Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 61.


__ADS_3

Semua orang panik melihat Bella yang tiba-tiba pingsan. Axel setengah melompat dari duduknya untuk menangkap istrinya.


"Mama!" teriak Rendra dan Eril hampir bersamaan.


"Cepat siapkan mobil!" perintah Axel bergegas menggendong istrinya.


Eril mengangguk ia segera berlari keluar untuk menyiapkan mobilnya. Rendra juga langsung sibuk menghubungi pihak rumah sakit agar saat Bella datang nanti semuanya sudah siap.


Kirana pun ikut panik melihat Bella yang tiba-tiba pingsan, ia hanya diam menatap semua orang yang tampak sangat sibuk.


"Kakak, ada apa ini?" tanya Gwiyomi ikut bingung.


"Mama pingsan, sekarang mau di bawa ke rumah sakit," Rendra menjelaskan singkat.


"Mama pingsan? Bagaimana bisa? Aku harus melihatnya," kata Gwiyomi terkejut mendengarnya, ia segera berlari untuk mengejar Mamanya.


"Gwi, kamu di rumah saja. Kakak yang akan kesana," kata Rendra mencegah Adiknya yang ingin pergi.


"Tapi Kak …" Gwiyomi terlihat tak rela.


"Nanti Kakak akan mengabari mu, tetaplah di rumah," kata Rendra mencoba memberi pengertian pada adiknya. Ia lalu menghampiri Kirana yang menatapnya sejak tadi.


"Rendra, aku …" Kirana ingin mengatakan kalau ia ingin ikut ke rumah sakit, tapi Rendra menggelengkan kepalanya.


"Kamu pulang dulu di antar supir, Mama pasti baik-baik saja,"ucap Rendra bukan tak ingin Kirana datang melihat Mamanya. Ia hanya merasa saat ini keadaannya belum memungkinkan.


Kirana mengigit bibirnya, ia sangat mengerti apa alasan Rendra melarangnya datang. Ia juga tak bisa egois karena Bella begini juga karena dirinya.


"Baiklah, aku akan pulang, nanti tolong kabari aku tentang keadaan Mama," pinta Kirana menatap Rendra sendu.


"Aku pasti mengabari mu, ayo" kata Rendra menggandeng tangan Kirana agar di antarkan supirnya.


"Aku pulang," ucap Kirana tak bisa melepaskan tatapan matanya dari Rendra.


"Ya, jangan berpikir macam-macam. Tetaplah percaya padaku, semua akan baik-baik saja," ucap Rendra mencium kening Kirana dalam-dalam sebelum wanita itu pergi.


Kirana mengangguk-angguk saja, ia sangat berharap kalau semuanya memang akan baik-baik saja.


******

__ADS_1


"Bagaimana keadaan, Mama?"


Begitu sampai di rumah sakit, Rendra langsung menemui Papa dan Eril di ruang IGD. Raut wajahnya sangat khawatir memikirkan keadaan Mamanya.


"Kenapa Kakak bertanya? Seharusnya Kakak yang lebih tahu apa yang akan terjadi jika kau membawa wanita itu," celetuk Eril masih mengeraskan hatinya. Sekarang justru ia semakin membenci Kirana karena wanita itu yang sudah membuat Mamanya seperti ini.


"Kau!" Rendra mengetatkan rahangnya, tak terima Eril masih saja menyalahkan Kirana.


"Bisakah kalian tidak bertengkar disini? Ini rumah sakit," sergah Axel menatap kedua putranya tajam.


Rendra dan Eril langsung bungkam, mereka sama-sama menatap pintu ruangan Bella dengan pikirannya masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Bella keluar.


"Bagaimana, Dok?"


Tiga orang bertanya hampir bersamaan dan bangkit dari duduknya, ingin secepatnya tahu keadaan wanita terpenting dalam hidup mereka itu.


"Pasien mengalami serangan jantung ringan, saat ini kondisinya mulai stabil. Tapi tolong untuk tidak memberikan sesuatu hal yang akan membebani pikiran beliau," ucap Dokter menjelaskan.


"Lalu bagaimana keadaan Mama saya sekarang, Dok?" tanya Rendra sangat mencemaskan Mamanya.


"Pasien sudah sadar, silahkan jika ingin melihat," ucap Dokter lagi.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada Dokter, Axel segera masuk diikuti oleh kedua putranya. Ia melihat istrinya yang terbaring lemah di ranjang.


"Bella …" panggilnya seraya menggenggam lembut tangan istrinya.


"By …" sahut Bella lemah, ia menatap semua orang yang berada disana bergantian.


Saat matanya bersitatap dengan Rendra, seketika saja air matanya menggenang di sudut mata. Ia kembali mengingat apa yang baru saja di alaminya.


"Ma, Mama apa kabar Ma?" tanya Rendra mendekat di sisi lain Bella, ia juga menggenggam lembut tangan Mamanya yang terasa dingin.


"Mama capek, ingin istirahat," kata Bella menarik tangannya yang di pegang Rendra. Ia bukannya marah kepada Rendra, ia hanya masih belum menerima jika Rendra benar-benar mempunyai hubungan dengan wanita itu.


"Ma …" Rendra menatap Mamanya sendu, hatinya sakit karena penolakan ini.


"By, aku mau tidur. Tolong suruh anak-anak pulang," kata Bella hanya menatap Axel, ia tak ingin berlama-lama menatap anaknya.


"Ya, kamu tidur aja. Aku akan keluar sebentar," ucap Axel mengerti kalau istrinya ini masih belum bisa menerima semua kenyataan yang baru saja di dengarnya.

__ADS_1


Axel memberikan gestur kepada kedua putranya untuk pergi terlebih dulu.  Eril dan Rendra pun mengerti, mereka memberikan ciuman wajibnya terlebih dulu sebelum benar-benar pergi.


"Aku pulang dulu Ma, cepat sembuh. Rendra sayang, Mama" ucap Rendra mencium kening Bella sebentar lalu pergi.


Bella mengigit bibirnya kuat-kuat, apakah ia egois jika menginginkan yang terbaik untuk putranya. Jika masalah sosial atau masa lalu, Bella memang bisa memaafkannya. Tapi Kirana merupakan orang yang benar-benar sudah membuat kesalahan yang cukup fatal. Apalagi ia tahu saat kejadian putrinya tertembak saat itu juga ada sangkut pautnya dengan Kirana.


*****


Rendra dan Eril kini berdiri di ruang kerja Papanya dengan tatapan yang tak lepas saling memandang. Rendra sengaja ingin mengajak adiknya itu berbicara empat mata tanpa sepengatahuan siapapun.


"Kenapa kau mengatakannya pada Mama?" ucap Rendra mengawali percakapan.


"Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar," sahut Eril singkat.


"Tapi semua yang kau katakan itu membuat semuanya kacau. Kenapa kau harus membenci Kirana, kau tahu sendiri kalau dia hanya korban dari Maxi," sergah Rendra.


"Siapa yang tahu? Papaku selalu mengajarkan padaku untuk selalu berhati-hati kepada seorang pengkhianat. Dan wanita itu adalah salah satu orang yang harus kita hindari jauh-jauh," tukas Eril tak terpengaruh oleh kekesalan Kakaknya.


"Aku tidak peduli, aku akan tetap menikahi Kirana meskipun kalian semua tidak setuju," kata Rendra tegas.


Eril tersenyum sinis. "Wanita itu memang sangat hebat, entah sihir apa yang dia gunakan sampai membuat Kakak berani melawan Mama seperti ini," kata Eril menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jangan salahkan Kirana, aku yang lebih dulu mengejarnya, aku mencintainya," ucap Rendra tak ingin adiknya ini terus menyalahkan Kirana. Bagaimanapun juga, dialah yang memang menginginkan Kirana.


"Aku tahu Kakak mencintainya. Tapi setidaknya pikirkan sekali lagi niat Kakak untuk menikahinya. Masih banyak wanita yang lebih baik dari wanita itu," kata Eril lagi.


"Menurutku dia wanita yang terbaik," kata Rendra memandang adiknya serius.


"Wanita baik? Apa Kakak buta? Dia jelas-jelas bekas wanita Maxi. Kita semua tahu bagaimana Maxi, dia pria yang suka di kelilingi oleh wanita. Sekarang aku malah curiga kalau sebenarnya Kirana bukan korban disini, bisa saja dia sengaja menggoda Maxi untuk memanjat status sosial …"


Ucapan Eril langsung terputus begitu saja saat tiba-tiba Rendra merangsek maju dan menghantam wajah adiknya hingga bibirnya robek.


"Jaga bicaramu jika membiacarakan wanitaku!" teriak Rendra sangat murka, mungkin dia hanya diam jika Eril mengatakan kalau Kirana seorang pengkhianat, tapi ia tak akan membiarkan siapapun menghina harga diri Kirana.


"Aku mengatakan yang sebenarnya! Sadarlah Kak!" teriak Eril balas memukul Kakaknya. Ia juga tak terima Kakak yang tidak pernah memukulnya dari kecil ini bisa berbuat seperti ini hanya karena membela wanita tidak jelas itu.


"Kau tidak tahu apapun tentang dia!" bentak Rendra ingin menghajar adiknya kembali tapi Gwiyomi sudah lebih dulu datang untuk melerai mereka. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin akan terjadi pertumpahan darah antar saudara itu.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2