka hatinya lebih sakit. Sampai kapan dia akan hidup seperti ini, bisakah dia meminta nyawanya diambil sekarang juga? dia sudah tak tahan lagi hidup dalam penyiksaan seperti ini. Tak puaskah Tuhan membuat seluruh keluarganya hancur dan kini ia malah terkurung bersama iblis yang selalu menyiksanya setiap saat.
Happy Reading.
Tbc.
Mohon dukungan like dan komen....
__ADS_1