Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Sebuah Keluarga.


__ADS_3

"Rasakan! Siapa suruh bertingkah seperti itu," cetus Kirana menatap Rendra jengkel.


"Bertingkah bagaimana? Aku mengatakan hal yang sebenarnya 'kan?" Ucap Rendra tersenyum jahil.


"Tapi aku malu sama Mama kamu," gerutu Kirana semakin kesal saja rasanya.


"Kenapa harus malu? Kamu memang calon istri aku, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluarga ini juga," ucap Rendra mengerutkan dahinya.


"Ya, tapi apa kau yakin kalau mereka akan menerimaku?" Ucap Kirana sejak datang ke rumah ini sudah sangat minder, ditambah lagi penampilan orang tua Rendra yang terlihat masih segar meski di usia yang sudah senja.


"Mau bahas hal itu lagi? For Sure?" kata Rendra menggelengkan kepalanya tak percaya jika Kirana masih terus membahas hal basic seperti ini.


"Aku hanya takut kalau mereka tidak mau menerimaku," ucap Kirana menundukkan wajahnya, benar-benar tak percaya diri jika bertemu keluarga Rendra.


Rendra menghela nafas pendek, ia menyentuh dagu Kirana agar wanita itu menatapnya. "Hei, dengarkan aku. Sudah berapa kali aku bilang padamu kalau mereka pasti menerimamu karena kau adalah pilihanku," ucap Rendra menatap Kirana teduh.


"Tapi …"


"Sstt!!" Rendra segera mengulurkan telunjuknya ke bibir Kirana sebelum wanita itu selesai berbicara. "Jangan katakan apapun lagi, jika mereka tidak menerima hubungan kita, apa kau ingin tahu caranya agar mereka menerima nya?" ucap Rendra mendadak tersenyum usil.


"Dengan cara apa?" ucap Kirana dengan wajah ingin tahunya.


Rendra tersenyum manis, perlahan ia memajukan dirinya membuat Kirana sontak mundur kebelakang.


"Apa kau benar-benar ingin tahu caranya?" kata Rendra terus melangkahkan kakinya.


Kirana mengangguk cepat-cepat dengan ekspresi polosnya, ia berjalan mundur karena gugup saat Rendra terus mendekatinya, namun ternyata langkahnya sudah terhenti karena sampai di ranjang.


"Caranya bagaimana?" tanya Kirana mendadak gagap saat Rendra begitu dekat dengannya.


"Caranya sangat mudah," kata Rendra sengaja berteka-teki, ia terus merangsek maju hingga Kirana terduduk di ranjang.


"Rendra …" lidah Kirana mendadak kelu tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Padahal ia ingin sekali marah karena sikap Rendra ini.


"Ya?" sahut Rendra tiba-tiba saja mengungkung tubuh Kirana dan menempelkan bibirnya di telinga Kirana.

__ADS_1


"Rendra! Apa yang kau lakukan!" pekik Kirana panik, berusaha mendorong Rendra karena takut jika ada orang yang melihat.


"Aku ingin menciummu, apakah boleh?" Dengan begitu santainya Rendra mengucapkan kata-kata yang cukup frontal.


"Kau gila ya? Bagaimana kalau ada yang melihat?" seru Kirana masih berusaha mendorong tubuh tegap Rendra yang terus menempelinya.


"Itu malah lebih bagus, apa kita langsung melakukannya disini agar Mama memergoki kita dan kita bisa langsung menikah?" ucap Rendra mengutarakan ide konyol di kepalanya.


Mata Kirana membulat sempurna, ia tak percaya Rendra bisa memiliki ide yang sangat gila seperti itu.


"Kau benar-benar gila, lepaskan aku!" ucap Kirana tak menyerah untuk mendorong Rendra.


"Tidak," kata Rendra malah sengaja menguyel-uyel pipi Kirana membuat wanita itu kegelian. Apalagi tangan Rendra yang terus memeluk pinggangnya erat membuat Kirana tak berkutik.


"Rendra …" Kirana merengek frustasi agar Rendra melepaskannya.


"Berjanjilah jangan pernah berpikir seperti itu lagi, pokoknya kau harus ingat kata-kataku. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita sampai kapanpun," ucap Rendra menatap Kirana serius.


"Iya, aku berjanji padamu, tapi sekarang lepaskan aku," kata Kirana mengangguk-angguk pasrah. Ia tak mau lagi meragukan perkataan Rendra, ia harus bisa percaya pada pria itu seutuhnya.


"Anak pintar," kata Rendra tersenyum puas.


"Kenapa terburu-buru, aku belum memberimu hadiah," ucap Rendra menaik turunkan alisnya.


Kirana membulatkan matanya sempurna, jika sudah bersangkutan dengan hadiah, pasti tidak jauh-jauh dari …


Kirana memejamkan matanya saat Rendra mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya lembut. Namun saat bibir mereka baru saja bersentuhan, tiba-tiba …


"Ups! Kakak! Kau menodai mata suciku!" teriak Gwiyomi segera memutar tubuhnya membelakangi kedua pasangan itu. Ia menutup matanya dengan kedua tangan, malu sendiri dengan apa yang baru saja di lihatnya.


"Gwi!" Rendra sontak gelagapan dan menjauhkan dirinya dari Kirana. Ia tak menyangka kalau adiknya akan datang kesana.


Kirana hanya bisa memejamkan matanya untuk mengurangi rasa malu yang luar biasa. "Argh … Rendra benar-benar ya," batin Kirana geram dengan tingkah impulsif Rendra barusan.


"Untuk apa kau kesini?" tanya Rendra menatap adiknya yang terus memunggunginya itu.

__ADS_1


"Mama menyuruhku untuk memanggil kalian, cepatlah turun, jangan pacaran terus" gerutu Gwiyomi jengkel sendiri dengan Kakaknya. Bisa-bisanya berciuman di waktu seperti ini.


"Aku akan datang sebentar lagi," kata Rendra memasang wajah masam, gagal sudah rencananya ingin mencium Kirana.


"Ya, kalau bisa lebih cepat, aku sudah lapar," celetuk Gwiyomi sedikit menyindir Kakaknya.


Rendra hanya bergumam malas, ia melirik Kirana yang ternyata diam-diam tersenyum karena melihat wajah Rendra.


"Berani ketawa?" Rendra mendesis jengkel.


"Tidak, aku hanya tersenyum. Ayo ke depan, semua orang sudah menunggu kita," kata Kirana justru mengulas senyum mengejeknya membuat Rendra benar-benar kesal.


"Awas saja nanti," bisik Rendra merangkul pinggang ramping Kirana lalu membawa wanita itu turun ke bawah untuk makan bersama.


*****


"Kiran makan yang banyak, badan kamu kurus begini,"


Sejak Kirana duduk di meja makan, Bella tak henti menawarkan berbagai macam lauk pauk kepada Kirana. Ia merasa calon menantunya itu terlihat cukup kurus dan kurang makan.


"Terima kasih Tante, ini sudah cukup kok," ucap Kirana bingung sendiri melihat makanan yang diberikan Bella. 


"Loh, kok Tante lagi sih. Ingat ya, panggil Mama, gimana manggilnya?" ucap Bella sudah berulang kali mengatakan pada Kirana untuk membiasakan diri memanggilnya Mama agar hubungan mereka tidak terlalu canggung.


"Eh? Iya Ma, Mama," ucap Kirana masih cukup kaku mengucapkannya. Ternyata Mama Rendra yang ia kira akan sangat galak justru memiliki sikap yang sebaliknya.


"Nah gitu dong, kalian 'kan sebentar lagi akan menikah, jadi kapan keluarga kita datang untuk melamar ke keluarga Kiran?" ucap Bella sudah tak sabar ingin melihat putranya segera menikah.


Kirana terdiam, seketika saja ingatan nya langsung melayang kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Mama dan Papanya pasti akan sangat bahagia jika mendengar kabar seperti ini, tapi ternyata mereka tak mempunyai cukup umur panjang untuk melihat kebahagiaannya.


Rendra langsung mengerti perubahan di wajah Kirana. Ia segera mengulurkan tangannya, menggenggam lembut tangan Kirana untuk sekedar menyalurkan perasaannya.


"Orang tua Kiran sudah meninggal, Ma" ucap Rendra mewakili Kirana, tahu jika wanita itu masih tak sanggup untuk mengatakan hal itu.


Bella terkejut mendengar perkataan putranya, ia menatap Axel yang juga hanya mengerutkan dahinya. Ia tak tahu kalau orang tua Kirana sudah meninggal.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2