
Eril berlari-lari kecil saat sampai di rumah sakit, ia beberapa kali menabrak orang yang berlalu lalang karena sangking terburu-buru. Setelah naik lift, ia kembali menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu. Dilihatnya Bram masih duduk seraya menunduk di depan ruang pemeriksaan Rendra.
"Bram?" ucap Eril membuat pria itu menoleh.
"Selamat malam Tuan Eril," Bram langsung bangkit dan memberikan hormatnya kepada Eril.
"Bagaimana keadaan Kakak?" tanya Eril langsung.
"Dokter sedang memeriksanya Tuan," jelas Bram.
"Aku tidak akan mengampuni orang yang melakukan itu pada Kakakku," kata Eril begitu geram rasanya.
Tak lama setelah kedatangan Eril, Dokter yang menangani Rendra keluar dari ruang pemeriksaan. Eril langsung bangkit dan mendatanginya.
"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok,?" tanya Eril.
"Keadaannya saat ini masih kritis. Racun yang tidak sengaja di minumnya itu jenis racun yang langka. Tapi untungnya pasien cepat di bawa kesini, jadi belum banyak yang menyebar ke tubuh pasien, tapi sekali lagi saya katakan, keadaan pasien saat ini masih kritis," ujar Dokter menjelaskan.
"Terimakasih Dokter," ucap Eril sedikit bernafas lega karena Kakaknya masih selamat.
Karena Rendra masih harus dirawat secara intensif, Eril belum bisa menemuinya. Ia hanya bisa melihat Kakaknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen di hidungnya.
Rendra itu jarang sakit, pria itu sangat rajin merawat diri dan selalu mengatur pola makannya. Bahkan mungkin jika di ingat, Rendra hanya pernah sakit satu kali saat SMA karena habis jatuh dari motor. Selain itu Rendra selalu baik-baik saja. Tapi sekarang Kakaknya itu sampai kritis hanya gara-gara pengkhianat itu.
"Tuan Eril" Bram terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Eril.
"Ada apa Bram?" tanya Eril.
"Penjaga di rumah melaporkan kalau Nona Kirana sudah pergi dari rumah lewat pintu belakang. Saat di lihat dari CCTV, ternyata Nona Kirana pergi di jemput oleh sebuah mobil hitam" ucap Bram.
"Brengsek! Jadi benar kalau wanita sialan itu yang meracuni Kakakku" kata Eril mengepalkan tangannya erat.
"Selain itu Tuan, anak buah kita melaporkan kalau mereka sudah berhasil melacak keberadaan Nona Gwi, beliau berada di club Paradise Night bersama Nona Jingga," ujar Bram lagi.
Eril berdecak kesal, adiknya itu memang tidak tau yang namanya bahaya. Padahal selama ini ia sudah mewanti-wanti untuk tidak datang ke tempat itu. Tapi adiknya itu memang nekat dan sangat keras kepala.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjemput Gwi dulu. Kau disini, jaga Kak Rendra. Tempatkan juga para penjaga khusus di sekitar rumah sakit ini. Kita tidak tau kapan musuh akan menyerang kembali," kata Eril memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Baik Tuan,"
"Oh ya satu lagi, apa kau sudah menghubungi Papa tentang masalah ini?" tanya Eril.
"Sudah Tuan Eril, beliau mengatakan akan datang besok karena tak ingin membuat Nyonya Bella panik nantinya," ucap Bram dengan lugas.
Eril mengangguk singkat, ia tak ingin menyembunyikan masalah apapun dari orang tuanya. Tapi jika Mamanya tau masalah ini sekarang, Eril takut tekanan darah Mamanya akan naik nanti.
*****
Jingga memutuskan untuk kembali masuk ke club, ia menajamkan pandangannya untuk mencari Gwiyomi dan juga menghindari pria gila tadi. Tapi cahaya ruangan itu sangat remang membuat ia kesusahan mencari sahabatnya itu.
"Aduh Gwi... Lu dimana sih,?" gumam Jingga berjalan menjauh mencari tempat yang cukup sepi. Dia harus menelpon Gwi, siapa tau wanita itu mengangkatnya.
Namun, saat Jingga tiba di lorong yang lumayan sepi. Ia justru melihat Gwiyomi di tarik dengan kasar oleh seorang pria. Mata Jingga membulat sempurna.
"Gwi!!!!" teriak Jingga berlari mengejar Gwi.
"Jingga! Bantuin gue," ucap Gwi masih terus meronta agar Maxi melepaskannya, tapi tenaganya tak cukup kuat.
"Lepasin temen gue!" kata Jingga dengan suara lantang.
Maxi hanya menyeringai dan menatap Jingga denga sinis. "Pergilah, jangan ikut campur masalahku kalau kau masih ingin hidup" ucap Maxi dengan nada mengancamnya.
Jingga menelan ludahnya kasar, nyalinya seketika ciut saat melihat tatapan mata Maxi, tapi dia tidak boleh takut, dia tidak bersalah.
"Aku tidak takut padamu! Cepat lepaskan temanku atau aku akan menggigit mu" kata Jingga asal saja.
Gwiyomi menepuk kepalanya mendengar ucapan absird dari Jingga, tapi bodo amat lah. Yang penting dia bisa lepas dari pria menyeramkan ini.
Maxi hanya tersenyum sinis, tanpa mengatakan apapun dia kembali menyeret Gwi agar pergi dari sana.
"Hei! Aku tidak mau ikut denganmu, lepaskan aku!" teriak Gwi.
__ADS_1
"Jingga! Tolongin gue!" teriaknya lagi menatap Jingga yang kebingungan itu.
Jingga bingung apa yang harus dilakukannya, apakah dia menggigit Maxi saja? Dia tidak punya kekuatan apapun selain hal itu. Akhirnya dia pun ikut berlari menyusul Gwiyomi.
"Lepaskan sahabatku pria gila!" ucap Jingga menarik pundak Maxi dengan keras hingga pria itu menatapnya.
Tak membuang waktunya, ia langsung saja menarik tangan Maxi yang satunya lalu mengigit jarinya dengan keras.
"Argghh....!! Lepaskan! Wanita gila...shittttt!!!" Maxi mengumpat-umpat kasar saat merasakan bagaimana sakitnya gigitan Jingga, kekuatannya pun mengendur pada tangan Gwi membuat wanita itu langsung melepaskan dirinya.
"Brengsek! Hentikan!" teriak Maxi mengangkat tangannya untuk memukul Jingga agar menghentikan apa yang dilakukannya, tapi Gwi lebih dulu menarik tangannya lalu memelintirnya ke belakang.
"Argh! Argh......" Maxi kembali berteriak kesakitan, dua tangannya di serang oleh wanita itu.
Kemarahan Maxi langsung memuncak, dengan sekuat tenaga, ia menarik tangannya dari Jingga lalu dengan cepat ia menampar wanita itu dengan keras hingga Jingga langsung jatuh dan pingsan.
"Jingga!" Gwi berteriak kaget melihat sahabatnya tak sadarkan diri itu, ia langsung melepaskan tangannya dari Maxi.
Maxi benar-benar sangat marah kali ini, tangannya juga berdarah karena ulah Jingga, ia sekarang menatap Gwiyomi seperti serigala memindai mangsa.
"Kau tidak akan bisa lolos!" ucap Maxi yang sudah begitu geram, langsung saja menarik tangan Gwi lalu memukul tengkuknya hingga wanita itu pingsan.
Maxi langsung membawa Gwi pergi darisana, tak memperdulikan Jingga yang tergeletak tak berdaya itu. Bukan salahnya jika harus melukai Jingga, dia sendiri yang mengantarkan dirinya dalam masalah.
"Kita kemana Tuan?" tanya supir Maxi setelah melihat Tuannya sudah masuk kedalam mobil.
"Apakah kau sudah mendapatkan laporan dari Franky?" tanya Maxi.
"Ya sudah, beliau mengatakan kalau Nona Kirana sudah berhasil melakukan tugasnya, sekarang beliau sedang dalam perjalanan ke rumah utama" kata Supir pribadi Maxi.
"Suruh dia putar balik, malam ini kita tidak akan pulang ke rumah" kata Maxi dengan senyum misteriusnya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1