Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 43.


__ADS_3

"Kau yakin ingin tinggal disini?" Sekali lagi Rendra bertanya kepada Kirana tentang keputusannya. Ia menatap keseluruhan bangunan yang menurutnya sangat sempit itu. Bahkan mungkin hanya sebesar kamar pembantunya di rumah.


"Ya, aku yakin" kata Kirana menatap.


Rendra menghela nafasnya, Kirana itu keras kepala, jadi tidak ada gunanya dia membujuk. Jika wanita itu sudah mengatakan tidak, maka sangat susah untuk merubah keputusannya.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan pulang dulu," kata Rendra kini menatap lekat wajah Kirana.


"Ya, terima kasih sudah membantuku hari ini," kata Kirana mengulas senyumnya sedikit, hatinya sedikit tak enak saat tau jika Rendra ingin pergi.


"Masuklah" kata Rendra masih berdiri disana, ingin memastikan kalau Kirana benar-benar sudah aman.


"Ehm..... Aku akan masuk," kata Kirana menatap Rendra yang masih di tempatnya itu.


"Selamat malam," kata Kirana bersiap untuk menutup pintunya namun matanya terus bertatapan dengan Rendra.


Saat pintu itu akan tertutup dengan sempurna, tiba-tiba Rendra menahan pintu itu lalu mendorong Kirana masuk kedalam rumah dan menutup pintunya dengan keras.


"Rendra?" Kirana tentu dengan tingkah impulsif yang dilakukan Rendra.


"Maaf," kata Rendra membuat Kirana kebingungan. Namun sedetik kemudian ia kaget saat Rendra kembali memegang kedua sisi kepalanya, lalu mencium bibirnya dengan cepat dan mendorong dirinya hingga ke tembok.


Mata Kirana membesar saat merasakan bibir Rendra yang menyentuh bibirnya. Ciuman kali ini sedikit menggebu dan terasa berbeda, Rendra sedikit memaksa bibir mungil Kirana untuk terbuka untuk memudahkan dirinya menyusupkan lidahnya.


Perlahan Kirana memejamkan matanya lalu memberanikan diri membalas ciuman Rendra. Ia mengulurkan tangannya untuk merangkul leher Rendra yang memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya.


Ciuman itu terasa lama dan dalam, Rendra seolah bisa menyedot seluruh nafas Kirana hingga hampir saja kehabisan nafas kalau saja Rendra tidak melepaskannya.


"Maafkan aku," ucap Rendra mengusap bibir Kirana yang sedikit membengkak karena ulahnya tadi.


Kirana hanya mengangguk malu, wajahnya pasti kini sudah memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Aku akan pulang dulu, jangan lupa mengunci pintunya, jika ada orang yang mendatangimu, jangan pernah membukanya, mengerti?" kata Kirana mewanti-wanti Kirana, namun bahasa terdengar penuh perhatian dan sangat lembut.


"Iya," sahut Kirana masih terlalu malu untuk menatap wajah Rendra.


Rendra tersenyum tipis melihat tingkah malu-malu yang di tunjukan Kirana itu, membuat Rendra sangat gemas rasanya.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang," kata Rendra enggan sebenarnya, tapi ia juga tak mungkin menginap disana.


Kirana hanya mengangguk singkat, ia benar-benar malu dan belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Kini saja tangannya terasa berkeringat dingin dan jantungnya berdebar tak karuan. Sepertinya jika berdekatan dengan Rendra, lama-lama ia akan memiliki penyakit jantung.


Kali ini Rendra benar-benar pergi dari kontrakan Kirana, namun ia tetap akan menempatkan beberapa anak buahnya untuk berada di sekitar Kirana. Rendra ingin memastikan jika memang Kirana akan baik-baik saja disana.


©©©©


Pagi menyingsing cepat, matahari sudah muncul begitu cerah menggantikan cahaya rembulan. Kirana sudah tampak sangat rapi pagi ini, semalam Rendra membekali Kirana dengan beberapa baju dan juga uang untuk dirinya. Dan rencananya hari ini, Kirana akan melamar pekerjaan yang letaknya tak jauh dari kontrakannya. Alasannya tentu saja ingin berhemat biaya.


Setelah memakan sarapannya, Kirana langsung berjalan kaki di sekitar kontrakannya. Karena kontrakan itu terletak di tengah-tengah kota, jadi cukup banyak mall dan toko yang berada disana.


Kirana mencari-cari toko yang sekiranya sedang membutuhkan jasa seorang pegawai. Namun saat ia melewati sebuah Toserba, tiba-tiba saja ada pria paruh baya yang menghentikan langkahnya.


"Eh? Iya benar," sahut Kirana.


"Kebetulan sekali Nona, Toserba kami sedang membutuhkan jasa pegawai baru. Perkenalkan, Saya Walls pemilik Toserba ini," ucap pria paruh baya itu lagi.


"Benarkah?" tanya Kirana curiga.


"Benar sekali Nona, apakah Anda mau bekerja di Toserba kami?" ucap Pria paruh baya itu.


Kirana semakin bingung dan curiga, kenapa pria ini malah menawarinya pekerjaan secara tiba-tiba. Tapi benar, saat ini dia sedang membutuhkan pekerjaan.


"Baiklah, aku setuju," kata Kirana menyetujui.

__ADS_1


"Wah, kalau begitu Anda bisa langsung bekerja hari ini Nona, ini baju seragam Anda," ucap Pria paruh baya itu tampak sangat sumringah membuat Kirana menatapnya dengan aneh.


Kirana tak mau ambil pusing, dia hanya butuh pekerjaan dan pria tua ini sudah memberinya pekerjaan. Jadi Kirana tidak ingin berpikiran apapun, ia segera masuk ke dalam Toserba itu mengikuti arahan Pegawai yang lain.


Disisi lain, Bram terlihat mengeluarkan segepok uang lalu memberikannya kepada pemilik Toserba itu, ditelinga nya tersambung telepon dari sang atasan.


"Bagaimana,?" tanya Rendra tak sabar, semalaman penuh ia tak bisa tidur tenang karena memikirkan Kirana.


"Ya saya sudah mengurusnya Tuan, Saya sudah memberikan pekerjaan kepada Nona Kirana, saat ini beliau sudah bekerja di Toserba dekat kontrakan," kata Bram melirik pemilik Toserba yang tampak sangat senang mendapatkan uang dengan jumlah banyak itu.


"Apa dia tidak curiga?" tanya Rendra mengerutkan dahinya, kenapa Kirana cepat sekali setuju, pikirnya.


"Saya tidak tau Tuan, namun Nona Kirana sudah menerima pekerjaannya," kata Bram seadanya.


"Dasar wanita ceroboh, bisa-bisanya langsung percaya begitu saja," Rendra mengomel kesal, merasa Kirana itu terlalu mudah percaya dengan orang.


"Tapi bukankah ini sesuai rencana Tuan?" ucap Bram menekuk wajahnya.


"Ya, pokoknya awasi terus dia Bram. Jangan sampai terluka sedikitpun,jika dari kalian ada yang membuat kesalahan, aku pastikan kalian akan menanggung akibatnya!" Rendra langsung mematikan panggilan itu sepihak setelah mengatakan hal itu.


Bram hanya bermuka masam, tidak Ayah, tidak Anak, semuanya sama saja. Jika sudah jatuh cinta, maka di yang paling repot, padahal dia sendiri tidak punya waktu untuk mengurusi nasib percintaannya.


©©©©


Rendra terlihat sangat sibuk hari ini, banyak sekali hal yang harus di urusnya, karena malam nanti akan ada acara dirumahnya. Mamanya sudah mewanti-wanti dirinya untuk pulang cepat, hari ini akan di gelar acara ulang tahun Mamanya sekaligus syukuran kesembuhan adiknya Gwi yang sempat di rawat karena luka tembak di lengannya.


Saat itu Mamanya sangat marah karena menyembunyikan masalah yang sangat besar itu, bahkan hingga membuat mereka terluka. Tapi untung saja Papanya bisa membuat Mamanya mengerti.


"Bram, kita langsung pulang ke Rumah utama, aku tidak ingin terlambat,"


Pukul 6 sore, Rendra sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2