
Rendra hanya diam memandang wajah cantik Kirana yang mulai kehilangan kesadaran, ia langsung menggendong wanita itu dan merebahkannya di kasur. Kenapa sekali lagi hatinya kembali luluh? Apakah benar semua yang dilakukan ini juga hanya sandiwara? Kenapa ada orang yang bisa memalsukan kesedihan sampai seperti ini?
"Aku ingin dia di jaga penuh, aku tidak kejadian seperti ini terulang kembali" kata Rendra memberitahu penjaga yang ia tugaskan untuk menjaga Kirana.
"Baik Tuan" kata penjaga itu mengangguk mantap.
Rendra langsung pulang ke rumahnya setelah memastikan kalau wanita itu baik-baik saja, sebenarnya pikirannya cukup tak tenang tapi dia tidak bisa jika harus menginap disana karena kedua orang tuanya pasti akan curiga.
Sesampainya di rumah, ternyata ada tamu yang membuat Rendra mengurungkan niatnya untuk langsung tidur ke kamar.
"Mama" kata Rendra menyapa Mamanya yang terlihat sedang berbicara santai dengan sosok perempuan yang kini duduk dengan posisi membelakanginya.
"Baru aja diomongin ternyata udah dateng aja anaknya" kata Bella tersenyum melihat kedatangan anaknya.
"Rendra, ini ada temen kamu, kamu nggak lupa kan sama dia?" kata Bella lagi menyuruh anaknya mendekat.
Rendra mengerutkan dahinya saat Mamanya mengatakan kalau wanita ini adalah temannya, ia pun langsung melihatnya saat wanita itu bangkit dan menatapnya.
"Hai" kata wanita itu tersenyum manis.
"Yolan?" kata Rendra kaget saat bisa melihat teman SMAnya ada disini. Sebenarnya bukan, tapi karena kedua orang tua mereka berteman dekat, hubungan mereka pun juga cukup dekat.
"Aku kira kamu nggak inget aku, kamu apa kabar?" kata Yolan tersenyum senang lalu tanpa canggung langsung memeluk Rendra.
Bella sedikit kaget melihat tingkah Yolan itu, tapi dia hanya tersenyum canggung.
"Aku baik, kamu kenapa ada disini?" kata Rendra juga langsung melepaskan pelukan singkat itu karena ia pun tak nyaman.
"Nggak seneng ya aku main kesini? Udah lama banget loh kita nggak ketemu" kata Yolan memasang wajah cemberutnya, meskipun cemberut ternyata masih begitu cantik.
"Bukan gitu, aku hanya kaget, seingat ku kau kuliah di New York" kata Rendra menggaruk alisnya yang tak gatal.
"Aku udah nyelesaiin kuliahku tau, gimana sih? Kamu aja udah lulus dua tahun lalu, aku yang lemot" kata Yolan tertawa manja.
"Kalian lanjut ngobrol ya, Tante buatin minum dulu" kata Bella memberi ruang kepada mereka, ia juga tidak mungkin terus mengawasi anaknya.
"Nggak usah repot-repot tante, saya udah mau pulang kok" kata Yolan menolak sungkan.
"Nggak repot kok, tunggu ya" kata Bella lagi.
__ADS_1
"Jadi gimana? Udah lulus sekarang?" kata Rendra tak enak jika sudah ditemui tapi dia hanya diam saja.
"Iya, aku mau buka usaha butik, kata Mamaku perusahaan kamu juga menerima jasa penyewaan gedung, aku boleh dong lihat-lihat listnya nanti, siapa tau ada yang cocok" kata Yolan terdengar cukup santai.
"Boleh boleh, langsung ke kantor aja, nanti kamu bisa langsung ke bagian pemasaran, disana banyak gedung yang bisa kamu pilih" kata Rendra setuju-setuju saja.
"Lewat kamu aja nggak bisa ya? Kita kan udah kenal, bisa lah kalau lewat CEO nya langsung" kata Yolan sedikit menggoda Rendra yang sangat kaku itu.
"Bisa aja Yol, kamu mau lihat gedungnya kapan? Kamu atur dulu deh jadwalnya, takutnya nanti bentrok sama jadwal aku" kata Rendra.
"Nah, gitu kan lebih enak" kata Yolan mengembangkan senyum manisnya, ia tampak senang karena Rendra menyetujui permintaannya.
"Ya" kata Rendra sepertinya tak punya topik yang harus dibahas.
"Ehm, kayaknya udah malem deh, aku pulang dulu ya" kata Yolan sedikit canggung karena Rendra hanya diam saja.
"Nggak mau nungguin minum dulu?" kata Rendra entah kenapa malah senang jika Yolan akan pulang.
"Nggak usah deh, nanti kalau kemalaman malah susah dapat taksinya" kata Yolan lagi.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke depan" kata Rendra.
Ucapan Rendra itu hampir saja membuat hati Yolan begitu senang tapi saat mendengar akhir kalimatnya harapannya langsung terjun bebas.
"Iya tante, udah malem takut nggak dapat taksi nanti" kata Yolan tersenyum sopan.
"Kamu naik taksi kesini?" kata Bella.
"Iya tan, mobil aku ada di bengkel soalnya" kata Yolan.
"Oh, biar dianterin Rendra aja kalau gitu, udah malem loh, bahaya kalau perempuan naik taksi malam-malam sendirian" kata Bella teringat pengalamannya dulu yang diculik.
"Eh? Nggak usah tan, Rendra pasti capek banget baru pulang kerja, aku pesen taksi online aja" kata Yolan menolak halus, padahal dirinya sudah begitu senang jika Rendra benar-benar mengantarnya.
"Nggak apa-apa, belum di pesen kan taksinya? Rendra mau kan anterin Yolan pulang?" kata Bella menatap putranya yang hanya bisa memasang wajah dingin.
"Ya" kata Rendra dengan sangat terpaksa, tak ingin menolak keinginan Mamanya.
"Ayo" kata Rendra lalu menatap Yolan sekilas sebelum berjalan mendahuluinya untuk keluar rumah.
__ADS_1
Yolan mengembangkan senyum tipisnya yang tak terlihat, ia memberikan salamnya kepada Bella lalu menyusul Rendra. Akhirnya keinginannya tercapai juga untuk bisa di antar pulang oleh Rendra. Dengan begini, waktu mereka berdua akan lebih banyak, tapi....
"Kakak mau kemana?" tanya Gwiyomi yang baru saja datang bersama Jingga.
"Mau nganterin dia pulang, kamu jam segini baru pulang darimana saja?" kata Rendra menatap adiknya penuh selidik.
"Oh kita baru aja ngerjain tugas kampus, ini aja belum selesai mau aku lanjut dirumah, iya kan Jing?" kata Gwiyomi sedikit gugup dan menatap Jingga yang kaget karena dia ikut disebut.
"Ah iya Kak Rendra, kita baru selesai ngerjain tugas" kata Jingga melirik Gwi sebal karena selalu saja dia yang dijadikan tameng, padahal seharian ini dia sudah diajak temannya itu untuk menjadi obat nyamuk.
"Tuh kan, aku bilang apa? By the way... dia bukannya kak Yolan ya? Ngapain dia disini?" kata Gwiyomi sedikit tak suka dengan wanita itu.
"Hai Gwi, kamu apa kabar? Lama banget nggak ketemu, kamu udah sebesar ini?" kata Yolan mencoba ramah dengan adik Rendra.
"Ya aku kan tumbuh, nggak mungkin aku kecil terus" kata Gwi ketus membuat raut wajah Yolan berubah.
"Gwi...yang sopan kalau bicara dengan orang yang lebih tua" kata Rendra tak suka dengan sikap adiknya.
"Ya maaf, kalian mau pergi kemana?" kata Gwi lagi.
"Kakak mau mengantar Yolan pulang, kalian masuklah, jangan terlalu lama di luar, angin malam tidak bagus untuk tubuh" kata Rendra.
"Kakak mau nganterin dia pulang?" kata Gwi kaget
"Ya"
"Aku ikut" kata Gwi cepat. Ia tak akan membiarkan kakaknya ini bisa berduaan dengan Yolan.
"Untuk apa? Kau baru saja pulang" kata Rendra menatap adiknya tak mengerti.
"Aku mau membeli pembalut di indomei depan" kata Gwi mencari-cari alasan.
"Baiklah, ayo kalau begitu" kata Rendra.
Yolan hanya bisa berwajah masam, adik perempuan Rendra yang satu ini memang sangat menyebalkan, ia tau kalau Gwi hanya mengada-ngada saja, wanita itu pasti hanya akan mengganggunya saja.
"Eh! Kenapa kau ikut kak Rendra? Kau bilang ingin menemaniku lihat drakor, gimana sih" kata Jingga memprotes.
"Nanti aku akan menemanimu, sekarang aku harus mengamankan kakakku dari wanita ular itu dulu"
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.