Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 42.


__ADS_3

Kirana semakin tercengang mendengar perkataan Rendra, ia menatap pria itu dengan sangat kesal. Memang ya, kalau ngomong sama orang keras kepala itu tidak ada gunanya.


"Sebenarnya apa sih maumu?" seru Kirana dengan kesal.


"Aku mau kau" kata Rendra tetap datar dan dingin membuat Kirana sangat geram.


"Terserahlah, aku tegaskan lagi padamu Rendra, aku tidak mau menjadi istrimu!" kata Kirana kali ini lebih tegas dari sebelumnya.


"Aku juga tegaskan padamu Kirana, kau adalah calon istriku sampai kapanpun" kata Rendra seenaknya saja.


Kirana mendengus kecil, ia langsung saja pergi darisana daripada berdebat dengan Rendra. Banyak hal yang lebih penting yang harus dikerjakannya, Kirana tak ingin memikirkan cinta untuk saat ini. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa masalah apapun.


Tapi kita memang bisa berencana, dan Tuhan yang akan menentukan. Hampir seharian dia mencoba mencari pekerjaan, namun tak satupun dia dapatkan. Bahkan hari sudah mulai gelap dan Perutnya kini sudah perih meminta diisi tapi dia belum punya uang sepeserpun.


"Kemana lagi aku harus pergi?" batin Kirana kembali mengistirahatkan dirinya, tubuhnya benar-benar lelah sekali.


Saat Kirana sedang duduk termenung, ia melihat sebuah sepatu mengkilat berdiri tepat dihadapannya. Kirana tak perlu menebak itu siapa karena ia sudah tau kalau Rendra yang sedang berdiri dihadapannya.


Rendra memang sejak tadi terus mengikuti Kirana, ia mungkin membiarkan wanita itu lepas, tapi tidak benar-benar melepaskannya karena dia sangat mengkhawatirkan wanita ini.


"Mau apalagi kesini?" tanya Kirana ketus.


"Makan" kata Rendra singkat.


"Aku tidak lapar" seru Kirana, namun baru saja dia mengatakan hal itu, perutnya malah berbunyi. Kirana mengumpat dalam hatinya, dasar perut tidak bisa di ajak kompromi.


Rendra kesal melihat tingkah Kirana yang sangat keras kepala itu. Ia ingin mengomel tapi mendengar suara perut Kirana, ia menahan senyumnya.


"Masih mau menolak juga? Aku tau kau sejak tadi belum makan. Sekarang kau harus makan, ayo aku akan menemanimu" kata Rendra.


Kirana mengerutkan dahinya, ingin mengiyakan tapi ia tak ingin membuat Rendra semakin menaruh perhatian padanya. Bukankah dia sudah memutuskan untuk menjauhi pria ini.


"Tidak terima kasih," kata Kiran.

__ADS_1


Rendra mendengus, sepertinya wanita keras kepala ini memang tidak bisa di ajak dengan cara halus, pikirnya.


"Kau yakin tidak mau ikut denganku?" tanya Rendra dijawab gelengan mantap oleh Kirana.


Rendra mengangguk, namun sedetik kemudian Kirana kaget saat tiba-tiba Rendra menarik tangannya lalu menggendongnya di pundak.


"Rendra! Apa yang kau lakukan! Turunkanku!" teriak Kirana memukul pundak Rendra dengan keras, ia kaget karena Rendra menggendongnya seperti karung beras.


"Diamlah perempuan keras kepala!" seru Rendra tak memperdulikan teriakan Kirana, ia langsung membawa wanita itu masuk ke mobilnya.


"Ini namanya pemaksaan tau" cetus Kirana menatap Rendra dengan kesalnya.


"Aku tidak perduli. Bram, jalankan mobilnya" kata Rendra sekenanya saja.


"Kenapa sih harus membuat semua menjadi rumit?" ucap Kirana.


"Justru kau yang membuat ini rumit" kata Rendra tak mau kalah.


Kirana menghela nafasnya, dia bingung harus bagaimana lagi menjelaskan kepada Rendra kalau hubungan mereka itu tidak bisa dipaksa kan.


"Aku tidak bisa Rendra" kata Kirana juga menatap Rendra tak kalah sendunya.


"Apa yang membuatmu meragu? Apakah cinta yang aku berikan tidak cukup untukmu?" ujar Rendra menahan nyeri dihatinya saat Kirana lagi-lagi menolaknya.


"Aku tidak pantas.....


"Jangan menggunakan alasan itu, sudah berapa kali aku bilang aku tidak perduli semua masa lalumu. Aku akan menerima semuanya Kiran" kata Rendra dengan suara sedikit meninggi.


"Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apakah dia juga akan menerima semua masa laluku Rendra?" ucap Kirana tak kalah sakitnya saat mengatakan hal itu.


"Kenapa tidak? Ini hidupku, aku yang berhak menentukan semuanya. Bukan mereka," kata Rendra.


"Tapi aku tidak bisa Rendra, tolong mengertilah" kata Kirana menutup wajahnya, ia kembali menangis karena keputusannya yang sangat menyakitkan ini.

__ADS_1


Rendra kembali terdiam melihat tangis Kirana yang sangat melukainya. Apakah memang se sakit itu mencintainya sampai Kirana tidak mau menerima dirinya. Kalau sudah begini, kenapa dia harus memaksa? Bukankah cinta itu memang tidak bisa di paksakan.


"Jangan menangis, maafkan aku jika aku terlalu memaksamu." kata Rendra memegang kedua tangan Kirana lembut, ia juga mengusap air mata Kirana yang membasahi pipi wanita itu.


"Aku tidak ingin berjanji ingin melepaskanmu, tapi mulai detik ini aku berjanji untuk tidak menganggu dirimu. Kirana, kau bisa melanjutkan hidup yang kau inginkan, tapi tolong kali ini jangan menolakku. Biarkan aku membantumu sekali ini saja" kata Rendra mencoba tersenyum meskipun sulit.


Kirana terdiam sesaat melihat wajah Rendra, ia kemudian mengangguk singkat. Dalam hati dia meminta maaf berkali-kali karena bersikap egois seperti ini, tapi bagi Kirana itu yang terbaik.


Malam itu Rendra mengajak Kirana makan terlebih dulu, setelah itu barulah dia menemani Kirana untuk mencari tempat tinggal. Rendra ingin memastikan Kirana aman jika dia sudah tidak bersamanya lagi.


"Kau ingin rumah yang seperti apa?" tanya Rendra membuka tabletnya.


"Terserah, yang penting bisa di buat tempat berteduh" kata Kirana jujur tak punya gambaran rumah impiannya, baginya bisa memiliki tempat tinggal itu sudah membuat ia bersyukur.


"Kau pilih saja mana yang kau suka, nanti Bram yang mengurus administrasinya" kata Rendra memberikan tabletnya kepada Kirana.


Kirana melihat-lihat rumah yang ditunjukkan Rendra, rumah itu jenis rumah mewah yang berada di komplek yang mahal. Kirana mengerutkan dahinya, merasa Rendra ini terlalu berlebihan jika memberinya rumah seperti ini.


"Aku rasa, lebih baik aku tinggal dikontrakkan saja" kata Kirana.


"Kontrakan itu seperti apa? Apartemen?" tanya Rendra menekuk wajahnya. Ia memang tidak pernah tau apa itu kontrakan.


"Bukan, rumah yang biasanya berada di gang kecil. Disana pasti lebih murah biayanya, nanti jika aku bekerja, aku tidak terlalu berat untuk membayarnya" kata Kirana sedikit heran karena Rendra tidak tau kontrakan.


"Kau mau bekerja apa? Apa kau lupa kalau di kota ini mencari pekerjaan itu seperti mencari jarum dalam jerami?" kata Rendra semakin mengerutkan dahinya.


"Pasti ada kok, kamu nggak usah khawatir. Aku bisa mengurus hidupku sendiri" kata Kirana kekeh dengan pendiriannya.


Rendra sedikit berdecak, memang wanita yang bersamanya ini sangat menyebalkan, entah kenapa dia bisa jatuh cinta dengan wanita seperti ini.


Akhirnya daripada berdebat dengan Kirana, Rendra menuruti saja keinginan wanita itu untuk mencari sebuah kontrakan. Meski ia sempat terkaget-kaget dengan lokasi itu, namun Rendra tak mengatakan apapun. Ia membiarkan Kirana tinggal disana, tapi dia juga menempatkan banyak anak buahnya di sekitar Kirana untuk memastikan wanita itu aman.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2