
Bella menatap dalam-dalam wajah Kirana, ia lalu maju langkah dan berdiri tepat di hadapan Kirana. Cukup lama Bella diam saja hingga ia menepuk pelan pundak Kirana.
"Apa kau benar-benar mencintai putraku?" tanya Bella dengan tatapan serius namun suaranya terdengar lembut.
Kirana terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Bella. Ia lalu melirik Rendra yang juga mengerutkan dahinya.
"Iya Tante, saya mencintai Rendra," Kirana menjawab tanpa keraguan meski saat ini ada yang memandangnya dengan ekspresi tak suka.
"Kalau kau memang mencintai putraku, tolong jaga dia dengan baik. Jangan pernah kau meninggalkannya lagi, mau kah kau berjanji itu padaku?" ujar Bella kali ini memegang kedua lengan Kirana. Tatapan matanya terlihat sendu dan juga penuh permohonan. Sebagai seorang ibu, Bella ingin memastikan kebahagiaan untuk putranya nanti.
"Saya janji Tante," sahut Kirana setelah terdiam cukup lama.
Bella tersenyum tipis, tanpa Kirana duga, Bella tiba-tiba memeluknya erat. "Terima kasih, semoga kalian bahagia setelah menikah nanti," ucap Bella menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
Rendra langsung menggenggam tangan Mamanya, ternyata ia sudah berpikir salah tentang Mamanya. Wanita yang telah melahirkannya ini juga memikirkan bagaimana perasaanya. Bukan orang tua egois yang memaksa anaknya untuk meninggalkan kekasihnya.
"Jadi Mama setuju?" tanya Rendra ketika Bella dan Kirana menyelesaikannya.
"Ya dengan sangat terpaksa," ucap Bella mencubit hidungnya yang pengar karena menahan tangis.
"Maksud Mama?" Rendra kembali saling pandang dengan Kirana.
"Ya, kalian berdua sudah saling mencintai, lalu untuk apa Mama tidak merestuinya. Kau juga sepertinya sudah sangat siap menikah," ucap Bella sedikit menyindir putranya.
"Memangnya apalagi yang harus ditunggu? Kita berdua memang sudah siap menikah," ucap Rendra santai saja, ia memang sudah siap, sangat siap malah.
"Kita kabari Papa dulu, kalian akan menikah kapan?" tanya Bella.
"Besok!"
*****
Kirana membolak-balikkan tubuhnya kesana kemari. Malam sudah cukup larut namun ia sama sekali belum bisa tidur. Kirana tidak bisa tidur karena besok akan menikah.
Ya benar, besok memang hari pernikahannya dengan Rendra akan dilaksanakan. Semua keluarga Rendra juga sudah setuju, jadi tak ada alasan untuk menolak lagi. Kirana lalu menatap cincin yang dipakainya di jari manis.
"Semuanya masih seperti mimpi," gumam Kirana dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang dan juga sedih. Ia senang akhirnya bisa bersatu dengan Rendra, namun ia sedih karena tidak ada orang tua yang menemani di hari pernikahannya.
__ADS_1
Setelah cukup lama bergelut dengan pemikirannya, Kirana merasa sudah begitu mengantuk, namun ia merasa haus dan terpaksa turun untuk mengambil minum di dapur.
Semua lampu sudah gelap karena semua orang sudah tidur. Tanpa menyalakan lampu, Kirana langsung masuk ke dapur, namun ternyata ada sosok orang lain yang ada di sana. Dari siluetnya seperti Rendra membuat Kirana tersenyum manis, sejak tadi ia tidak bertegur sapa dengan Rendra karena pria itu sibuk mengurus semua persiapan pernikahan.
"Akhirnya ketemu disini, aku kangen ..." ucap Kirana memeluk Rendra dari belakang, ia menempelkan pipinya di punggung bidang pria itu.
Pria yang di peluk Kirana tampak terkejut hingga menegakkan tubuhnya. Ia melirik tangan mungil yang melingkar di perutnya. Ia kemudian tersenyum sinis.
"Apa ini yang kau sebut dengan cinta? Kau bahkan tidak bisa mengenali calon suamimu sendiri?"
Kirana membulatkan matanya mendengar suara yang bukan merupakan suara Rendra. Ia reflek langsung melepaskan pelukannya dan menjauh. Ia semakin terkejut saat melihat Eril yang menatapnya tajam.
"Eril?" serunya kaget.
"Kenapa harus terkejut? Bukankah kau sengaja ingin menggodaku?" ucap Eril tersenyum sinis, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kirana yang langsung mundur.
"Aku tidak tahu maksudmu! Maaf kalau aku salah," ucap Kirana buru-buru pergi karena takut dengan pria itu.
Eril langsung menahan tangan Kirana lalu mendorong wanita itu hingga membentur tembok.
"Jangan pura-pura polos! Aku pikir kau sudah berubah, ternyata semua ini hanya trik mu untuk mendapatkan Kakak ku kembali," kata Eril memerangkap wanita itu di dinding.
"Kenapa kau selalu menuduhku yang tidak-tidak? Kakak mu yang lebih dulu mengejar ku, kenapa kau tidak terus menyalahkan ku?" ucap Kirana tak tahu kenapa Eril sangat membencinya.
"Cih, kau memang wanita licik. Selamat karena sudah mendapatkan apa yang kau inginkan kan. Tapi ingat! Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi menerima mu sebagai Kakak ku wanita sampah!" bentak Eril entah kenapa tidak bisa menerima Kirana dan melupakan semua perbuatan wanita ini begitu saja.
"Gabriel!" terdengar suara orang dari balik punggung Eril membuat kedua orang itu terkejut.
Eril sendiri langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang, namun begitu ia berbalik, bogem mentah langsung melayang di pipinya. Kirana terkejut melihat Rendra yang tiba-tiba memukul Eril tanpa sebab.
"Rendra?" seru Kirana menebak apakah Rendra mendengar apa yang dikatakan oleh Eril tadi?
Rendra hanya melirik Kirana sekilas, ia lalu menarik kerah baju adiknya kasar.
"Kenapa Kakak memukulku?" tanya Eril mengusap sudut bibirnya yang nyeri.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau katakan pada Kirana?!" bentak Rendra sempat mendengar apa yang dikatakan Adiknya. Tapi ia ia ingin memastikannya lagi.
__ADS_1
"Rendra jangan seperti itu, lepaskan dia," ucap Kirana tak ingin kedua Kakak beradik ini bertengkar, apalagi jika nanti ada yang mendengar.
"Diam!" Rendra ikut membentak Kirana, ia terus menatap Eril tajam.
"Katakan apa yang kau lakukan pada Kirana tadi? Kau menghinanya 'kan?" Rendra yang geram langsung memukul adiknya kembali.
"Selama ini aku percaya padamu, tapi inikah yang kau lakukan padaku? Brengsek!" Tak puas memukul adiknya sekali, Rendra kembali menarik kerah baju adiknya dan memukulnya tanpa ampun.
"Rendra!" Kirana mencoba melerai namun Rendra tak memperdulikannya.
Eril awalnya masih diam saja, namun ia juga tak terima jika di pukuli hanya Kirana. Ia akhirnya balas memukul Kakaknya hingga melepaskannya.
"Ya! Aku memang menghina dia! Wanita ini memang tidak pantas untuk Kakak! Seharusnya wanita ini pergi sejauh mungkin! Kenapa dia harus datang kembali?" teriak Eril tak kalah emosinya.
"Apa maksudmu?" Rendra mengerutkan dahinya sesaat. "Jangan bilang kau orang yang sudah membuat Kirana pergi meninggalkanku?" ucap Rendra menatap Eril tajam.
Eril tampak terkejut, kalau Kakaknya sampai tahu. Ia pasti akan di habisi sekarang juga.
"Aku ..."
"Bukan! Bukan Eril yang menyuruhku pergi, tapi semua itu memang keinginanku sendiri," Kirana langsung menyela sebelum Eril berbicara. Ia tahu apa yang akan terjadi jika Rendra sampai tahu kebenarannya.
"Kau tidak perlu membelanya!" sentak Rendra melirik Kirana tajam.
"Aku tidak membelanya! Aku memang mengatakan yang sebenarnya Rendra. Saat itu aku memang pergi dengan keinginanku sendiri. Tapi untuk apalagi kita membahasnya lagi? Bukankah kita akan menikah besok?" ucap Kirana mencoba mengalihkan Rendra ke hal lain.
"Kau yakin tidak sedang berbohong padaku?" tanya Rendra menyipitkan matanya.
"Semua tergantung padamu, aku akan tidur. Selamat malam," ucap Kirana buru-buru pergi, wajahnya setengah cemberut membuat Rendra merasa bersalah.
"Kiran hei, dengarkan aku dulu ..." Rendra langsung menyusul Kirana begitu saja tanpa memikirkan adiknya yang meringis kesakitan.
Eril rasanya ingin mengumpat kesal karena Kakaknya. Tapi ia masih beruntung karena tidak jadi mendapatkan amukan Kakaknya. Eril heran kenapa Kirana malah menutupinya, apakah pemikirannya selama ini salah?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1