
"Kenapa datang sepagi ini? Kamu udah sarapan?" kata Rendra mengajak Gwi untuk ke meja makan yang masih ada Kirana berdiri disana.
"Belum, mau sarapan bareng aja" kata Gwiyomi dengan manja kepada kakaknya, dalam hatinya ia terkikik geli saat melihat ekspresi wajah Kirana.
"Baiklah, sarapan dulu, nanti kakak antar ke kampus sekalian" kata Rendra sedikit menekuk wajahnya saat begitu banyaknya makanan di meja, ia lalu melihat Kirana yang masih berdiri disana.
"Kau yang masak ini semua?" tanya Rendra.
"Benar Tuan, selamat sarapan Tuan, Nona, saya permisi dulu" kata Kirana merasa tak kuat jika terus menerus melihat kemesraan mereka.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" kata Rendra menatap Kirana tajam.
"Emmmmm....." Kirana menatap Rendra bingung.
"Diam di tempatmu sebelum aku selesai mencoba makanan ini" kata Rendra duduk untuk memulai sarapannya.
Gwiyomi yang melihat tingkah kakaknya itu tersenyum geli, ia sudah sangat mengenal kakaknya, ia tak akan mudah berbicara panjang dengan seorang wanita, jadi kemungkinan besar pemikiran dirinya tentang kakaknya itu benar.
"Aku mau juga dong... ambilin yah" kata Gwi kembali bertingkah manja sengaja untuk memanasi Kirana.
"Dasar manja" kata Rendra mencubit gemas pipi adiknya. Ia mengambilkan nasi putih dan juga lauk untuk Gwiyomi.
"Jangan banyak-banyak, aku takut gendut" kata Gwiyomi.
"Itu malah bagus" kata Rendra lagi.
"Enggak ah, nanti kalau gendut aku nggak cantik lagi" kata Gwiyomi cemberut, bahkan cemberut saja masih sangat cantik.
"Kau tetap wanita paling cantik selain Mama" kata Rendra membuat Gwiyomi tersenyum simpul, sudah tau jika Kakaknya akan mengatakan hal itu.
Kirana sedikit kesal karena Rendra memintanya menunggunya disana, apakah pria itu sengaja ingin pamer kemesraan padanya. Tapi kenapa dia harus tak senang saat melihat mereka, toh mereka berdua pasangan yang sangat cocok. Yang pria sangat tampan dan wanitanya pun begitu cantik, wanita seperti itulah yang memang pantas untuk orang seperti Rendra.
*****
Setelah menyaksikan kemesraan Rendra dan Gwiyomi, Kirana langsung kembali ke belakang karena kedua orang itu juga sudah pergi. Pikiran Kirana terus dijejali oleh pemandangan itu membuat dia kesal sendiri.
"Kiran! Ya ampun, aku panggil-panggil daritadi nggak nyaut ternyata malah ngelamun disini" kata Sella menghampiri Kirana.
"Ada apa Sella?" kata Kirana.
__ADS_1
"Kamu dipanggil sama Tuan Rendra, buruan" kata Sella lagi.
Kirana mengerutkan dahinya, kenapa Rendra kembali lagi seingatnya tadi pria itu sudah pergi. Tapi ia segera pergi untuk menemui Rendra karena tak ingin membuat pria itu menunggu.
"Tuan memanggil saya?" kata Kirana menemui Rendra di ruang tengah.
"Bersiaplah, setelah ini aku akan mengajakmu pergi" kata Rendra singkat.
"Pergi kemana Tuan?" kata Kirana kaget.
"Jangan banyak bertanya, aku memberimu waktu sepuluh menit, aku tunggu di mobil" kata Rendra langsung pergi begitu saja membuat Kirana gelagapan.
Kirana langsung berlari ke kamarnya, ia membuka lemarinya untuk mencari baju yang bagus, tapi semua bajunya biasa saja karena itu semua juga pemberian dari Sella.
"Aduh, aku mau pakai baju apa dong" gumam bingung sendiri.
Tapi ia ingat kalau Rendra hanya memberinya waktu sepuluh menit, Kirana mengambil baju yang lumayan bagus dan segera memakainya. Ia juga merapikan sedikit rambutnya dengan memakaikan bandu agar tidak terlalu berantakan.
Setelah semuanya siap, ia segera keluar untuk menemui Rendra yang sudah menunggunya di mobil. Rendra yang melihat kedatangan Kirana langsung menoleh, pandangannya menyapu keseluruhan penampilan Kirana itu, kenapa memakai baju seperti ini, pikirknya.
"Kau terlambat dua menit" kata Rendra ketika Kirana sampai di mobilnya.
"Masuklah" kata Rendra menggeser tubuhnya agar Kirana masuk, tapi Kirana malah ingin duduk di depan.
"Kau mau kemana?" kata Rendra menatap Kirana tajam.
"Saya akan duduk di depan Tuan" kata Kirana tau diri untuk tidak duduk di samping Rendra.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di depan! Cepat masuk" kata Rendra sedikit kesal karena Kirana tak ingin duduk disampingnya.
"Eh?" Lagi-lagi Kirana kaget dengan tingkah Rendra.
Tak ingin membuat mood Rendra buruk, Kirana langsung masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Rendra. Sebisa mungkin ia duduk dengan posisi jauh dari Rendra.
Rendra hanya melirik malas, ia segera menyuruh supirnya untuk melajukan mobilnya. Sepanjang perjalananan itu, tak ada yang saling bicara, mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Kirana juga hanya diam menatap jendela mobill, dalam hatinya ia merasa senang karena bisa melihat kembali indahnya dunia ini, tidak terus menerus terkurung didalam rumah.
Mobil Rendra perlahan memasuki sebuah bangunan yang tampak cukup besar, terdiri dari tiga lantai dengan desain yang klasik.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Tuan?" tanya Kirana.
Rendra tak menyahut, ia langsung saja turun dari mobilnya. Kirana segera mengikuti Rendra yang langsung masuk kedalam tempat itu. Ternyata sebuah butik baju yang cukup ramai.
"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" kata pelayan toko itu menyambut kedatangan mereka.
"Aku ingin bertemu Syalome" kata Rendra lagi.
"Mohon maaf, apakah anda sudah membuat janji?" kata Pelayan itu tersenyum manis untuk pria tampan didepannya ini.
"Katakan saja Rendra datang, dia sudah tau" kata Rendra lagi.
"Baiklah Tuan Rendra, saya panggilkan sebentar" kata Pelayan itu beranjak pergi.
Rendra segera duduk di sofa tunggu disana dan membuka ponselnya, tak perduli Kirana yang kebingungan ingin duduk atau tidak. Lagipula jika capek, dia pasti akan duduk, pikirnya.
"Tuan Rendra, anda diminta langsung kelantai dua" kata Pelayan datang menghampiri Rendra.
"Baiklah, ayo" kata Rendra memberikan gesturnya kepada Kirana untuk mengikutinya naik ke lantai atas.
Disana adalah ruangan untuk salon dengan peralatan yang sangat lengkap. Rendra mengajak Kirana menemui seorang pria gemulai yang tampak sudah menunggu di kursinya.
"Ya ampun, jadi kau benar-benar datang? Katakan! Apa yang membuat pria sibuk ini mendatangiku" kata pria itu dengan suaranya yang dibuat-buat seperti wanita.
Rendra menghela nafasnya, sebenarnya dia malas sekali untuk bertemu dengan orang ini, tapi mau bagaimana? Dia butuh juga.
"Aku ingin kau mendandaninya, apakah kau sanggup?" kata Rendra melirik Kirana yang berdiri dibelakangnya. Ia harus menggeser tubuhnya yang tegap agar Syalome melihat Kirana.
"Astaga? Darimana kau mendapatkan wanita secantik ini?" kata Syalome menutup mulutnya kaget saat melihat Kirana, gayanya tampak berlebihan dan lucu.
Kirana sedikit tersenyum melihat gaya Syalome itu. Sedangkan Rendra hany meliriknya malas.
"Bagaimana? apakah kau sanggup?" kata Rendra lagi.
"No problem, kau ingin dia tampil seperti apa?" kata Syalome tampak mengitari tubuh Kirana untuk mengecek keseluruhan dirinya.
"Terserah padamu, nanti sore aku akan menjemputnya kembali"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.