
Axel berjalan kedalam ruangan Rendra dengan langkah tegasnya. Wajahnya tampak sangat tak ramah karena ada yang berani mengusik keluarganya. Bahkan bukan hanya mengusik, Maxi sudah mencelakai putranya dan sangat lancang berani menculik putri kesayangannya.
Hal ini sudah sangat keterlaluan dan dia harus turun tangan langsung karena ia tahu musuh yang dihadapi putranya ini sangat berbahaya. Ia lalu menatap Rendra yang masih terbaring lemah itu. Hati orang tua mana yang tak sakit jika melihat anaknya seperti ini, apalagi jika sampai istrinya tau tentang Rendra, bisa dipastikan istrinya akan pingsan dan Axel tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Keadaan Tuan Rendra saat ini belum mengalami kemajuan ataupun kemunduran, beliau masih kritis Tuan," lapor Bram.
"Semoga dia cepat sadar Bram" kata Axel menghela nafasnya dengan berat.
"Papa!" Eril langsung menemui Papanya setelah mengantarkan Jingga.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Axel memeluk putranya sebagai tanda sambutan.
"Aku baik-baik saja. Gwi yang lebih penting Pa, Maxi sudah menculiknya dan aku dia akan melakukan hal buruk pada Gwi," kata Eril tak menyembunyikan wajah cemasnya.
"Jika sampai ba ji ngan itu berani menyentuh putriku, aku pastikan, aku yang akan menghukumnya dengan tanganku sendiri," kata Axel dengan mata berkilat penuh amarahnya.
"Ya, apakah Papa sudah bisa melacak lokasinya?" kata Eril.
"Para pasukan khusus kita sedang mencarinya, tapi ada laporan kalau ponsel Nona Gwi sengaja di buang ke jalanan," ucap Bram yang tau akan tugasnya.
"Sial! Ini semua gara-gara wanita itu Pa, dia yang menyebabkan kekacauan ini. Kalau Kak Rendra tidak menolongnya waktu itu, pasti semuanya akan baik-baik saja," kata Eril begitu geram.
"Wanita mana yang kau maksud?" tanya Axel mengerutkan dahinya, ia sepertinya tidak pernah tau kalau anaknya mempunyai hubungan dengan seorang wanita.
Eril menghela nafasnya, mereka memang tidak menceritakan tentang Kirana kepada Papanya karena berpikir itu bukan hal penting. Lagipula Eril juga berpikir kalau Kakaknya sudah menghukum Kirana, tapi kenapa jadi seperti ini.
"Wanitanya Maxi waktu itu. Jadi......" Eril pun menceritakan semua rencana yang mereka buat tanpa ada yang di tutupi.
"Bagaimana bisa kalian membuat rencana dengan melibatkan adik kalian sendiri? Apa kau tidak tau apa alasan Papa menyembunyikan identitas adikmu? Papa tidak mau musuh kita sampai menyerangnya!" Ujar Axel tentu kaget dengan apa yang baru saja di katakan Eril.
__ADS_1
"Ya kami salah Pa, kami awalnya hanya ingin memberi pelajaran kepada Kirana. Tapi aku tidak tau kalau wanita itu juga sama liciknya dengan Maxi. Dia yang sudah meracuni Kakak" kata Eril menunduk karena merasa bersalah.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Membawa masuk musuh kedalam rumah jelas tindakan bodoh! Sekarang kalian tau akibatnya? Musuhmu bisa dengan mudah menikammu dari belakang" Ujar Axel tak habis pikir dengan cara pikir anaknya. Ia jika sudah mendeteksi sebuah pengkhianatan, sudah seharusnya membasmi tuntas, bukan malah memasukannya ke lingkungan keluarga.
Eril tak menjawab karena dia mengakui kalau dirinya memang bersalah.
"Sekarang dimana wanita itu?" tanya Axel.
"Dia sudah kabur setelah meracuni Kakak" sahut Eril.
"Kemungkinan besar wanita itu juga berada di tempat dimana Gwi berada. Bram! Suruh anak buah kita secepatnya melacak keberadaan putriku. Aku sendiri yang akan menghukum orang yang sudah berani mencelakai anakku!" ujar Axel dengan aura kemarahan yang kental.
"Aku ikut Pa, aku juga ingin memberi pelajaran kepada mereka. Terutama kepada Kirana, sekuat apapun wanita itu berlari, aku pasti akan mendapatkannya!" kata Eril tak kalah berapi-api dari Axel, jiwa muda sepertinya malah semakin menggelora.
Namun karena ucapannya itu, tiba-tiba monitor penunjang kehidupan Rendra berbunyi dengan sangat nyaring. Semua orang kaget tentunya, apalagi melihat tubuh Rendra yang kejang-kejang.
"Cepat panggilkan Dokter!" teriak Axel begitu syok dan panik tentunya.
"Mohon maaf, Tuan-Tuan sebaiknya menunggu di luar," salah satu perawat mengarahkan Axel dan Eril untuk keluar dari ruangan Rendra.
Axel langsung mendudukkan tubuhnya di kursi seraya menjambak rambutnya frustasi. Hatinya sakit jika melihat putranya seperti itu.
Eril pun hanya bisa menyandarkan dirinya di tembok, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Kakaknya.
"Tuan Axel," Bram terlihat menghampiri mereka setelah mendapatkan telepon di ponselnya.
"Ada apa?" kata Axel menatap asistennya.
"Tim kami sudah bisa melacak dimana keberadaan Nona Gwi, ternyata lokasinya sangat jauh dari sini Tuan. Maxi membawa Nona Gwi ke kawasan hutan bagian selatan," kata Bram membuat wajah-wajah tegang mereka semakin bertambah.
__ADS_1
"Kawasan selatan? Bukankah itu daerah berbahaya Pa? Hutan itu masih sangat lebat dan aku dengar banyak sekali hewan buas disana," kata Eril dengan ekspresi kagetnya.
"Benar Tuan Eril, kemungkinan besar Maxi membawa mereka kesana karena berpikir kalau pun Nona Gwi bisa kabur, dia tak akan bisa lolos" kata Bram mengutarakan analisanya.
"Pa! Kita harus secepatnya menyelematkan Gwi Pa," kata Eril sangat takut jika ba ji ngan itu akan mencelakai adiknya.
Axel mengigit bibirnya, tangannya mengepal erat. Saat ini dua anaknya sedang dalam bahaya dan ia benar-benar harus bergerak cepat.
"Bram! Perintahkan anggota khusus militer kita untuk menyiapkan semuanya. Kita akan menjemput Gwi malam ini juga," ucap Axel dengan suara tegasnya yang sangat berwibawa.
"Baik Tuan" sahut Bram langsung pamit undur diri, ia harus menyiapkan semuanya dengan cepat.
"Eril, kamu jaga Kakakmu disini. Biar Papa yang turun langsung kesana. Terkadang kita memang harus sedikit jahat agar semua kembali ke tempat semestinya" kata Axel benar-benar akan memberantas habis hama yang menganggu keluarganya. Ia harus membuat kedamaian keluarganya kembali untuk seperti semula.
Eril mengangguk pasrah, sebenarnya dia ingin ikut. Tapi melihat sorot mata Papanya yang sangat tajam dan gelap itu, Eril tak berani menatapnya.
"Cepatlah pulang Pa, Mama pasti menunggumu," ucap Eril tau jika Papanya akan mengalami hal yang berat.
"Pasti, kau siapkan saja dirimu. Papa akan membutuhkanmu untuk menjemput kita nanti," kata Axel menepuk-nepuk pelan pundak putranya sebelum pergi dari sana.
*****
Gwiyomi membuka matanya perlahan, kepalanya sangat sakit sekali, ia lalu menatap sekelilingnya yang tampak sangat asing itu.
"Dimana ini?" gumam Gwi mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.
Ia hanya ingat dirinya pergi hang out bersama sahabatnya Jingga, mencoba hal baru yang menyenangkan dengan berjoget di club. Lalu tiba-tiba semua berubah mencekam saat ada seorang pria yang mendatanginya. Mata Gwi membulat sempurna saat tau jika saat ini dia pasti ada di rumah Maxi.
"Papa, Mama.. Tolong Gwi... Kakak..."
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.