
Rendra duduk di balkon kamarnya, dengan ditemani sebatang rokok ia menikmati keheningan malam yang sangat ia sukai. Beberapa hari ini dia jarang bisa tidur, entah memikirkan apa dia sendiri tak tau, tapi yang jelas tidurnya selalu tak tenang, seperti ada sesuatu yang mengusik hati, tapi apa?
"Belum tidur kak?" terdengar suara Eril datang menyusul kakaknya.
"Ya, ada apa kau kemari?" kata Rendra melirik adiknya sekilas.
"Tidak ada, anak buah kita baru saja melaporkan kalau wanita itu kabur dari rumah Maxi" kata Eril.
"Sesuai rencana kan? Gwi sudah berhasil membujuk Maxi untuk membiarkannya lolos" kata Rendra.
"Ya, setelah ini apa yang harus kita lakukan?" kata Eril menunggu perintah kakaknya.
"Biarkan saja dulu, aku ingin lihat sejauh mana wanita itu akan kabur" kata Rendra tersenyum sinis jika mengingat wajah polos Kirana.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar kalau begitu" kata Eril mengangguk mengerti.
****
Maxi berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat begitu mewah, memiliki gaya modern namun juga sangat unik, menurut data yang diperoleh, rumah ini adalah rumah Gwiyomi membuat ia langsung memutuskan datang kesini.
"Selamat Pagi Tuan, anda mencari siapa ya?" tanya pelayan ketika membukakan pintu untuk Maxi.
"Apakah benar ini rumah Nona Gwiyomi?" kata Maxi.
"Ya benar, anda siapa?" kata pelayan itu lagi.
"Aku temannya, aku sudah membuat janji dengannya" kata Maxi tersenyum senang karena benar kalau ini alamat wanita yang dicarinya.
"Oh, Nona Gwi sedang berenang tuan, mari saya antar" kata Pelayan itu mempersilahkan Maxi untuk masuk.
Maxi langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan rumah itu, benar-benar benda mahal dan berkelas pertanda kalau memang Gwiyomi bukan orang sembarangan. Pandangan Maxi langsung beralih ketika melihat sosok wanita yang dicarinya.
__ADS_1
Gwi datang dengan pakaian renangnya yang bermodel one piece, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan putih mulus. Maxi meneguk ludahnya kasar, sesuatu dalam dirinya langsung bangkit saat melihat betapa seksinya Gwi, ia menatap wanita itu dengan pandangan lapar dan penuh gairah.
"Tuan Maxi? Tidak menyangka kau akan datang" kata Gwi segera memakai handuk kimono menutupi tubuhnya yang sudah sengaja ia pamerkan sejenak kepada Maxi.
"Ya, aku sudah melakukan apa yang kau minta Nona Gwi" kata Maxi seperti susah mengatakannya, pikirannya pecah karena pemandangan didepannya.
"Oh, Dan?" kata Gwi tersenyum senang.
"Ya umpan kita pasti akan segera ditangkap oleh Rendra" kata Maxi terus menatap keseluruhan tubuh Gwi yang terlalu menggoda untuk dilewatkan.
"Itu hal bagus, aku yakin sebentar lagi Rendra akan memakan umpan kita, tapi kau tidak cemburu kan kalau calon istrimu itu bersama Rendra?" kata Gwi lalu dengan sengaja merubah posisi duduknya hingga memperlihatkan paha mulusnya, ia dengan santai mengusap-usap rambutnya dengan gerakan halus sekali.
Maxi terdiam, sepertinya wanita ini benar-benar ingin menarik sisi kejantanannya. pikir Maxi.
"Oh tentu aku tidak cemburu Nona Gwi, bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku dan dia sudah tidak punya hubungan, dia tidak berarti apapun bagiku" kata Maxi tersenyum manis.
"Oh kalau begitu kau tidak masalah kan jika harus bersabar sebentar? Apakah kau masih ingin disini? Jika iya silahkan, tapi sepertinya aku harus pergi dulu, aku sangat sibuk hari ini. Semoga harimu menyenangkan Tuan Maxi" kata Gwi lalu bangkit berjalan begitu saja melewati Maxi.
Gwi kaget tentunya, tapi dia mencoba besikap biasa saja dan tenang.
"Ada apa Tuan Maxi?" kata Gwi tak ada penolakan sedikitpun.
"Kau ingin bermain-main denganku ya?" kata Maxi menatap Gwi sedikit tajam.
Gwi tersenyum lalu mendorong tubuh Maxi pelan, herannya tak ada perlawanan dari pria itu, tubuhnya seolah terhipnotis hingga tak berdaya dan melepaskannya.
"Semua tergantung dengan apa yang kau pikir main-main, aku sudah terlambat, permisi Tuan Maxi" kata Gwi mengulas senyum nakal yang membuat Maxi hampir gila rasanya.
Maxi ingin mengejar namun rasanya itu tak pantas, ia sadar kalau Gwi bukanlah wanita yang seperti Kirana, dia gadis yang punya segalanya, dia gadis yang punya karakter dan yang pastinya tak bisa dia mainkan seenak hatinya seperti Kirana. Rasanya Maxi sudah mendapatkan wanita yang begitu sempurna untuk menjadi pendamping hidupnya.
*****
__ADS_1
Gwi berjalan cepat masuk kedalam kamarnya, ia ingin segera membasuh seluruh tubuhnya karena jijik baru saja berpelukan dengan Maxi, pria itu memang benar-benar kurang ajar sekali. Gwi segera membuka kimononya namun belum jadi saat melihat sosok Eril ada di kamarnya.
"Aaaaaa......untuk apa Kakak disini?" kata Gwi kaget tentunya menebak kapan Eril masuk kesana.
"Apa yang kau lakukan?" kata Eril terlihat begitu kesal.
"Melakukan apa?" kata Gwi tak mengerti.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan terlalu keterlaluan, kenapa kau harus memakai baju seperti ini? Aku melarangmu melanjutkan rencana ini kalau begitu" kata Eril juga tidak suka dengan cara adiknya yang terlalu berlebihan menggoda Maxi.
"Keterlaluan apa sih kak? kayak Kakak nggak pernah lihat cewek kayak gini aja" kata Gwi sedikit mencibir kakaknya.
"Itu beda cerita, mau cewek diluar sana telanjang aku juga tidak perduli, sekarang ganti bajumu, aku akan mengantarkan mu ke kampus, sekalian kenalan sama cowok yang namanya Evan" kata Eril langsung membuat mata Gwi membesar.
"Kakak jangan main-main ya, aku sama Evan nggak ada apa-apa, dia cuma temen kampus aku" kata Gwi panik karena jika menyangkut pria yang mendekatinya, kedua kakaknya pasti akan langsung melakukan tindakan.
"Temen ya? Sampai kamu ajakin nonton berdua? Mau kenalin ke aku atau barengan sama Kak Rendra?" kata Eril tersenyum kecil.
"Enggak! Pokoknya kakak jangan ganggu Evan, aku yang bakalan jauhin dia, puas?!!!!" kata Gwi berteriak kesal.
Ia sudah sangat tau apa yang akan terjadi kepada pria yang mendekatinya kalau dia terus mempertahankan hubungan ini, sebenarnya Gwi memang tidak ada hubungan apapun dengan Evan, tapi daripada kedua kakaknya yang tidak punya o t ak itu akan membuat pria itu lari terlebih dulu.
"Good girl, sekarang bersiaplah dengan cepat, Aku akan mengatarmu" kata Eril puas sekali, ia bukannya mengengkang Gwi tapi dia hanya tak ingin adiknya ini bertemu pria ba ji ngan yang akan memanfaatkan adiknya.
"Enggak mau, aku mau berangkat bareng Jingga, dia udah otewe kesini" kata Gwi menolak mentah-mentah.
"Itu malah bagus, nanti biar aku antar sekalian kalian berdua ke kampus" kata Eril lagi.
"Kakak memang gila!!" teriak Gwi membanting pintu kamar mandi dengan keras untuk meluapkan kekesalannya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.