
Pagi menyingsing cepat, perputaran poros bumi bergilir merubah cahaya rembulan tergantikan cahaya sang surya yang membias seluruh muka bumi. Kicauan burung terdengar bersahutan menemani pagi yang sangat cerah itu.
Para pekerja dan beberapa tim catering telah sibuk wira-wiri menyiapkan acara pernikahan yang serba dadakan ini. Perpaduan alam yang hijau dengan nuansa putih elegan membuat pelaminan terlihat sangat cantik. Kursi-kursi tamu juga sudah tertata rapi di tempatnya.
"Gwi, Kakak kamu mana? Udah selesai belum, ini udah jam berapa?"
Bella yang menjadi super sibuk mengecek semua persiapan pesta ini. Memang hanya kerabat dekat dan juga keluarga saja yang hadir. Tapi tetap saja acara itu merupakan acara yang sakral dan bermakna.
"Kakak yang mana?" tanya Gwiyomi sibuk bermain ponselnya untuk menghubungi Jingga, sahabatnya itu juga pasti datang bersama keluarganya.
"Semuanya, kamu lihat gih ke kamarnya. Mama panggil Papa dulu," ujar Bella memerintah cepat, ia ingin saat tamu datang nanti mereka semua sudah siap.
Sebelum memanggil suaminya, Bella menyempatkan diri untuk melihat calon menantunya yang di dandani di kamar. Saat ia masuk, ternyata sudah 90 persen jadi riasan Kirana.
"Tante," ucap Kirana hanya melirik Bella dari kaca di depannya.
"Senyamannya saja Kiran, Mama hanya ingin melihat bagaimana persiapannya saja," ucap Bella melarang saat Kirana ingin bangkit dari duduknya.
"Sebentar lagi jadi Nyonya," ujar Penata rias menjelaskan.
Bella tersenyum, ia mengambil kursi dan duduk di depan Kirana.
"Gugup?" tanya Bella memperhatikan wajah Kirana yang sangat tegang.
"Sedikit," ucap Kirana malah terlalu gugup sebenarnya.
"Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kau sangat cantik, Mama yakin Rendra akan terpesona olehmu," ucap Bella benar-benar puas dengan gaun pilihannya yang sangat pas di tubuh Kirana.
Untung saja kemarin ada desainer yang setuju membuatkan Kirana gaun dalam waktu satu malam. Kalau tidak, entah bagaimana jadinya, karena semuanya serba dadakan.
"Terima kasih," ucap Kirana tersenyum haru, ia senang karena Bella menyambutnya dengan baik.
"Jangan nangis, nanti make up nya rusak," ucap Bella malah ikut terharu hanya karena Kirana mengucapkan terima kasih.
"Ibu pasti senang kalau lihat aku seperti ini, tapi Tuhan lebih Sayang ibu," ucap Kirana kembali teringat mendiang ibunya.
__ADS_1
"Dia pasti bangga sama kamu," ucap Bella mengusap lembut lengan Kirana.
"Bolehkah aku memeluk Tante?" tanya Kirana menatap Bella sendu.
"Apa yang kau katakan, tentu saja boleh. Kau itu anak Mama juga sekarang," kata Bella langsung membuka kedua tangannya.
Kirana langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. Ia menangis saat mencium bau tubuh Bella yang khas dengan aroma keibuannya.
Bella sendiri tanpa sadar ikut menangis karena hal kecil ini. Sebahagia itu Kirana hanya karena ia memeluknya. Semoga nanti kehidupan rumah tangga anaknya selalu di karuniai kebahagiaan.
"Ehm, maaf mengganggu, semua orang sudah menunggu," Eril datang memberitahukan dengan wajah sungkannya karena tak enak sudah menganggu.
Bella dan Kirana segera mengusap air matanya masing-masing. Bella lalu menatap Eril yang babak belur, Bella tentu syok melihat keadaan putranya seperti ini.
"Astaga Eril! Kamu kenapa jadi bonyok seperti ini?" seru Bella mengecek keadaan Eril, seingatnya semalam putranya baik-baik saja.
Eril sempat saling pandang dengan Kirana, ia tak mungkin memberitahu kalau semua ini perbuatan Rendra. "Hanya orang salah sasaran, Mama udah di tunggu Papa tuh," kata Eril berbohong.
"Salah sasaran gimana? Kamu kelayapan ya semalam?" tuduh Bella sudah hafal kebiasaan anaknya yang suka ke klub malam. Sepertinya Eril harus segera menikah agar berhenti main di klub malam, pikir Bella.
*****
Di luar, Rendra sudah berdiri gagah di bawah altar pernikahan bersama sang Ayah. Tamu-tamu undangan juga sudah berdatangan membuat suasana semakin ramai. Rendra sesekali melirik kearah dalam rumah menunggu pengantinnya datang.
"Sebentar lagi juga datang," ujar Axel mengikuti arah pandangan Rendra.
"Aku hanya gugup," kata Rendra tak tahu harus berkata apa.
"Bukankah udah?" ucap Axel membuat Rendra mengernyit bingung.
"Udah? Udah apa?" tanya Rendra.
Axel hanya tersenyum, ia menatap Rendra yang kini tingginya sudah melebihi dia.
"Kamu sudah dewasa sekarang, udah nggak minta gendong sama Papa lagi," ucap Axel mendadak sentimentil, ia ingat saat Rendra kecil sering merengek ingin ikut bekerja, sekarang putranya sudah akan menikah.
__ADS_1
"Papa, aku tetap sayang Papa sama Mama, tanpa kalian aku tidak bisa seperti ini. Makasih Pa," ucap Rendra memeluk tubuh tegap Papanya. Orang pertama yang ia kenal dan ia jadikan panutan hidupnya. Papa terhebatnya.
"Kamu buat Papa sedih aja," ucap Axel mencubit hidungnya agar tidak menangis.
Rendra juga mengusap sudut matanya yang terasa basah. Tak menyangka hanya karena momen ini ia bisa menangis.
Tak lama setelah itu, terlihat Kirana datang dengan di gandeng oleh Bella dan juga Budhe yang selama ini membantu Kirana. Wanita itu meski sedikit menyesal karena Kirana tidak jadi menantunya, ia tetap bersyukur karena Kirana sudah menemukan kebahagiannya.
Perlahan Kirana melangkahkan kakinya dengan di temani alunan musik yang terdengar lembut. Ia sangat gugup namun sebisa mungkin tetap bersikap tenang. Ia menatap lurus pada sosok pria yang berdiri gagah di altar pernikahan. Pria dingin yang sangat menyebalkan dan keras kepala, sebentar lagi, pria itu akan menjadi suaminya.
Rendra sendiri tak bisa memalingkan wajahnya dari sosok wanita cantik yang melangkahkan kakinya dengan anggun. Wanita asing yang sama sekali tidak pernah di liriknya, namun berhasil membuat ia bertekuk lutut. Wanita sederhana yang menjadi cinta pertamanya dan segera menjadi istrinya.
"Jaga Kirana dengan baik, semoga kalian selalu di karuniai kebahagiaan," ucap Bella menyatukan tangan Rendra dan Kirana.
"Terima kasih, Ma." Rendra dan Kirana menyahut serempak.
Rendra langsung merangkul pinggang kecil Kirana dan acara akad nikah segera di mulai. Rendra sesekali masih melirik Kirana karena merasa wanita itu benar-benar berbeda.
"Jangan menatapku terus," seru Kirana malah gugup sendiri di tatap oleh Rendra sedemikian rupa.
"Baiklah," ucap Rendra mencoba mengalihkan pandangannya, namun tetap saja ia menoleh ke samping. Matanya tidak bisa di ajak kompromi, bagaimana dong?
Acara segera dilanjutkan dengan bacaan akad nikah, Rendra sempat grogi saat menjabat tangan penghulu, namun akhirnya ia tetap bisa lancar melantunkan sumpah pernikahan dengan menyebut nama lengkap Kirana.
"SAH! Alhamdulillah!"
Suara semua orang terdengar serempak dan penuh kelegaan. Wajah-wajah penuh kebahagian tampak menghiasi semua orang terutama Axel dan Bella. Mereka bangga melihat putra pertama mereka sudah melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Kirana sendiri menangis haru saat ia mengambil tangan Rendra dan menciumnya untuk pertama kalinya.
Rendra juga mencium kening Kirana dengan penuh keharuan yang sama. Akhirnya setelah perjuangan panjangnya, ia bisa bersatu dengan Kirana.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1