
Sesampainya di mall, Gwiyomi langsung mengajak Kirana menuju tempat dimana teman yang dimaksudnya itu. Ternyata acara musik itu cukup besar karena sangat ramai pengunjung yang berdesak-desakan. Ada juga bazar makanan yang terdapat di pinggir-pinggir tempat itu.
"Rame banget Gwi, kamu mau lihat dimana?" tanya Kirana cukup tak nyaman jika harus berdesak-desakan dengan banyak orang.
"Ayo ke depan dong Kak, Bara bentar lagi tampil, aku mau lihat," kata Gwiyomi melompat-lompat agar bisa melihat panggung yang di depan.
"Ke depan mana? Jangan aneh-aneh kamu, Kak Kiran sedang hamil, lihat disini saja," sergah Eril melarang adiknya bertingkah gegabah, ia saja khawatir jika terjadi apa-apa nanti karena melihat kondisi tempat yang sangat penuh.
Kirana sedikit terkejut saat Eril menyebutnya Kakak, apa ia tidak salah dengar?
"Ke depan situ doang Kak, nggak asik banget sih. Aku mau lihat Bara," ucap Gwiyomi si keras kepala pasti harus mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi yang akan tampil merupakan gebetannya, jadi ia ingin mensuport penampilan Bara.
"Bara siapa?" tanya Eril memandang adiknya tajam.
"Bukan siapa-siapa. Kalau Kak Eril nggak mau, biar Kak Kiran sama aku aja," ucap Gwiyomi langsung menarik tangan Kirana.
Kirana sempat terkejut, namun ia segera mengikuti Gwiyomi karena tangannya terus ditarik.
"Gwi!" sentak Eril menggelengkan kepalanya sebal.
Dengan langkah panjang, Eril mau tak mau mengikuti adiknya. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba para penonton yang tadinya sangat tertib, tiba-tiba saling berdesak-desakan dan saling berteriak. Eril membesarkan matanya kaget, ia menajamkan pandangannya untuk melihat adik dan Kakak iparnya, namun mereka sudah tidak ada.
"Gwi! Kemana anak itu," gumam Eril mempercepat langkahnya untuk mencari adiknya.
Kerumunan itu semakin lama semakin tak kondusif, sepertinya sang penyanyi sedang memberikan barang pribadinya, jadi membuat fans sangat antusias dan berebut.
"Gwi!"
"Sial! Kemana sih anak itu," Eril menggerutu kesal, ia orang yang paling malas berdesak-desakan, tapi kini ia harus mencari adiknya sampai ketemu.
"Kakak! Kak Eril!
Eril langsung menoleh begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dilihatnya Gwiyomi sedang memegangi Kirana yang bersandar pada tiang mall.
"Gwi! Apa yang terjadi?" tanyanya dengan panik. "Kamu nggak apa-apa 'kan?" Eril mengecek keseluruhan tubuh adiknya, takut ada yang terluka atau bagaimana.
"Aku nggak apa-apa. Kak Kiran! Dia ..." Gwiyomi begitu panik menunjukkan Kakak iparnya yang sedang meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Kak Kiran kenapa?" Eril membesarkan matanya terkejut begitu melihat Kirana yang pucat dan mengerang kesakitan.
"Sakit ..." rintih Kirana memegang perutnya yang sangat mulas.
"Kenapa bisa seperti ini? Apa Kak Kiran jatuh?" tanya Eril sangat cemas.
"Enggak, Kak Kiran tiba-tiba kesakitan saat melihat kerumunan orang-orang," ucap Gwiyomi menjelaskan.
"Sial! Kak Kiran pasti terkena panik attack, ini semua gara-gara sifatmu yang keras kepala," omel Eril seraya berdecak kesal.
"Kak, Kakak bisa mendengar ku?" tanya Eril mengecek kesadaran Kakak iparnya.
"Iya," sahut Kirana lirih, perutnya semakin lama semakin nyeri membuat ia semakin tak tahan rasa sakitnya.
"Sepertinya Kak Kiran mau melahirkan Kak," ucap Gwiyomi.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Kamu cepat hubungi Mama," ucap Eril semakin panik, ia takut jika terjadi apa-apa dengan Kakak iparnya nanti.
"Kak, kita akan ke rumah sakit. Kakak bisa jalan sendiri?" tanya Eril bingung harus bersikap bagaimana, karena ia tak pernah menghadapi orang hamil sebelumnya.
"Gendong aja Kak, Kak Kiran udah kesakitan banget kayaknya," ucap Gwiyomi tak tega melihat wajah Kirana yang dibanjiri keringat dingin.
Eril terkejut saat Gwiyomi memintanya untuk menggendong Kirana. Hal itu tentu sangat tidak nyaman baik bagi Kirana maupun dirinya, mengingat bagaimana hubungan mereka yang cukup tidak baik. Tapi saat ini kondisinya sangat genting, ia harus mengesampingkan dulu perasaan itu.
"Baiklah, maaf Kak," ucap Eril meminta maaf kepada Kirana terlebih dulu sebelum menggendong tubuhnya.
Kirana tidak tahu harus bersikap bagaimana, rasa sakit itu kian menjadi namun hatinya sangat lega karena Eril sudah bisa menerima dirinya.
"Rendra ..." ucap Kirana teringat suaminya yang masih di negeri seberang.
"Kakak mengatakan sesuatu?" tanya Eril seperti mendengar Kirana berbicara.
__ADS_1
"Rendra, pulang ..." ucap Kirana lagi dengan suara lirihnya.
"Kakak mau Kak Rendra pulang?" tanya Gwiyomi memperjelas.
"Ya," sahut Kirana mengangguk lemah.
Gwiyomi langsung mengerti, ia segera menghubungi Kakaknya Rendra selama mereka perjalanan ke rumah sakit. Namun sampai panggilan entah ke berapa, Rendra sama sekali belum mengangkatnya. Sedangkan Kirana sudah di bawa ke ruang persalinan.
"Gimana? Udah bisa dihubungi?" tanya Eril.
"Belum, kayaknya hpnya di silent," sahut Gwiyomi men de sah pasrah.
"Coba lagi," ucap Eril.
Di dalam ruangan, Kirana sedang melawan rasa sakitnya yang kadang menyerang, kadang juga hilang.
"Rendra, kamu dimana? Aku nggak mau ngelahirin bayi ini kalau kamu nggak pulang," ucap Kirana menangis tersedu-sedu, mengingat wajah suaminya yang baru saja berangkat pagi tadi.
"Kiran? Kiran hei ..." Kirana membuka matanya saat mendengar suara orang yang masuk.
"Mama ... sakit Ma," tangis Kirana langsung pecah begitu melihat Bella. Mungkin karena sudah terlalu sering di manja Rendra, sikap manja Kirana keluar begitu saja.
"Nggak apa-apa Sayang, Kiran kuat ya, tarik nafasnya, lalu buang perlahan," ucap Bella menenangkan menantunya.
"Rendra mana Ma?" tanya Kirana tidak bisa melahirkan anaknya jika Rendra belum datang juga.
"Rendra sebentar lagi pasti datang, Kiran yang tenang ya nak," ucap Bella terus menenangkan Kirana sembari menunggu Rendra datang.
*****
Di Negara X, Rendra baru saja kembali ke hotel setelah menyelesaikan meeting. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak lalu ingin menghubungi istrinya, tapi ia terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari adiknya.
"Ada apa Gwi menghubungiku sebanyak ini," gumam Rendra segera menelepon balik adiknya, perasaanya menjadi tak enak dan langsung kepikiran istrinya.
"Halo Gwi? Ada apa?" tanya Rendra tanpa basa-basi.
"Kak Kiran mau melahirkan!"
"Kakakmu akan melahirkan?" tanya Rendra memastikan sekali lagi.
"Iya, cepatlah pulang. Kak Kiran menunggu Kakak,"
"Aku akan pulang, aku pasti pulang,"
Secepat kilat Rendra segera berlari mencari asistennya untuk mencarikan tiket penerbangan saat ini juga. Tapi tentu saja hal itu mustahil karena ini masih tengah malam, akhirnya Rendra memerintahkan Bram mengirim saja helikopter pribadinya.
Butuh waktu sekitar 3 jam untuk Rendra bisa sampai ke Jakarta. Ia langsung setengah melompat dari atas helikopternya karena tak sabar ingin segera menemui istrinya.
"Mama!" teriak Rendra melihat semua keluarganya berkumpul di depan ruang persalinan.
"Rendra, akhirnya kamu datang juga. Kirana sudah menunggumu sejak tadi," ucap Bella begitu lega melihat putranya sudah datang.
"Dia dimana Ma?" tanya Rendra gugup, panik dan juga cemas tentunya.
"Dia ada di dalam, ayo temani istrimu," ucap Bella dibalas anggukan tipis oleh Rendra.
Rendra sempat melihat Papanya sejenak, Axel melemparkan senyum tipisnya seraya menepuk pelan pundak putra sulungnya tersebut.
Di ruang persalinan, pembukaan Kirana sudah lengkap, Dokter juga sudah siap untuk membantu persalinan Kirana.
"Nona, kalau saya bilang dorong baru Anda mengejan, kalau tidak jangan ya," ucap Dokter memberi instruksi kepada Kirana.
Kirana tak menyahut, ia hanya menangis karena suaminya tak kunjung datang. Hampir 5 jam ia merasakan kesakitan itu sendirian, tapi kenapa Rendra belum datang juga.
"Nona, jangan menangis. Nanti bayi Anda bisa stress, fokus Nona, sebentar lagi akan bertemu adek bayi," Dokter mencoba menenangkan Kirana yang terus saja menangis.
Kirana masih terus menangis sampai ia merasakan seseorang menggenggam tangannya lembut.
"Hei Kiran, aku datang Sayang, kau sudah bisa melahirkan anak kita," bisik Rendra dengan mata berkaca-kaca, melihat istrinya yang sangat pucat dan berkeringat dingin.
__ADS_1
Tangis Kirana pecah begitu melihat suaminya datang, namun tangis itu terdengar penuh kelegaan.
"Jangan menangis, kamu kuat, kamu pasti bisa," ucap Rendra mengusap air mata Kirana lalu mencium keningnya dalam-dalam.
Kirana mengangguk, ia sudah lega bisa ditemani Rendra saat melahirkan anak mereka. Ia melewati setiap detik proses persalinan dengan Rendra yang terus menggenggam erat tangganya, sesekali pria itu menciumnya dan membisikan untaian kata-kata cinta yang membuat Kirana menjadi lebih bersemangat.
"Sedikit lagi Nona, kepalanya sudah terlihat. Ayo dorong!"
Kali ini Kirana mengejan dengan sekuat tenaganya yang tersisa, Rendra tak berani melihat apa yang sedang dilakukan dokter. Hingga terdengar suara lengkingan tangis bayi yang memenuhi seluruh penjuru kamar.
Tubuh Rendra bergetar hebat saat melihat bayi berlumuran darah diletakkan di dada Kirana.
"Selamat Tuan, Nona, bayinya sangat sehat dan sangat tampan seperti Ayahnya," ucap Dokter memberikan ucapan selamat kepada orang tua baru itu.
"Sayang, anak kita ..." Rendra sampai tak bisa mengucapkan kata-kata apapun.
"Terima kasih Kiran, terima kasih sudah melahirkan putraku, aku mencintaimu," ucap Rendra menciumi wajah Kirana penuh kasih.
Kirana mengangguk seraya menangis, akhirnya perjuangan dan rasa sakitnya seolah terbayarkan saat melihat anaknya lahir dengan selamat.
*****
Setelah dimandikan dan Kirana dibersihkan, Rendra menggendong kembali putra kecilnya masuk kedalam ruangan. Di sana sudah berkumpul seluruh keluarganya yang tampak sangat antusias menyambut generasi baru keluarga Leander.
"Wah, cucuku sudah mandi. Sini Rendra, biar Mama gendong," ucap Bella sudah tak sabar ingin menimang cucu pertamanya.
Rendra tersenyum seraya mengangsurkan bayinya perlahan, makhluk kecil itu sedikit menggeliat saat berpindah gendongan dari sang Ayah.
"Uluh, uluh, lihat deh by, ini mirip banget sama Rendra waktu kecil," ucap Bella begitu heboh menunjukan kepada suaminya.
"Iya, dia sangat mirip Rendra," sahut Axel membernarkan perkataan istrinya.
Eril dan Gwiyomi ikut mengerubuti keponakan baru mereka. Kirana yang melihat itu menjadi semakin tak sabar ingin menggendong anaknya.
"Kenapa? Mau lihat?" tanya Rendra memperhatikan raut wajah istrinya.
"Mau," sahut Kirana mengangguk cepat-cepat.
Bella yang sangat peka kalau Kirana ingin menggendong putranya menyerahkan cucunya kepada Kirana. Wanita itu tampak sangat senang menerima anaknya yang begitu tampan dan menggemaskan.
"Siapa namanya Kak?" tanya Gwiyomi.
"Namanya, Narendra Keenan Sky Leander, yang berarti pemimpin yang kuat dari langit," ucap Rendra tersenyum kecil.
"Wow, Keenan. Welcome to the world buddy, kalau besar nanti, kamu harus punya banyak pacar, jangan kayak Papa kamu tuh, kaku sama semua cewek,"
Ucapan Gwiyomi itu sontak membuat semua anggota keluarga tertawa. Kirana sendiri langsung menatap Rendra yang juga menatapnya.
"I love you, terima kasih sudah hadir di hidupku Kiran," bisik Rendra rasanya sudah memiliki kehidupan yang lengkap.
"I love you more,"
...---------------- The End ----------------...
Akhirnya selesai juga cerita ini ya gengs ...
Terima kasih yang sudah mendukung pasangan Rendra dan Kirana sampai sejauh ini.
Author tidak bisa memberikan apapun selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Semoga kedepannya author bisa membuat cerita-cerita yang lebih menarik yang gengs.
And Happy New Year gengs ...
Salam penulis.
Virzha With Love ❤️
Oh ya satu lagi, ini author mau kasih rekomendasi novel bagus nih.
__ADS_1
Kisah cintanya Eril adiknya Rendra, cekidot gengs!!!