Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 45.


__ADS_3

"Siapa jeng yang mau besanan? Aku juga mau lo jeng, jadi besan kamu," suara seorang wanita terdengar mendekat ke arah mereka, membuat pandangan mereka sontak teralihkan.


"Jeng Salma, akhirnya dateng juga," ucap Bella tersenyum seraya melakukan cipika-cipiki dengan Salma, dia merupakan orang tua Yolan dan hubungan mereka sudah cukup dekat.


"Tante," Yolan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bella.


"Anak cantik, makasih loh, udah ikutan dateng," kata Bella menepuk pelan pundak Yolan.


"Lagi enggak ada kesibukan tan," kata Yolan tersenyum sopan membuat wajah cantiknya semakin terlihat manis.


"Jangan percaya Jeng, dia ini paling sibuk sebenarnya. Tau sendiri 'kan, gimana ramainya Butik baru Yolan. Ini aja nih, kalau bukan karena acara di rumah kamu, aku yakin dia enggak bakalan dateng," ucap Salma dengan gayanya yang membanggakan putrinya.


"Wah, Yolan udah punya Butik sendiri?" sahut Tiara yang sejak tadi diam.


"Iya Jeng Tiara, memangnya Jeng enggak pernah denger ya? Padahal kemarin Butik Yolan masuk dalam iklan loh," kata Salma menggebu-gebu.


Tiara hanya melirik malas, sudah terlalu biasa dengan gaya Salma ini. Sebenarnya dari mereka bertiga tidak ada yang menyukai Salma, hanya saja karena suami mereka berteman dekat, jadi mereka masih menghargai Salma.


"Oh ya tan, Rendra mana?" tanya Yolan mencari-cari sosok pujaan hatinya itu. Tujuannya kemari juga hanya ingin menemui Rendra, karena jika tidak dalam acara tertentu, sangat susah untuk menemui Rendra yang super sibuk.


"Mungkin di belakang, kesana aja. Disana ada Gwiyomi juga," ujar Bella.


"Aku kesana dulu tan, permisi" ucap Yolan langsung saja pergi dari sana. Ia tampak sangat tak sabar ingin bertemu Rendra.


Di rumah bagian belakang, para teman-teman Gwiyomi dan juga Rendra berkumpul disana. Sedangkan Eril tidak mengundang temannya, karena sebagian besar temannya, teman Rendra juga.


Yolan mencari sosok Rendra yang menurutnya paling mencolok dimana pun tempatnya. Jadi tak membutuhkan waktu lama untuk Yolan menemukan pria itu.


"Rendra!" Yolan berseru seraya melambaikan tangannya kepada Rendra.


Rendra hanya mengangkat alisnya saat melihat Yolan disana, bukan kaget atau apa. Rendra hanya merasa biasa saja, tidak ada hal spesial apapun.

__ADS_1


"Hai," ucap Yolan lagi menghampiri Rendra yang berkumpul bersama kedua sahabatnya itu.


"Yolan... long time no see, kemana aja baru kelihatan? Makin cantik aja lu," ucap Fajar sang don juan, mengulas senyuman manisnya kepada Yolan.


"Apa Jar? Mau gombal, enggak ngaruh tuh," Yolan hanya memutar bola matanya malas, dari dulu jaman sekolah. Fajar ini memang suka menebar pesonanya kepada semua wanita.


"Apa kabar, Yol?" ucap Saka ikut menyapa teman semasa sekolahnya dulu.


"Baik, kalian gimana? Masih awet aja bertiga," kata Yolan langsung mengambil duduk tepat di samping Rendra tanpa permisi.


"Nah, sama teman aja setia gini, apa lagi sama pacar Yol, setia banget tau gue," sahut Fajar kembali menggoda Yolan.


"Basi banget," kata Yolan memasang wajah tak berminat.


"By the way. Aku mau ngomong dulu sama Rendra, enggak apa-apa 'kan?" ucap Yolan mengusir secara halus, ia merasa tak bisa leluasa jika ada orang lain berada disana.


"Oh, pantesan enggak ngaruh sama gue, ternyata udah ada dia, yaudah deh. Kita cabut aja, bro" kata Fajar mengerlingkan matanya kepada Saka, sebagai tanda mengajak pria itu pergi.


"Mau kemana? Disini aja, lagian mau ngomongin apa sih Yol?" kata Rendra sedikit risih jika harus berduaan dengan Yolan.


Rendra sedikit mendengus kecil, perubahan ekspresi dari wajahnya itu terlihat sangat jelas di mata Yolan. Namun dia tidak perduli, bukannya memang dari dulu ekspresi wajah Rendra seperti ini.


"Kenapa Ren? Enggak nyaman ya, ngomong sama aku?" kata Yolan sedikit cemberut.


"Bukan gitu, memangnya mau ngomong apa?" tanya Rendra mencoba mengontrol dirinya, entah kenapa perasaanya selalu tidak enak jika bersama Yolan. Rendra merasa seolah dirinya sedang mengkhianati Kirana, meskipun itu tidak melakukan apapun.


"Ya pengen ngobrol-ngobrol aja, kita jarang banget loh bertemu," kata Yolan memutar sedikit tubuhnya hingga berhadapan dengan Rendra.


"Aku sibuk," kata Rendra singkat saja.


"Enggak heran sih, kamu jarang banget kelihatan di kantor. Padahal aku beberapa kali ke kantor kamu, eh tapi, makasih banget loh Ren, berkat bangunan yang kamu saranin, Butik aku jadi cepet di kenal orang..."

__ADS_1


Ucapan Yolan itu menguap saja dalam lamunan Rendra, ia malah membayangkan Kirana. Sedang apa wanita itu? Apakah sudah makan? Kenapa Rendra selalu ingin saja melihat wajah Kirana. Padahal kalau di hitung-hitung, baru dua minggu mereka tidak bertemu.


"Ren, Rendra! Ih, kesel deh aku di kacangin," Yolan cemberut seraya menarik-narik lengan kemeja Rendra dengan manja.


"Eh, gimana tadi?" Rendra tersadar dari lamunannya, ia tersenyum canggung seraya menepis pelan tangan Yolan.


"Tuh kan, enggak di dengerin aku ngomong dari tadi," kata Yolan manyun, berharap Rendra akan membujuk dirinya.


Tapi mana mungkin Rendra melakukannya, ia malah semakin tidak suka dengan tingkah Yolan yang terkesan manja. Tidak seperti Kirana yang mandiri, pikirnya.


"Kalian disini rupanya, Mama cari dari tadi nggak ketemu, taunya ada disini sama Rendra," suara Salma terdengar membuat perhatian mereka berdua teralihkan.


"Iya tan, apa kabar?" ucap Rendra memberikan salamnya.


"Kabar baik, kamu sendiri gimana?"


"Aku juga baik Tante," sahut Rendra mengangguk sopan.


"Oh iya, Mama mau pulang dulu, soalnya tadi Bibi kamu nelpon, katanya mau ngajakin jenguk temen, minta di temani Mama, kamu enggak apa-apa 'kan? Nanti pulang sendiri?" ucap Salma tau jika putrinya ini sedang melakukan pendekatan bersama Rendra. Jadi ia merasa harus mendukungnya.


"Ehm ... Iya nggak apa-apa Ma, nanti Yolan pulang sendiri aja," kata Yolan melirik Rendra yang hanya diam saja.


"Atau biar di antar Nak Rendra, kamu enggak sibuk kan? Malam-malam gini, Mama takut kalau kamu pulang sendiri," kata Salma mengulas senyumnya, ia yakin kalau Rendra tidak akan menolak keinginannya.


"Iya tan, nanti biarkan aku yang anterin Yolan," sahut Rendra setuju saja, lagipula tak enak jika harus menolak.


"Eh, enggak apa-apa Ren, aku pulang sendiri aja, nanti aku pesan taksi," kata Yolan pura-pura menolak, padahal dalam hatinya, dia girang bukan main.


"Sama aku aja, aku nggak sibuk," kata Rendra lagi.


Yolan mengulas senyumnya yang tidak terlihat, kali ini dia harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin. Ia juga harus memastikan kalau tidak akan ada pengganggu kali ini, mengingat bagaimana misi pertamanya dulu gagal karena Gwiyomi.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2