
Kirana terbangun saat merasakan hawa dingin menyergap punggungnya. Ia membuka matanya yang terasa masih sangat lengket. Kirana sedikit mendesis saat merasakan tubuhnya remuk redam, ia lalu menatap sekelilingnya yang terlihat cukup asing.
"Dimana ini ... ." gumam Kirana mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Kirana mencoba duduk, namun pada detik itu selimut yang di pakainya melorot sampai ke perut hingga Kirana melihat kalau ia tidak mengenakan apapun.
"Argh!!!" Kirana reflek berteriak, ia menarik kembali selimutnya.
Apa yang terjadi?
Kirana memejamkan matanya rapat, mencoba mengingat semua kejadian kemarin. Saat Kirana ingat apa yang sudah dilakukannya, seketika matanya membulat sempurna. Dia dan Rendra sudah melakukannya. Kirana sangat ingat bagaimana Rendra menyentuhnya dengan perasaan yang menggebu. Bahkan sekarang masih bisa merasakan sentuhan itu.
"Ada apa, Kiran? Kenapa kau berteriak?"
Kirana tersentak saat mendengar suara Rendra, ia langsung menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Kirana malu jika harus menunjukan wajahnya di depan Rendra. Apalagi pria ini sudah membuatnya lupa segalanya semalam.
Rendra mengerutkan dahinya, heran kenapa Kirana kembali tidur lagi. "Kau kenapa? Apakah sakit?" tanya Rendra mendudukkan dirinya di samping Kirana. Wajahnya tampak khawatir karena berpikir Kirana kelelahan atau bagaimana.
Kirana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya di dalam selimut. Argh! Rasanya ia ingin punya kantong ajaib dan pergi sejauh mungkin dari sini. Ya ampun, dia malu, sangat-sangat malu.
"Kalau tidak apa-apa kenapa tidur lagi? Ayo bangun," ucap Rendra menarik selimut Kirana.
"Jangan!" teriak Kirana mempertahankan selimutnya, sungguh ia belum siap bertemu dengan Rendra.
Rendra semakin menekuk wajahnya, sedetik kemudian ia menyeringai. Rendra tiba-tiba langsung merebahkan dirinya lalu memeluk Kirana erat.
"Kenapa tidak bilang saja kalau kau mengajakku tidur lagi? Aku dengan senang hati akan melakukannya," ucap Rendra tersenyum jahil.
"Tidak! Lepaskan aku Rendra!" seru Kirana membuka selimutnya, ia cukup engap karena Rendra memeluknya erat.
"Tidak mau, siapa suruh menggodaku? Kenapa? Apa mau meminta lagi?" ujar Rendra mengerlingkan matanya menggoda.
__ADS_1
"Minta lagi? Minta apa?" tanya Kirana tidak paham.
"Minta diginiin lagi," sahut Rendra menggulingkan tubuhnya hingga berada di atas Kirana.
"Ha? Tidak, tidak, aku tidak mau," ucap Kirana menggelengkan kepalanya cepat, gila apa Rendra mau meminta lagi? Semalam saja mereka entah sudah melakukannya berapa kali.
"Ya, lebih tepatnya aku tergila-gila padamu," ucap Rendra tersenyum seraya merapikan rambut Kirana yang masih acak-acakan.
"Ish, jangan menggombal. Lepasin ah, aku mau mandi, Budhe pasti mencari ku, aku harus pulang," ucap Kirana cukup tak nyaman karena Rendra terus berada di atasnya.
"Bisakah aku memintamu jangan pulang dulu?" ucap Rendra memandang Kirana sendu, ia masih belum rela jika harus berpisah dengan Kirana lagi.
Kirana terdiam, jika Rendra memaksanya, ia akan mudah membantah dan membangkang. Namun jika Rendra bersikap manis seperti ini, lidahnya seolah kelu untuk sekedar menjawab.
"Rendra, aku ..." Kirana ragu untuk mempertanyakan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.
"Sstt ... percayalah, aku pasti tanggung jawab. Aku pasti menikahi mu Kiran," ucap Rendra sudah tahu apa yang di pikiran Kirana.
"Tapi bagaimana dengan keluargamu? Aku tidak keberatan jika mereka membenciku, tapi aku tidak mau mengorbankan dirimu hanya karena aku," ucap Kirana masih ingat jelas bagaimana adik Rendra yang sangat membencinya.
Tangis Kirana langsung pecah mendengar ucapan tulus dari Rendra. "Aku juga mencintaimu, Rendra ..." ucap Kirana dengan suara yang bergetar, hatinya sudah lelah menekan dalam-dalam perasaan yang sejatinya tak pernah hilang dari dirinya.
"Jadi, kau mau terus berjuang bersamaku 'kan?" tanya Rendra sudah sangat senang Kirana berani membalas ungkapan cintanya.
Kirana hanya mengangguk singkat, tatapan matanya begitu sendu dan terharu. Seharusnya ia tidak boleh egois memikirkan sendiri perasaannya, Rendra sudah memberinya cinta yang tulus, kenapa ia selalu menyakitinya.
Rendra tersenyum lega, ia langsung memeluk Kirana erat dan dibalas tak kalah eratnya oleh Kirana.
"Terima kasih, terima kasih Kiran. Aku mencintaimu," ucap Rendra tak henti menciumi rambut Kirana.
Kirana hanya diam saja, ia mencium harum tubuh Rendra dalam-dalam seraya menangis lirih.
__ADS_1
"Mulai saat ini, kita akan berjuang bersama-sama. Jika suatu saat nanti ada sesuatu yang membuatmu ragu, katakan saja padaku. Jangan memendamnya sendiri, Kiran. Tolong, percayalah padaku," ucap Rendra menggenggam tangan Kirana erat.
"Iya, maafkan aku sudah memilih pergi," ucap Kirana juga merasa bersalah.
"Tidak dimaafkan, kau harus aku hukum," ucap Rendra tersenyum usil.
"Hukum? Kau yakin akan menghukum ku?" ujar Kirana kali ini lebih berani menatap wajah Rendra.
"Sangat yakin, dan karena kau sudah membuatku sakit hati. Maka hukumannya akan berubah lima kali lipat," ucap Rendra langsung me lu mat bibir mungil Kirana.
Kirana yang tak siap tentu kewalahan menghadapi serangan membabi buta dari Rendra. Ternyata meskipun Rendra belum pengalaman, pria itu sangat tahu bagian mana saja yang bisa membuat Kirana mengeluarkan suara.
"Ah ... Rendra," Kirana men de sah lirih saat Rendra bermain-main di dadanya. Tangannya reflek menjambak rambut pria itu untuk melampiaskan rasa yang membuat dirinya tak kuasa untuk membuka mata. Apalagi tangan Rendra ikut bekerja memberinya sentuhan di bawah sana.
"Rendra!" Kirana memekik saat Rendra menambah tempo sentuhannya, beberapa saat kemudian tubuhnya sudah menggelinjang karena mendapatkan pelepasannya.
Rendra tersenyum menatap Kirana, ia kembali mencium kening Kirana, lalu matanya, hidung, dan terakhir me lu mat kembali bibir Kirana seraya mendorong miliknya perlahan-lahan menuju lorong sempit yang sudah menunggunya.
Beberapa saat kemudian, de sa han keduanya sudah terdengar memenuhi kamar. Bahkan Rendra tak hanya melakukannya dengan gaya biasa saja, ia juga meminta Kirana untuk berada di atas, membuat sensasi yang berbeda bagi keduanya.
Pagi itu baik Rendra dan Kirana benar-benar liar dan menggila. Kirana seolah tak mau kalah dan berusaha mengimbangi permainan Rendra dengan sama liarnya.
Seolah tak puas bermain di ranjang, Rendra kembali mengajak Kirana berbagi peluh bersama di kamar mandi.
"Rendra, ah ... apakah masih lama?" ucap Kirana menggenggam erat wastafel di depannya, lututnya sudah terasa lemas karena sudah mendapatkan pelepasannya dua kali, namun Rendra belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai.
"Sebentar lagi," Rendra memeluk Kirana dari belakang, ia menatap wajah Kirana yang tampak sangat seksi dari kaca di depannya. Sesekali Rendra menggigit punggung Kirana yang terlihat mengeluarkan keringat.
"Rendra, aku ..." Kirana tak tahan saat Rendra mempercepat gerakannya, ia me re mas tangan Rendra yang berada di pinggangnya.
"Bersama," ucap Rendra menenggelamkan wajahnya di tengkuk Kirana, gerakannya mulai tak terkendali dan beberapa saat kemudian, Rendra sudah mengigit pelan tengkuk Kirana untuk merendam suara erangannya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.