
"Rendra …"
Semua orang terkejut melihat kedatangan Rendra bersama seorang wanita. Saat ini semua pasang mata tampak menatap Kirana tanpa ditutupi lagi. Apalagi Yolan yang menatap Kirana dari atas sampai bawah. Mencoba mencari hal yang sekiranya bisa dikritik oleh dirinya, namun sialnya malam itu Kirana tampil sangat cantik dan elegan.
"Apa yang tidak benar?" Rendra mengulangi pertanyaan yang sama dengan pandangan lurus ke arah Yolan.
"Ehm, Rendra. Kalian sudah datang, ayo ajak teman kamu masuk dulu," ucap Bella menengahi situasi ini, ia tak akan membiarkan tamu yang dibawa Rendra melihat apa yang akan terjadi nantinya.
"Teman siapa, Ma? Dia bukan temanku," kata Rendra melirik Kirana yang sejak tadi gugup karena menjadi pusat perhatian. Apalagi ia tahu kalau saat ini sepertinya kondisinya sangat tidak tepat.
"Lalu dia siapa?" Yolan tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya, terlalu penasaran dengan wanita yang di bawa Rendra.
Rendra melirik Yolan sekilas, ia lalu mengulas senyum tipisnya. Rendra mengulurkan tangannya kepada Kirana. Meski tak begitu mengerti apa yang diinginkan Rendra, ia tetap menyambut uluran tangan itu.
"Mungkin dari kalian memang belum mengenal dia, sekarang aku akan mengenalkannya kepada kalian. Namanya Kirana, dia calon istriku," ucap Rendra merangkul bahu Kirana dengan bangga.
Semua orang tentu saja terkejut mendengar pengakuan itu, terutama keluarga Yolan. Mereka tampak terkejut namun juga kesal secara bersamaan. Berbeda dengan Bella yang mengulas senyum tipisnya, merasa puas karena sudah melihat calon istri putranya.
"Calon istri? Apa kau bercanda Rendra? Lalu kau anggap apa putriku selama ini?" sergah Papa Yolan kesal karena merasa anaknya dipermainkan.
"Kenapa Paman bertanya kepada Saya? Memangnya apa hubungan kami sebelumnya?" ucap Rendra tenang.
"Oh, jadi setelah mendapatkan putri kami, sekarang kau akan seenaknya membuang dia begitu saja? Apa kau lupa Rendra? Seluruh negeri ini bahkan tahu kalau kau dan Yolan mempunyai hubungan," tukas Salma tak terima jika Rendra akan menikah dengan wanita lain, bukan dengan putrinya.
Rendra terlihat ingin angkat bicara, tapi Axel mengangkat tangannya, pertanda meminta pria itu untuk diam.
__ADS_1
"Gwi, kamu bawa Kirana ke dalam," perintah Axel kepada putrinya, ia merasa tak efisien jika membicarakan hal seperti ini jika ada Kirana.
"Baik, Pa" Gwiyomi mengangguk patuh. Ia segera menghampiri Kirana yang terlihat kebingungan itu.
Rendra menggenggam tangan Kirana lembut, tahu jika wanitanya ini pasti takut dan juga kebingungan.
"Tidak apa-apa, ikutlah bersama Gwi, aku akan menyelesaikan ini sebentar," ucapnya dengan nada lembut. Bagi orang yang mendengar suara Rendra, pasti sangat heran karena Rendra tak pernah berbicara dengan nada seperti itu sebelumnya.
"Ayo, Kak" ucap Gwiyomi.
Kirana menggigit bibirnya, ia menatap Rendra ragu. Tapi melihat sorot mata yang sangat meyakinkan itu membuat ketakutannya perlahan mereda.
"Aku pergi dulu," ucapnya pada Rendra sebelum meninggalkan ruangan itu.
Rendra tersenyum sedikit, ia memastikan Kirana sampai benar-benar tak terlihat lalu duduk bergabung bersama Papa dan Mamanya.
"Tanggung jawab apa yang Anda katakan? Saya tidak pernah melakukan apapun ada Yolan, bukankah seperti itu Yolan?" ucap Rendra menatap Yolan tajam, ia tak menyangka jika wanita itu begitu licik.
Yolan langsung gelagapan, ia selalu tak bisa berkutik jika Rendra sudah menatapnya seperti itu.
"Aku …"
"Jangan menatap putriku seperti itu," tukas Salma melirik Rendra kesal. "Kau membuatnya takut," ucapnya lagi.
"Kenapa harus takut? Aku hanya ingin mendengar sendiri semua yang terjadi antara kita berdua. Seharusnya dia yang lebih tahu tentang hal itu, bagaimana Yolan? Apakah aku harus mengatakannya kepada orang tuamu, apa yang kau lakukan kemarin malam?" ucap Rendra terdengar santai, namun bagi Yolan hal itu merupakan sebuah ancaman tersirat dari Rendra.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Kau mengancam putriku?" ucap Papa Yolan geram.
"Tidak, aku hanya ingin membuat kalian berdua mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Paman dan Bibi seharusnya sudah sangat tahu bagaimana hubungan kami berdua, kami dekat karena hubungan kalian baik dengan keluarga kami, sudah itu saja, tak lebih dari itu. Aku tidak pernah mencintai Yolan atau berpikir akan memiliki hubungan dengan dia," ucap Rendra tahu jika ucapannya ini sangat kejam, tapi ia orang yang tak suka basa-basi, lebih baik menyakiti sekarang daripada memberi harapan yang tentunya akan sama menyakitkannya jika ia tak bisa memenuhinya.
"Kau!" Salma terlihat masih ingin angkat bicara, tapi Yolan segera menahan tangannya.
"Cukup, Ma. Cukup!" ucap Yolan menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, pengakuan Rendra sungguh sangat menyakitkan. Bahkan lebih sakit daripada penolakan Rendra kemarin malam.
"Kenapa, nak? Kau ingin membela dia? Gara-gara berita yang tersebar, semua pria jadi tidak ingin mendekati putriku, hidupnya jadi terancam sewaktu-waktu. Tapi inikah balasan kalian kepada putri kami? Bella, kenapa putramu bisa bersikap begitu kejam?" ucap Salma memeluk putrinya yang menangis, ia sengaja mendramatisir keadaan untuk menarik simpati mereka.
Bella menggigit bibirnya, sebagai seorang wanita pasti memahami apa yang dirasakan Yolan saat ini. Tapi semua ini juga tidak bisa diteruskan karena putranya tak mencintai Yolan.
"Salma, maafkan putraku, tapi kau pasti tahu kalau cinta itu bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Aku yakin Yolan pasti bisa menemukan pria yang lebih baik dari Rendra nantinya," ucap Bella berusaha berkata sehalus mungkin agar tak menyakiti Yolan.
Tapi hal itu justru sangat menyakiti keluarga Yolan terutama sang Ayah. Ia langsung bangkit dari duduknya dan menatap keluarga Axel dengan penuh kebencian.
"Sudah cukup! Sudah cukup kami bersabar kali ini, memang benar apa yang dikatakan oleh orang, sekalinya orang arogan akan tetap menjadi orang arogan sampai kapanpun. Yolan! Ayo kita pulang, kita tidak butuh keluarga arogan ini!" ucap Ayah Yolan merasa sangat marah karena sudah dipermalukan oleh keluarga Rendra.
"Tuan Roland, tolong jangan terbawa emosi, ini semua benar-benar yang terbaik untuk anak kita," kata Bella menatap Axel, berharap suaminya itu akan membantunya. Bella sungguh tak ingin membuat hubungan antara keluarga mereka jadi rusak gara-gara masalah ini.
Axel hanya diam saja, ia ingin melihat sejauh mana Roland akan bertindak.
"Cih, terbaik katamu? Ini memang terbaik, tapi hanya untuk putramu! Nama putriku sudah tercemar gara-gara keluarga kalian!" sergah Roland berapi-api.
"Roland Maldives, aku harap kau tidak melupakan satu hal siapa yang sedang kau ajak bersinggungan saat ini. Kau mengatakan nama putrimu hancur karena putraku? Apakah kau yakin? Setahuku gara-gara putraku butik yang dibangun oleh putrimu menjadi terkenal, apakah ini yang kau sebut kehancuran Roland?" Axel ikut bicara dengan suaranya yang datar dan dingin, pun dengan tatapan matanya yang seolah bisa menghunus jantung Roland.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.