
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Rendra kembali menemui Kirana yang berada di kamarnya. Hari sudah cukup sore dan kapal mereka sudah meninggalkan pelabuhan cukup jauh.
Sesampainya di kamar, Rendra tidak menemukan Kirana ada di sana, suara air yang mengalir menandakan kalau wanita itu pasti sedang mandi. Seraya menunggu, Rendra merebahkan dirinya di kasur untuk merenggangkan otot-ototnya, ia tersenyum manis mengingat kejadian tadi malam. Rendra senang karena akhirnya bisa memiliki Kirana seutuhnya.
Tak beberapa lama, Kirana terlihat keluar kamar mandi dengan menggunakan jas mandinya. Ia hampir saja berteriak karena terkejut melihat sosok pria yang berbaring di ranjang.
"Astaga Rendra! Sejak kapan kau disini?" ujar Kirana seraya mengelus dadanya.
Tak ada sahutan dari Rendra membuat Kirana mengerutkan dahinya. Ia melihat mata pria itu tertutup, apakah dia sedang tidur? pikir Kirana.
"Rendra?" panggilnya lagi namun tidak ada sahutan.
Kirana mendekatkan dirinya, ia ingin memastikan pria itu benar-benar tidur atau tidak. Kirana mencoba menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Rendra, namun pria itu juga tidak terusik.
"Dia beneran udah tidur," gumam Kirana lalu beranjak pergi untuk mengganti bajunya. Namun, begitu dia berbalik, tangannya tiba-tiba ditarik oleh Rendra.
"Akhhhh!!" Kirana berteriak saat tubuhnya terjatuh di atas Rendra. Ia lalu menatap Rendra yang masih memejamkan matanya.
"Rendra! Ih, kau pura-pura tidur?" sungut Kirana mencoba melepaskan dirinya.
"Tidak," sahut Rendra tetap menahan tangan Kirana agar wanita itu tidak beranjak.
"Bohong! Lepasin ah, kau mau apalagi?" ucap Kirana tak nyaman dengan posisi ini, apalagi saat ini dia hanya menggunakan jas mandi tanpa menggunakan apapun didalamnya.
"Aku mau kau diam," ucap Rendra tanpa membuka matanya.
"Tidak mau, aku mau ganti baju dulu," ucap Kirana terus saja bergerak tak nyaman.
"Kalau kau terus bergerak, aku tidak berjanji untuk tidak meniduri mu!" ancam Rendra membuat Kirana langsung diam tidak bergerak.
"Nah, kalau begitu kau sangat manis," ucap Rendra mengulas senyumnya yang manis karena kepatuhan Kirana.
Kirana diam saja, ia terus menatap Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan. Menyadari hal itu, Rendra mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanyanya seraya menyelipkan sulur rambut Kirana kebelakang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," sahut Kirana menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rendra tidak percaya dengan perkataan Kirana.
"Kapan kau akan menikahi ku?" tanya Kirana entah kenapa rasanya enggan sekali melepaskan pria ini. Bukan karena dia telah menyerahkan dirinya atau apa, namun Kirana merasa jika dia memang tidak bisa hidup tanpa Rendra.
"Setelah kau mengatakan siap, aku pasti akan menikahi mu," ucap Rendra tanpa ragu.
"Bagaimana-"
"Keluargaku? Aku tidak memperdulikan mereka, semua tergantung kau Kiran, kau ingin menikah hari ini, besok, kapan pun aku pasti siap," Rendra langsung menyela cepat, ia tak peduli apapun lagi, hatinya sudah sangat yakin dengan pilihannya.
"Ya tidak besok juga, aku hanya takut, kita akan berpisah lagi," ucap Kiran memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah halus Rendra.
"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita selain kematian, Kiran. Aku akan menjadi milikmu selamanya," ucap Rendra menyakinkan Kirana dengan nada suaranya dengan tegas.
Mata Kirana berkaca-kaca mendengarnya, hatinya terasa begitu sejuk saat Rendra mengatakan hal itu.
"Aku mencintaimu Rendra, sekarang, esok dan selamanya," ucap Kirana lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rendra.
Perlahan-lahan ia membalikkan posisi mereka hingga Kirana berada di bawahnya tanpa melepas tautan bibir mereka. Tangannya bergerak aktif membuka ikatan handuk kimono yang di pakai Kirana.
"Ah, Rendra ..." Kirana menggenggam sprei di bawahnya erat untuk meluapkan rasa yang dibuat Rendra. Ini adalah dosa, namun Kirana tidak pernah menyesal melakukannya.
Dengan ditemani senja di langit sore, Rendra kembali mengayunkan tubuhnya di atas Kirana. Tak ingin tergesa-gesa, bergerak perlahan menciptakan momen syahdu berbalut gairah dan mengungkapkan cinta yang sangat indah.
*****
Malam harinya, Kirana sudah tampil cantik dengan balutan dress berwarna hitam yang begitu cantik membalut tubuh rampingnya. Ia tampak masih sibuk mengaplikasikan make up di sekitar lehernya untuk menutupi kissmark yang dibuat Rendra.
"Kok nggak bisa sih," gerutu Kirana mulai kesal karena tanda merah itu tidak hilang juga.
"Kiran, apakah sudah selesai?" Rendra masuk kedalam kamar menggunakan kemeja santainya yang berwarna putih.
Malam ini adalah malam tahun baru, Rendra membuat pesta kecil bersama para kru kapal dan juga pengawalnya. Rendra ingin malam tahun baru kali ini menjadi momen yang sangat spesial untuknya.
__ADS_1
"Belum, ini nggak bisa di tutupin, gimana dong?" ucap Kirana menunjukan lehernya yang penuh bekas merah.
Rendra mengerutkan dahinya, ia melihat stempel cinta yang dibuatnya tadi sore. Warnanya masih terlihat cerah karena masih baru, jadi susah untuk ditutupi.
"Biarkan saja seperti itu," ucap Rendra tersenyum bangga dengan mahakarya yang dibuatnya.
"Biarin gimana, aku malu ah," gerutu Kirana malah semakin sebal karena Rendra sama sekali tidak memberinya masukan.
"Malu kenapa? Ini adalah tanda cinta dariku, kau tidak boleh menutupinya. Biarkan semua orang tahu kalau kau adalah milikku," ucap Rendra kali ini dengan nada seriusnya.
"Dasar Tuan posesif!" celetuk Kirana mau tak mau menuruti keinginan Rendra.
"Ya, memang itulah caraku," sahut Rendra cuek seperti biasa.
Kirana hanya diam saja, sepertinya sekarang ia harus membiasakan dirinya dengan keposesifan Rendra padanya. Lagipula Kirana tahu kalau Rendra mencintainya, makanya dia bersikap seperti itu.
Setelah merapikan sedikit penampilannya, Rendra mengajak Kirana keluar kamar menuju deck kapal yang lokasinya di paling ujung. Begitu sampai di sana, Kirana tercengang melihat tempat itu yang sudah dihias dengan sangat indah.
"Wow! Rendra, ini bagus sekali ..." ucap Kirana berdecak kagum melihat bagaimana indahnya dekorasi tempat itu.
Lampu-lampu tumbler yang diletakkan disepanjang pinggiran kapal, lalu bunga hiasan yang juga terlihat sangat cantik. Di ujung bagian depan, terlihat meja makan kecil yang sudah dihias begitu cantik. Di sana juga ada beberapa karyawan Rendra yang tersenyum menyambut Kirana.
"Rendra ini ..." Kirana rasanya tak sanggup berkata-kata lagi.
"Kemari," ucap Rendra menggandeng tangan Kirana.
Kirana menurut mengikuti Rendra, namun saat baru saja melangkah, seorang pelayan memberinya satu tangai mawar merah.
"Eh? Terima kasih," ucap Kirana tersenyum kikuk seraya menerima bunga itu.
Hal itu terus terulang di setiap langkah Kirana. Jadi, begitu ia sampai di ujung, tangannya sudah penuh dengan bunga mawar merah yang begitu cantik. Kirana tak tahu harus bersikap bagaimana, antara senang namun juga terharu dengan kejutan yang Rendra berikan.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1