Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 48.


__ADS_3

"Maafkan aku Kiran, seharusnya aku menjagamu," kata Rendra merasa bersalah karena tak bisa menahan dirinya.


"Ehm ..." Kirana malah bingung saat Rendra minta maaf, dalam dirinya pun ia mengutuk perbuatannya yang mau-mau saja saat Rendra melakukan hal itu.


"Maafkan aku, ini sudah sangat malam. Kau harus istirahat," kata Rendra bangkit dari atas Kirana, ia beberapa kali harus menghela napasnya untuk membuat dirinya tenang. Jujur saat ciuman tadi sudah memancing hasratnya.


"Disini saja," ucap Kirana menahan tangan Rendra agar pria itu tidak jadi pergi.


Rendra mengangkat alisnya, seolah bertanya ada apa?


"Maksudku, ehm ... kau bisa disini dulu," ucap Kirana tak berani menatap wajah Rendra karena sangking malunya.


Rendra sedikit kaget mendengarnya, apakah benar Kirana memintanya untuk tetap disana?


"Lupakan, kau boleh pergi," kata Kirana memutar tubuhnya membelakangi Rendra. Apa yang benarnya dia pikirkan, bisa-bisanya meminta Rendra untuk tetap disana. Sungguh memalukan.


"Kau yakin ingin aku pergi?" ucap Rendra menarik sudut bibirnya, terlihat senyum tipis mengembang.


"Ya," kata Kirana mengangguk-angguk.


"Baiklah aku akan pergi," kata Rendra bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kamar Kirana.


Kirana mengerutkan dahinya, ia menoleh untuk melihat Rendra yang sudah tidak ada disana. Sekarang kenapa perasaannya semakin tak rela jika Rendra benar-benar pergi. Kirana cepat-cepat turun dari ranjangnya, ingin memastikan kalau Rendra memang sudah pergi.


Saat Kirana membuka pintu kamarnya, ia hampir saja berteriak saat melihat wajah Rendra tepat didepannya.


"Rendra!" seru Kirana kaget. "Kau belum pulang?" ucapnya terbata.


"Ya tadinya, tapi sepertinya aku berubah pikiran," kata Rendra mengulas senyumnya.


"Kenapa?" Kirana kembali berbicara dengan sangat susah, sepertinya ia punya penyakit gagap sekarang.


"Aku ingin menemanimu malam ini," kata Rendra masih dengan senyum manisnya.


"Tapi ... nanti bagaimana kalau orang tuamu mencari?" kata Kirana tak ingin Rendra dicari oleh orang tuanya.


"Ya tinggal bilang saja menginap di rumah calon istri," ucap Rendra santai saja, ia ngeloyor masuk kembali ke dalam kamar Kirana.

__ADS_1


Kirana mengigit bibirnya, tak tau harus bersikap bagaimana sekarang ini.


"Apa kau mau berdiri terus disana?" ucap Rendra sudah kembali mendudukkan dirinya di ranjang.


Kirana tak menyahut, ia melirik Rendra yang sudah berada di ranjang itu. Apakah ini bukan kesalahan? Tapi mereka tidak melakukan apapun bukan? Akhirnya Kirana memberanikan diri mendekat ke arah Rendra, ia sengaja berjalan se pelan mungkin seraya menghalau rasa gugup yang terus menjadi trademark dalam dirinya.


"Kau belum menutup pintunya, Sayang ..." ucapan Rendra barusan berhasil membuat Kirana kembali terdiam.


Ia menatap pintu kamar yang masih terbuka lebar, mau tak mau ia berjalan untuk menutup pintu itu lalu kembali mendekat ke arah Rendra.


Rendra tak henti menahan senyum saat melihat tingkah Kirana yang sangat gugup itu. Wanita itu bahkan tak berani menatap dirinya. Rendra menyeringai, terlalu gemas dengan wanita ini.


"Kemarilah, kenapa lama sekali? Kau tidak tau ya, aku sudah menunggumu ..." kata Rendra menarik kembali tangan Kirana hingga wanita itu terduduk di sampingnya.


"Kiran, lihat aku ..." Rendra menaikan dagu Kirana agar wanita itu menatapnya.


Kirana mengangkat pandangannya perlahan hingga ia bertatapan dengan mata hitam Rendra yang begitu jernih.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu jika itu yang kau takutkan. Aku hanya ingin tidur memelukmu," kata Rendra menatap Kirana dengan serius.


Rendra tersenyum kecil, ia menarik wanita itu kedalam pelukannya yang hangat. Kirana pun memberanikan diri untuk membalas pelukan itu.


"Kiran ... aku tidak bisa berjanji apapun padamu, namun aku berjanji untuk selalu bersamamu, jika nanti di masa depan ada sesuatu yang membuatmu ragu padaku, jangan pernah melepaskan genggaman tanganku. Tetaplah bersamaku Kiran, aku mencintaimu," ucap Rendra mengungkapkan perasaan terdalamnya dengan begitu tulus membuat Kirana tersentuh.


"Aku juga mencintaimu Rendra ... " ucap Kirana memejamkan matanya, menghirup harum tubuh Rendra yang khas. Setetes air mata haru langsung lolos begitu saja dari sudut matanya. Baru kali ini Kirana merasa begitu dicintai oleh seseorang, dan orang itu adalah Rendra.


Rendra tersenyum seraya melepaskan pelukannya. "Sekarang tidurlah, ini sudah malam," ucap Rendra menepuk-nepuk bantal Kirana.


Kirana menurut,menggeser tubuhnya bersiap untuk tidur. Namun ia malah kaget saat melihat Rendra membuka kemejanya.


"Rendra!" serunya dengan mata membulat sempurna lalu menutupnya kembali karena malu melihat Rendra bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot kekar dalam tubuh pria itu.


Rendra tersenyum kecil, ia meletakkan kemejanya di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya di samping Kirana. Ia mengurai tangan Kirana yang sedang menutup mata itu.


"Buka matamu Kiran," kata Rendra.


"Tidak, pakai bajumu sana. Kau bilang hanya ingin tidur, kenapa bajunya dilepas," kata Kirana kekeh memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kalau aku tidur memakai baju, nanti kemejaku akan kusut, besok pasti Mamaku akan curiga," ucap Rendra mengutarakan alasannya membuka baju.


"Tapi aku malu ..." kata Kirana memang sudah sering melihat Maxi tidak memakai baju, namun sebenarnya ia tak pernah benar-benar melihat karena Kirana selalu menutup mata jika mereka melakukan hubungan.


"Kenapa harus malu? nanti kau juga akan melihatnya setiap hari. Sudah, aku sangat lelah sekali hari ini. Besok pagi, bangunkan aku ya, selamat malam my sweet heart, " ucap Rendra mendekatkan sedikit tubuhnya lalu mencium kening Kirana dalam-dalam sebelum memejamkan matanya untuk tidur.


Kirana membuka matanya, ia menatap Rendra yang tertidur dengan santai disampingnya. Ia terus menatap wajah Rendra yang ia rasa sangat sempurna itu, dari mata, hidung, hingga bibir nyaris tanpa cela. Kirana akui kalau Rendra memang bisa mendapatkan semua wanita di muka bumi ini, tapi kenapa Rendra harus memilih dia?


"Rendra, apa kau sudah tidur?" ucapnya namun tidak ada sahutan sama sekali.


Kirana mengerutkan dahinya, kenapa cepat sekali Rendra tidur. Ia menaikkan sedikit tubuhnya untuk mengecek kesadaran pria itu. Kirana mencoba menyentuh lengan Rendra, tapi tak ada respon. Akhirnya ia memberanikan menyentuh pipi Rendra, kali ini juga tidak ada respon.


Kirana tersenyum kecil, merasa gemas sekali melihat pria itu tidur tanpa terusik apapun. Ia kembali menyentuh-nyentuh pipi Rendra namun pria itu juga tidak bangun juga.


"Dia sangat lucu jika seperti ini," ucap Kirana secara impulsif mencium pipi Rendra karena sangking gemasnya.


Saat Kirana ingin menjauhkan tubuhnya ia kaget karena tiba-tiba saja Rendra menangkap tangannya, lalu mata pria itu terbuka sempurna.


"Rendra ..." ucap Kirana panik.


"Mau kemana kucing nakal," ucap Rendra langsung melakukan moving dengan menindih tubuh Kirana.


"Rendra! Kau bilang tidak akan melakukan apapun," Kirana mulai dilanda kegugupan.


"Bukankah kau yang memancingku Kirana?" ucap Rendra sejak tadi memang belum tidur, tapi Kirana malah memancingnya.


Rendra langsung mencium bibir Kirana tanpa persetujuan wanita itu, kali ini ciumannya lebih buas dan cepat. Tangannya bergerak aktif memberikan sentuhan pada tubuh Kirana hingga membuat wanita itu men de sah tertahan.


Rendra lalu menurunkan ciumannya ke leher Kirana, memberikan beberapa kissmark disana, lalu ia membuka baju Kirana dengan menggunakan giginya.


"Rendra ... ah..." Kirana semakin tak bisa mengontrol suaranya saat Rendra menyentuh dan meraba tubuhnya dengan gerakan sehalus mungkin. Namun saat Rendra akan melanjutkan hal lebih, tiba-tiba saja bayangan saat dirinya di paksa oleh Maxi melintas.


"Jangan! Aku tidak mau! Jangan ..." ucap Kirana mendorong Rendra dengan keras.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2