Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 69.


__ADS_3

"Kiran, tamunya udah datang, kamu langsung aja siapkan makan malamnya. Orangnya agak rewel, ingat jangan buat kesalahan,"


Kirana langsung bergerak cepat begitu mendapatkan perintah langsung dari atasannya. Ia benar-benar harus memilih makanan yang sekiranya disukai oleh tamu tersebut. Jika sedikit saja ia membuat kesalahan, maka bisa saja riwayatnya akan tamat hari itu juga. Tapi jika ia berhasil membuat tamu berkesan maka bonusnya akan lumayan besar.


"Sekarang udah jam enam, kayaknya aku langsung antar saja makanannya sekarang," gumam Kirana mendorong troli berisi makanan yang sudah disiapkan.


Kamar yang di pesan oleh tamu merupakan kamar suite yang letaknya dilantai paling atas. Di sana hanya ada satu kamar di lantai khusus. Kirana yang sudah tahu akan tugasnya langsung saja masuk, ia menata makanan-makanan itu di meja makan.


Di kamar itu memang bukan terdiri dari kamar saja, namun juga ada pantry, ruang khusus untuk SPA dan juga ruang tengah. Setelah menyiapkan makanan itu, Kirana harus menunggu sampai tamu keluar agar ia tahu apakah tamu itu suka masakannya atau tidak.


Hampir satu jam lebih Kirana menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda tamu itu akan keluar dari kamarnya membuat Kirana memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok tok.


"Tuan, Nyonya, permisi ..." ucap Kirana sedikit berteriak karena ruangan itu kedap suara.


Tak ada sahutan membuat Kirana terus mengetuk pintu kamar itu. Ia cukup jengkel jika ada tamu yang seolah mengabaikan makan malam, giliran nanti kalau pegawai yang terlambat, justru akan marah-marah tidak jelas.


"Halo ... Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap," ucap Kirana sekali lagi mengetuk pintu kamar itu dengan ekspresi wajahnya yang malas.


"Tu ..."


Ceklek


Kirana baru saja membuka mulutnya ingin berteriak memanggil, tapi pintu kamar sudah lebih dulu terbuka. Kirana bersiap memasang senyum terbaiknya untuk menyambut tamunya, namun matanya justru terbelalak lebar demi melihat siapa orang yang berdiri di depannya.


"Rendra?" ucap Kirana spontan. Bagaimana mungkin ia tak terkejut saat bisa melihat kembali pria yang sudah ditinggalkannya selama enam bulan.


Rendra juga sangat terkejut sebenarnya, tapi ia bisa mengontrol ekspresi wajahnya dengan ekspresi dingin. Tatapan tajam menusuk itu terus ia berikan kepada Kirana.


Kirana tampak sangat gugup sekali saat melihat tatapan mata Rendra. Jantungnya saja kini sudah berlompatan ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Menyingkir Lah, kau menghalangi jalanku!" ucap Rendra datar dan sangat dingin.


Kirana kembali terkejut, ia kembali menatap Rendra dengan tatapan sendunya. Ia mecoba mencari dimana tatapan penuh cinta yang selalu pria ini dia berikan, namun sayangnya tidak ada. Hanya tatapan dingin seolah Rendra tak pernah mengenalinya. Sangat dingin, sedingin gunung es.


"Apa kau tidak mengerti perkataan manusia?" sergah Rendra kembali saat melihat Kirana hanya diam saja.


"Maaf," Kirana menundukkan wajahnya dan menyingkir dari hadapan Rendra untuk memberi pria itu jalan.


Rendra sendiri sengaja mengabaikan Kirana, ia tidak mau wanita itu berpikir jika ia masih memiliki perasaan yang sama seperti enam bulan yang lalu. Meski itu artinya ia harus membohongi diri sendiri, tapi itu yang terbaik menurutnya. Toh, mereka berdua memang tidak punya hubungan apapun saat ini.


"Apa kau akan terus berdiam diri di sana?" Rendra kembali berucap saat melihat Kirana hanya berdiri mematung di tempatnya tadi.


"Iya Tuan," ucap Kirana menghela nafas dalam-dalam. Ia tidak boleh sedih seperti ini, bukankah ia yang memilih meninggalkan Rendra dulu.


Kirana mencoba bersikap biasa saja, mengambil piring dan sendok untuk Rendra lalu menyiapkan makan malamnya. Jika Rendra sudah melupakannya, ia juga harus belajar melupakan pria itu.


"Makanan apa ini?" tanya Rendra mengerutkan dahinya.


"Aku tidak suka makanan ini, ini makanan berlemak. Apa kau tidak membaca apa saja hal yang aku sukai dan tidak aku sukai?" tukas Rendra sebelum Kirana menyelesaikan ucapannya.


"Semua makanan ini tidak berlemak Tuan, porsi sayuran dan protein yang dimasak sudah sesuai takaran. Jadi, makanan ini sehat untuk Anda," ujar Kirana menjelaskan.


"Tetap saja aku tidak suka, ganti saja yang lain." Ujar Rendra mendorong piring itu menjauh. Ekspresi wajahnya terlihat tidak berselera sama sekali dengan makanan itu.


"Tapi Tuan, setidaknya coba dulu," kata Kirana sedikit memaksa, jika makanan ini harus di ganti, ia pasti yang akan kena.


"Kalau kau tidak menggantinya, aku sendiri yang akan meminta manager disini untuk mengganti makanannya." Kata Rendra mengambil ponselnya untuk menghubungi Manager hotel.


Kirana langsung panik, jika sampai Rendra mengadukan hal yang tidak-tidak, pasti ia yang akan kena.


"Tunggu dulu, Tuan" Kirana reflek langsung menahan tangan Rendra saat sebelum pria itu menghubungi Manager.

__ADS_1


Rendra mengangkat alisnya, ia melihat tangan Kirana yang menyentuh lengannya. Menyadari hal itu, Kirana sendiri langsung melepaskannya.


"Maaf," ucap Kirana tersenyum kikuk.


"Kenapa kau melarang ku? Bukankah kau tidak mau membuatkannya lagi?" ucap Rendra sengaja mempermainkan Kirana.


"Bukan seperti itu, Tuan. Saya akan membuatkan lagi makan malam untuk Anda," kata Kirana tak bisa berkutik rasanya.


"Baguslah, aku ingin kau memasak sendiri makan malam untukku," kata Rendra tersenyum licik.


"Baik, Anda mau di masakan apa, Tuan?" tanya Kirana tak keberatan jika harus memasak.


"Kau sangat tahu apa yang aku suka," kata Rendra kali ini menatap lurus mata Kirana.


Kirana sendiri seolah terhipnotis untuk ikut menatap mata Rendra. Bisa melihat kembali wajah tampan itu, entah kenapa matanya berkaca-kaca, ternyata ada rasa rindu yang tiba-tiba mengusik di rongga dada.


"Aku memberimu waktu 30 menit, makanan itu harus siap disini," kata Rendra lebih dulu memutus kontak mata itu. Ia juga merasa hatinya mulai gelisah jika terus menatap Kirana.


"Baik, aku akan menyiapkannya dulu," kata Kirana mengulas senyum tipis, namun begitu berbalik air matanya sudah keluar tanpa bisa dicegah.


"Kau sendiri yang memilih untuk pergi, jadi jangan pernah menangisi keputusan yang kau buat sendiri." Tiba-tiba Rendra berucap sebelum Kirana benar-benar pergi dari sana.


Kirana yang mendengar hal itu mengigit bibirnya kuat-kuat. Ini memang keputusannya, tapi andai saja Rendra tahu apa alasannya pergi, apakah pria itu akan mengatakan hal yang sama?


"Aku tau, terima kasih sudah mengingatkanku. Aku permisi dulu," kata Kirana dengan suara tercekat. Nyatanya sakitnya lebih berkali ribu lebih sakit dari yang Kirana bayangkan.


Kalau saja waktu bisa di putar kembali, Kirana tidak ingin bertemu dengan Maxi. Dia tidak ingin melakukan kebodohan dengan mau menjebak Rendra, dan pastinya ia tak akan jatuh cinta terlalu dalam seperti ini.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2