Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 50.


__ADS_3

Rendra tersentak saat Kirana mendorongnya menjauh, ia melihat wanita itu yang sangat ketakutan sekali.


"Pergi! Jangan lakukan itu, pergi!" Kirana memeluk tubuhnya seraya memejamkan matanya, meringkuk menjauh karena berpikir akan dilecehkan kembali.


"Kiran, ada apa?" tanya Rendra dengan lembut, perlahan ia mendekati Kirana.


"Aaa... aku tidak mau! Pergi!" Kirana menjerit histeris saat Rendra menyentuh lengannya.


Rendra semakin bingung, namun sesaat kemudian ia paham apa alasan Kirana sangat histeris seperti ini. Wanita itu pasti trauma dengan apa yang dilakukan oleh Maxi. Seharusnya ia tidak bersikap seperti ini, ia harus mengontrol dirinya untuk lebih memberikan waktu untuk Kirana sembuh dari traumanya. Meski ia harus kecewa, tapi kesehatan Kirana lebih penting sekarang.


"Hei, Kiran. Ini aku Rendra, jangan takut," ucap Rendra dengan sangat lembut, ia menyentuh lengan wanita itu agar menatapnya.


"Jangan siksa aku lagi ..." gumam Kirana masih berpikir kalau ia akan di siksa.


"Tidak, ini aku Rendra, lihat aku Kiran. Aku Rendra," ucap Rendra mengulurkan tangannya kepada Kiran, ia mengulas senyum tipisnya agar Kiran nyaman dengannya.


Awalnya Kirana masih cukup histeris, namun mendengar suara lembut Rendra, ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Ia menatap lekat-lekat wajah Rendra, memastikan kalau yang di dekatnya ini adalah Rendra, bukan Maxi.


"Rendra?"


"Ya, ini aku Kiran. Jangan takut, aku Rendra-mu" ucap Rendra masih senantiasa mengulurkan tangannya kepada Kirana.


Kirana langsung menangis, tanpa pikir panjang, ia menyambut uluran tangan itu dan masuk kedalam pelukan Rendra. Ia menangis dalam pelukan Rendra, merasa lega namun juga merasa bersalah karena bersikap seperti ini pada Rendra.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, jangan takut Kiran," bisik Rendra mencium rambut Kirana, berusaha menenangkan wanita itu.


"Maaf," lirih Kirana mendongak menatap Rendra.


Rendra tersenyum, ia mengusap air mata Kirana yang membasahi pipi wanita itu. "Kenapa minta maaf? Kau tidak bersalah, seharusnya aku yang minta maaf padamu 'kan?" ucap Rendra.


"Aku... belum bisa, nanti kalau kita ..."


Rendra meletakan jarinya dibibir Kirana saat wanita itu berbicara, ia sudah tau apa yang dikatakan Kirana.

__ADS_1


"Jangan memikirkan hal itu, yang terpenting adalah dirimu sekarang," ucap Rendra menatap Kirana dengan senyum tulusnya.


Kirana terharu,bagaimana Rendra bisa mencintainya dengan begitu besar seperti ini. Kirana semakin merasa bersalah dan juga takut jika suatu saat nanti tidak bisa memberikan hak kepada Rendra saat mereka sudah menikah.


"Aku takut," ucap Kirana.


"Jangan takut, kita akan menghadapi ini bersama. Sekarang tidurlah, kau butuh istirahat," kata Rendra merebahkan Kirana dengan pelan ke ranjangnya, ia juga mengambil baju Kirana yang sempat ia lepas lalu membantu memakaikannya dengan cekatan.


Kirana terus saja menatap apa yang dilakukan Rendra, pria itu pasti saat ini sedang berusaha keras menahan dirinya, Kirana tau jika Rendra pria normal yang pasti perlu sebuah kebutuhan biologis. Tapi apakah dia bisa memberikannya nanti. Tidak, tidak, dia harus bisa, dia harus melawan rasa trauma ini.


"Sudah, tidurlah aku akan menemanimu," ucap Rendra mengelus lembut pipi Kirana.


"Peluk," ucap Kirana mengulurkan tangannya kepada Rendra.


Rendra tersenyum manis, perlahan ia merebahkan tubuhnya di samping Kirana, lalu memeluknya dengan lembut. Kirana pun segera mencari posisi ternyaman di dalam dekapan Rendra. Mendengarkan detak jantung Rendra yang lembut, menjadi musik untuk mengantarkan Kirana dalam mimpinya.


****


Keesokan harinya, Rendra terbangun saat merasakan silau akan cahaya matahari yang menerobos masuk dari celah jendela kamar. Rendra menatap ke arah sampingnya dan tak menemukan Kirana ada disana. Ia lalu memutuskan untuk turun untuk mencari Kirana. Tercium bau masakan yang semerbak membuat Rendra tau kalau wanitanya itu pasti sedang di dapur.


"Selamat pagi," bisik Rendra mencium pipi Kirana dari belakang.


"Rendra, kau sudah bangun?" ucap Kirana tersipu saat mendapatkan perlakukan manis dari Rendra.


"Ya, sedang masak apa? Kenapa tidak membangunkan ku?" ucap Rendra semakin mengeratkan pelukannya.


"Kau tadi tidur sangat pulas. Aku akan meyiapkan ini dulu," ucap Kirana benar-benar tak bisa berkutik jika Rendra seperti ini.


"Lakukan saja," ucap Rendra santai.


"Lepasin dulu, aku nggak bisa kalau gini" kata Kirana mencubit gemas pipi Rendra.


"Memangnya aku sedang apa? Aku hanya memelukmu," kata Rendra tersenyum jahil.

__ADS_1


"Rendra ..." Kirana merengek manja, berharap pria itu akan melepaskannya.


"Hahaha, baiklah aku akan mandi dulu. Setelah ini aku akan ke Kantor," ucap Rendra seraya tertawa kecil, ia mencium pipi Kirana dengan gemas barulah dia melepaskan Kirana dan bersiap untuk pergi.


Kirana memegang kedua pipinya yang terasa panas, mungkin kini wajahnya sudah memerah karena tersipu malu karena ulah Rendra. Wajahnya bahkan tak henti mengulas senyum jika mengingat pria itu.


"Sepertinya aku sudah gila," gumam Kirana menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Rendra di otaknya.


Ia harus menyiapkan semua sarapan dan bersiap untuk pergi bekerja. Untung saja dia tadi sudah mandi terlebih dulu, jadi dia sekarang tinggal mengganti bajunya.


Setelah ia selesai bersiap dan menata makanan, Rendra juga sudah siap rapi dengan baju kemejanya semalam. Rambut pria itu yang biasanya tersisir rapi dengan bau pomade segar, kini dibiarkan saja acak-acakan hingga jatuh menutupi dahinya. Namun entah kenap di mata Kirana, Rendra justru semakin tampan.


"Sudah, jangan dilihat terus. Kapan kau akan memberikan makananku? Aku sudah lapar," celetukan Rendra membuat Kirana tersadar dari keterpesonaanya.


"Eh? Maaf," ucap Kirana menunduk malu karena ketahuan menatap lama kepada pria itu.


Rendra hanya tersenyum-senyum geli, sepertinya hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuknya.


"Jika kita menikah nanti, aku ingin kau terus seperti ini," ucap Rendra menatap Kirana yang sibuk mengambilkan makanan untuknya.


"Ehm ... menikah?"


"Ya, aku akan mengenalkan mu kepada orang tuaku dulu. Setelah itu, kita akan menikah," kata Rendra sudah memikirkan matang-matang rencananya.


"Apa mereka akan menerimaku?" ucap Kirana sangat meragukan hal itu, ia takut jika kedua orang tua Rendra tidak menerima dirinya, mengingat bagaimana masa lalunya.


"Kalau mereka menolak, aku akan membawamu kawin lari saja," ucap Rendra bercanda.


"Rendra! Kau tidak boleh seperti itu," ucap Kirana seraya memukul pelan lengan Rendra, bisa-bisanya bercanda saat dia sedang serius seperti ini.


"Hahaha, kau juga kenapa selalu menanyakan hal yang sama? Bukankah sudah aku katakan, kalau kedua orang tuaku tidak akan mempermasalahkan apapun tentang siapa dirimu Kiran. Jika aku sudah memilihmu, mereka bisa apa?" ucap Rendra dengan nada seriusnya membuat Kirana bungkam.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2