
Kirana sudah duduk di depan kaca, dibelakangnya sudah ada Syalome yang sedang menatap rambutnya. Jujur saja Kirana bingung kenapa Rendra membawanya kesini, dia mau bertanya pun takut. Sebenarnya Rendra itu wajahnya tidak menyeramkan namun karena dia diam saja membuat Kirana segan untuk bertanya.
"Hemm....siapa namamu?" tanya Syalome memegang lembut rambut panjang Kirana.
"Kirana" kata Kirana seadanya.
"Oh Kiran, sepertinya aku akan memotong rambutmu. Rambutmu terlalu panjang dan modelnya juga sangat kuno" kata Syalome dengan ekspresi wajahnya yang berlebihan.
"Ya tidak apa-apa, aku juga sudah lama tidak potong rambut" kata Kirana tersenyum saja.
"Oke, by the way, bagaimana kau bisa kenal si beruang kutub itu?" kata Syalome kepo tentunya.
"Beruang kutub?" kata Kirana menatap Syalome bingung.
"Iya beruang kutub"
"Kenapa disebut seperti itu?" kata Kirana penasaran.
"OMG my Kiran, Rendra itu pria paling dingin yang ada di muka bumi ini, sorot matanya kejam dan dia juga sangat ditakuti oleh anak buahnya. Siapa sih yang betah dengan orang seperti dia?" kata Syalome menggebu-gebu menjelaskan.
"Benarkah?" kata Kirana merasa semakin penasaran dengan kehidupan Rendra.
"Benar, bahkan sampai saat ini belum ada yang pernah berpacaran dengannya, tapi desas desus yang aku dengar, dia sedang seorang desainer baru" kata Syalome lagi.
"Desainer?"
"Ya, kemarin mereka berdua kepergok berkencan berdua di restoran, kau tidak melihat beritanya ya My Kiran, satu kota ini pasti sedang membicarakan dia, apalagi keluarganya juga sangat terkenal" kata Syalome lagi.
"Tidak, aku tidak melihatnya" wajah Kirana berubah mendung, ia lalu ingat kalau pagi tadi ada seorang wanita yang mendatangi Rendra, apakah wanita itu benar-benar kekasih Rendra?
"Aduh...aku jadi membuatmu sedih My Kiran. Aku tidak bermaksud" kata Syalome tak enak hati melihat perubahan wajah Kiran.
"Tidak apa-apa Syalome, lagipula aku dan Rendra tidak punya hubungan apapun kok" kata Kirana tersenyum tipis.
"Sally, panggil saja aku Sally my Kiran" kata Syalome.
"Baiklah Sally"
"Oh satu lagi"
"Apa?"
__ADS_1
"Jangan jatuh cinta pada Rendra, dia itu tidak punya hati untuk mencintai orang lain selain keluarganya" kata Syalome membuat Kirana menatapnya.
Kenapa semua orang melarangnya jatuh cinta kepada Rendra? Apakah memang benar kalau Rendra itu tak pernah bisa digapai?
Waktu terus berjalan dengan cepat, setelah memotong rambut Kirana dengan gaya bob pendek sebahu, Kirana langsung diarahkan ke bagian lain yang merupakan tempat SPA. Kirana menolak saat akan melakukan itu karena malu jika ada yang melihat bagian tubuhnya yang punya bekas luka, tentunya tak semulus tangan dan kakinya.
Hampir seharian itu Kirana benar-benar dimanjakan tubuhnya, dari rambut sampai kaki semuanya dipermak habis-habisan.
"My Kiran, kau memang sangat cantik sekali. Aku yakin si beruang kutub itu akan terpesona olehmu" kata Syalome memuji kecantikan Kirana yang semakin sempurna setelah dirias tipis wajahnya.
"Sally, jangan begitu, aku malu" kata Kirana juga tak percaya saat melihat dirinya yang sekarang.
Jauh berbeda sekali saat dari waktu ia datang kemari. Rambutnya yang awalnya berwarna hitam, kini dirubah dengan warna sedikit kecoklatan, dengan riasan yang minimalis membuat Kirana benar-benar tak mengenali dirinya sendiri.
"Itu memang benar My Kiran, sekarang ayo ganti bajumu, kita buat beruang kutub itu kaget dengan penampilanmu" kata Syalome menyuruh Kirana masuk kedalam ruang gantinya.
Tak lama setelah Kirana masuk, ternyata Rendra juga baru saja datang dari kantornya. Ia mengerutkan dahinya saat hanya melihat Syalome ada disana, dimana Kirana?
"Kau datang lebih awal?" kata Syalome menyindir.
"Ya, dimana Kirana?" kata Rendra tak terpengaruh oleh sindiran itu.
"Dia masih ganti baju" kata Syalome sambil lalu.
"Sally, aku sudah selesai" kata Kirana awalnya tak begitu melihat ada Rendra disana, saat ia tau wajahnya langsung berubah.
Rendra pun kaget saat melihat penampilan Kirana yang sangat berbeda dengan tadi pagi. Rendra tak berkedip, tanpa sadar mulutnya sampai menganga karena melihat betapa cantiknya Kirana. Menggunakan gaun yang bermodel shoulder off yang menampakkan bahunya yang putih, warna merah wine gaun itu sangat cocok sekali dengan Kirana. Rambutnya yang pendek di gerai sangat indah membingkai wajah mungil itu, benar-benar sempurna.
"My Kiran? Kau sudah selesai? Ouh .....perfect sekali, kau memang my princess baby" kata Syalome tampak begitu puas sekali melihat tampilan Kirana, apalagi melihat ekspresi wajah Rendra.
"Bagaimana pak Bos Rendra? Apakah kau puas?" kata Syalome pada Rendra.
"Ya bagus, ehm maksudku dia cantik" kata Rendra kebingungan sendiri karena terpesona dengan Kirana.
"Hanya cantik saja? ish kau ini, punyamu sudah aku siapkan di ruang ganti Pak Bos" kata Syalome sedikit mencibir perkataan Rendra.
"Baiklah" kata Rendra mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain tapi kenapa ia malah ingin terus menerus menatap Kirana.
Wajah Kirana sudah seperti kepiting rebus saat Rendra memujinya cantik, jantungnya pun rasanya ingin lepas dari tempatnya.
"Jangan gugup My Kiran, aku yakin kau akan menjadi bintang dimanapun tempat mu berada" kata Syalome.
__ADS_1
"Terimakasih Sally" kata Kirana tersenyum.
Sama seperti Rendra tadi, Kirana pun langsung terpesona begitu melihat Rendra yang keluar ruang ganti dengan setelan jas hitamnya. Wajahnya yang tak diragukan lagi membuat siapapun akan terpesona olehnya.
"Ehm...sudah?" kata Kirana.
"Ya setelah ini aku akan mengajakmu ke pesta sahabatku" kata Rendra.
"Pesta Tuan? Kenapa Tuan mengajakku kesana? Aku tidak mengenal mereka" kata Kirana kaget bukan kepalang, apa yang akan dilakukannya nanti, pikirnya.
"Kau tidak harus mengenal mereka, cukup menemaniku saja, itu tugasmu" kata Rendra datar seperti biasa, namun bagi yang terbiasa berbicara dengannya ucapannya itu dibilang lembut.
"Tapi Tuan...."
"Jangan membantah, kau itu bekerja denganku, jadi kau harus menuruti perintahku" kata Rendra memutuskan dengan arogan.
Kirana sedikit mengerucutkan bibirnya tapi tak membantah, ia hanya bisa berharap tidak akan membuat Rendra malu nantinya.
"Ayo" kata Rendra menyodorkan lengannya kepada Kirana sebagai tanda untuk wanita itu memegangnya.
"Hem?" Kirana yang memang dasarnya polos malah kebingungan membuat Rendra kesal.
"Pegang tanganku" kata Rendra.
Mata Kirana membulat sempurna, apakah ia tidak salah dengar? Tapi melihat sorot mata Rendra yang tajam itu membuat ia secara impulsif langsung melingkarkan tangannya ke lengan Rendra membuat pria itu sedikit tersenyum namun tak terlihat.
"Kita berangkat sekarang" kata Rendra lagi.
"Baik Tuan" kata Kirana mengangguk patuh.
"Jangan memanggilku seperti itu" kata Rendra melirik Kirana yang berjalan disampingnya.
"Lalu aku harus memanggil apa?" kata Kirana benar-benar dibuat kebingungan dengan tingkah Rendra hari ini.
"Panggil saja namaku"
"Rendra?" kata Kirana setuju saja.
"Ya" kata Rendra tersenyum tipis, ia lebih nyaman jika Kirana memanggilnya seperti itu.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.