
Kirana memandang jendela bus yang menampakkan rintik hujan, hari sudah siang namun cuacanya sangat gelap karena sebentar lagi akan turun hujan. Kirana memilih pergi karena sudah tidak sanggup jika keluarga Rendra masih terus berpikir kalau dirinya merupakan wanita jahat.
Andai mereka tahu bagaimana posisinya saat itu, apakah mungkin mereka akan memilih hal yang sama?.
Tak terasa perjalanan Kirana sudah sangat jauh, ia sudah sampai di kota Yogyakarta. Kirana tidak punya alasan apapun pergi ke tempat itu, hanya membawa dimana kakinya melangkah. Tanpa sadar air mata Kirana mengalir membasahi pipinya, dadanya sesak saat ia memikirkan Rendra.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu. Semoga kau bisa melupakanku dan mencari kebahagiaanmu," batin Kirana mencubit cuping hidungnya untuk menyamarkan tangis yang tak bisa di cegah.
Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah saat kita di paksa untuk meninggalkan, namun hati mengatakan untuk tetap bertahan. Sayangnya Kirana sudah cukup lelah jika harus terus mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.
Perlahan bus yang di tumpangi Kirana berhenti di Stasiun Kota. Ia buru-buru mengusap air matanya lalu membawa barang-barangnya turun. Kirana benar-benar asing di tempat ini, ia tidak mengenal siapapun. Entah bagaimana jadinya nanti, Kirana hanya berharap bisa menjalani kehidupan yang damai.
"Aku pasti bisa," batin Kirana memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam.
Hari ini ia akan memulai kehidupan baru, di tempat baru, dan orang-orang baru.
Selamat tinggal Jakarta, dan selamat datang Jogja.
*****
Rendra menghisap rokoknya hingga mengepulkan asap yang menutupi wajahnya. Baru beberapa kali ia hisap, ia kembali lagi mengambil rokok baru dan menyalakannya. Seperti itu terus polanya hingga hampir dua pack rokok sudah ia habiskan.
Rendra memang selalu seperti ini jika ada masalah, ia mulai dikuasai emosi yang membuatnya menggila dan menghajar beberapa anak buahnya.
"Aku hanya memberi kalian tugas mencari satu orang wanita, tapi kalian sama sekali tidak becus!" Rendra membentak marah seraya melempar asbak hingga mengenai salah satu vas hingga pecah.
Anak buah Rendra hanya bisa menunduk takut, mereka tak ada yang berani mengangkat wajah karena Rendra jika sudah marah, akan sangat susah dikendalikan.
__ADS_1
"Tuan, mungkin Nona Kirana memang benar-benar ingin pergi sesuai keinginannya. Kita ..." Bram baru saja ingin membuka mulutnya, tapi Rendra tiba-tiba menarik kerah bajunya kasar.
"Tutup mulutmu! Kirana tidak mungkin meninggalkan ku begitu saja. Aku yakin dia pergi karena suatu alasan,"
Setelah berpikir hampir seharian, Rendra merasa kepergian Kirana ini terlalu janggal. Ia tau sifat Kirana, ia bukan wanita yang mudah meninggalkannya begitu saja. Pasti ada dorongan kuat yang membuat Kirana memilih pergi menjauh dari Rendra. Ia sangat yakin itu.
"Jika memang dia pergi karena diculik atau yang lain, untuk apa Nona Kirana meninggalkan ponselnya?" ucap Bram berpikir logis.
Rendra terdiam, ia segera melepaskan kerah baju Bram lalu kembali duduk ditempatnya. Ia menyugar rambutnya kebelakang seraya berpikir. Otaknya membenarkan perkataan Bram, tapi kenapa hatinya seolah menolak.
"Aku tidak mau tahu alasan apapun, aku mau kalian terus mencari Kirana sampai dapat!" ucap Rendra dengan suara tegasnya.
"Kirana, bukankah aku sudah mengatakan padamu, mau kau pergi sejauh apapun, aku pasti akan menemukanmu. Kau hanya milikku selamanya" batin Rendra tampak menerawang jauh, di wajah tampannya terlihat senyuman sinis namun tak terlalu terlihat.
*****
"Gila nih, Bella bentar lagi mau punya mantu aja. Dari dulu emang suka mendahului kita ya, Rin" celetuk Tiara seolah tak percaya jika putra sahabatnya akan segera bertunangan.
"Iya, dia selalu curi start duluan dari kita, Ra" sahut Karin membernarkan. Mereka bertiga sedang mengobrol di ruang tengah seraya mengecek pemasangan dekorasi tunangan.
"Hahaha, sebenarnya aku nggak nyangka sih kalau Rendra bakalan ketemu jodohnya cepet. Aku aja sempet kepikiran buat cariin dia jodoh gara-gara kelakuan Rendra, kalian tau sendiri kan kayak apa dia," ucap Bella tertawa kecil, namun cuping hidungnya terlihat mengembang karena bangga anaknya akan segera mendapatkan jodoh.
"Padahal aku mikirnya dari kita ada yang bakalan jadi besan loh, apa nanti Hazel kita jodohkan sama Gwiyomi aja?" ujar Tiara yang memang suka berbicara asal.
"Ya kemudaan lah Hazel nya. Dia aja masih SMA, Ra" ujar Karin menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa sih asal Hazel nggak macem-macem sama anak aku," kata Bella bercanda. "Lagian bujangku masih ada satu, aku malah mau jodohin sama Jingga," sambung Bella melirik Karin dari sudut matanya.
__ADS_1
"Ya kali mau jodohin mereka, Bel. Kamu lupa gimana Axel sama Dio? Yang ada ceritanya menantuku adalah anak dari sainganku dulu," Tiara tertawa geli, tak bisa membayangkan bagaimana kalau Axel dan Dio besanan.
"Jangan salah, mereka berdua tuh udah baikan. Emang pada jaim aja, iya nggak Rin?" ujar Bella tahu betul sifat suaminya yang tak bisa jika di suruh terlalu dekat orang lain. Tapi aslinya, Axel memang sudah memaafkan Dio dan berdamai dengan semua masa lalu mereka.
"Bener, Dio juga nggak pernah mikirin lagi bagaimana masa lalu kita. Yang penting sekarang kita udah hidup bahagia," sahut Karin membenarkan perkataan Bella.
"Jadi gimana? Jadi besanan?" kata Tiara.
"Lihat saja nanti," ujar Bella dan Karin hampir bersamaan, mereka lalu saling pandang dan tertawa cekikikan.
Mereka bertiga memang tidak pernah berubah, meski sudah berkeluarga dan tinggal cukup jauh. Hubungan persahabatan mereka tidak pernah putus sejak jaman SMP. Mereka selalu saling mendukung dan menganggap mereka keluarga.
Acara lamaran Rendra akan dilangsungkan pukul enam sore. Semua orang sudah bersiap untuk acara pertunangan ini. Untuk masalah gaun Kirana dan sebagainya, Rendra sudah menyiapkannya, jadi ketika Kirana datang nanti, kejutan di mulai.
"Loh, Rendra? Kamu sudah pulang? Mana nih calon tunangannya?" Karin yang pertama kali menyadari kedatangan Rendra langsung menyeletuk.
Semua orang pun langsung menatap Rendra yang datang sendirian. Bella melihat penampilan putranya yang terlihat acak-acakan dan sangat kusut.
"Kenapa Sayang? Kirana mana? Masih di belakang ya? Kita siap-siap dulu kalau gitu," ujar Bella meminta teman-temannya bersiap untuk memberikan kejutan yang sudah disiapkan.
"Tidak perlu!" ucap Rendra dengan tatapan mata yang lurus ke depan.
"Tidak perlu?" Bella bertanya bingung dan menatap putranya tidak mengerti.
"Tidak akan ada acara apapun, semuanya batal!" Hanya kata itu yang Rendra ucapkan lalu berlalu pergi meninggalkan orang yang terkaget-kaget karena ucapannya barusan.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.