Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 67.


__ADS_3

Eril kembali pulang ke rumahnya saat hari sudah cukup malam. Ia sengaja menghindar karena sudah tahu jika akan ada acara lamaran di rumahnya. Tadi Papanya pun sudah menghubunginya, namun Eril sengaja mengabaikannya.


Masih banyak mobil yang terparkir di depan rumah menandakan semua orang belum pulang. Jadi Eril memutuskan untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Saat ia masuk, keningnya mendadak berkerut saat melihat para pelayan sibuk membereskan makanan yang masih utuh.


Aneh.


Hanya satu kata itu yang terpikir oleh Eril. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar, tapi lagi-lagi ada hal yang membuat kerutan di dahi Eril semakin dalam. Semua orang tampak berkumpul di ruang tengah. Ini bukan seperti gambaran yang Eril bayangkan. Kenapa semua orang terlihat sedih? Itu yang dipikirannya saat ini.


"Ada apa ini?" tanya Eril membuat semua perhatian teralihkan. Di detik itu, Eril melihat sosok Mamanya yang menangis di dalam pelukan Neneknya. Bukan itu saja sebenarnya, semua orang terlihat sekali baru saja menangis.


"Mama kenapa, Ma?" Eril menghampiri Mamanya, cemas jika Mamanya sakit lagi atau bagaimana.


Bella masih terus menangis karena acara lamaran Rendra batal. Ia sudah bertanya, tapi putranya itu sama sekali tidak mau menjawab dan memilih langsung pergi begitu saja. Padahal Bella sudah mencoba menerima Kirana dengan ikhlas, tapi kenapa jadi seperti ini.


"Mama sakit? Mama nangis kenapa, Ma?" Eril mengulangi sekali lagi pertanyaannya karena Bella tidak menjawab.


"Eril, biarin Mama tenang dulu," Nenek Tamara memandang teduh kepada cucunya. Tahu jika menantunya saat ini masih sangat syok, ia sendiri sangat kaget karena cucunya gagal bertunangan.


Eril terdiam, merasa tak mendapatkan jawaban di sana. Eril beranjak pergi dari sana, ia harus menemui orang yang bisa menjawab pertanyaannya. Siapa lagi kalau bukan Rendra?.

__ADS_1


"Jangan temui Kakakmu, berikan dia waktu dulu," ujar Nenek Tamara mencegah saat tahu apa yang akan di lakukan cucunya itu.


"Ini ada apa sih? Nggak ada yang mau jelasin ke aku?" ujar Eril merasa semakin kesal.


"Kak Rendra nggak jadi lamaran sama Kak Kiran," tukas Gwiyomi langsung saja memberitahu pokok masalahnya disini. Wajahnya masih sembab karena menangis, tapi ia justru kesal karena merasa Kakaknya di permainkan.


"Apa?" Eril sangat terkejut mendengar perkataan Gwiyomi. Ia pikir semuanya sudah berjalan lancar, tapi kenapa malah seperti ini? Pikirnya.


Tanpa mengucapkan apapun, Eril segera pergi dari sana. Ia mencari Papanya yang sejak tadi tak dilihatnya. Tapi kenapa dia harus bingung? Bukankah ini justru menjadi hal bagus? Kakaknya tidak jadi menikah dengan wanita licik itu.


*****


Ini adalah hari ke 14 Kirana pergi, Rendra pikir ia akan melanjutkan kembali hidupnya seperti biasa, namun nyatanya perpisahan ini sangatlah menyakitkan baginya. Kirana itu cinta pertamanya, orang pertama kali berhasil menyentuh hatinya, tapi kenapa Kirana lebih memilih pergi?


"Argh!" Rendra tiba-tiba berteriak dan melempar gelas yang di pegangnya itu hingga hancur berkeping-keping.


"Bodoh! Kenapa aku harus seperti ini! Aku tidak mau memikirkan dia! Keluar dari otakku wanita sialan!" Rendra mengamuk, mengambil semua benda yang di jangkauannya lalu melemparkannya seperti orang kesetanan.


Rendra benci semua ini, seharusnya ia tahu kalau cinta tak akan memberikan sebuah kebahagiaan. Seharusnya ia tahu kalau cinta hanya sandiwara bodoh yang mengunci hati manusia hingga melupakan logika. Seharusnya ia tahu kalau cinta itu sama sekali tidak berguna.

__ADS_1


"Kau harus membalas semuanya! Aku tidak akan mengampuni mu Kiran!" teriak Rendra kali ini membanting lampu tidur di samping kasur hingga menimbulkan suara yang sangat keras.


"Rendra! Apa yang kau lakukan!" Bella berteriak histeris saat melihat kamar anaknya yang sangat berantakan. Ia tadinya akan membangunkan Rendra, tapi kenapa jadi seperti ini.


"Mama pergi! Biarkan aku sendiri," ucap Rendra mengatur nafasnya yang terengah-engah. Karena emosi yang sangat, keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya.


"Enggak! Kamu nggak boleh seperti ini terus, kenapa kau harus menghukum diri kamu sendiri seperti ini? Dia sama sekali tidak pantas merubah putraku, kau tidak perlu memikirkan wanita itu lagi," ucap Bella dengan suara yang tegas, namun sejujurnya hatinya sangat sakit melihat hancurnya Rendra.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Mama tidak usah khawatir." Ujar Rendra memilih beranjak masuk ke kamar mandi.


Rendra menatap pantulan wajahnya di cermin, melihat sosok pria tampan yang kini memiliki kumis tipis karena Rendra tak pernah mengurusnya. Rendra berdecih, kenapa ia bisa menjadi sangat menjijikan seperti ini hanya karena memikirkan wanita itu. Wanita itu benar-benar tidak berhak membuatnya seperti ini.


"Berhenti memikirkan wanita itu Rendra! Dia hanya wanita licik yang sama sekali tidak pantas mendapatkan perhatianmu. Apalagi bisa membuatmu seperti ini. Kau harus bangkit, jangan menjadi pecundang lemah yang menangisi seorang wanita"


Rendra menyemangati dirinya sendiri dan tak ingin lagi memikirkan wanita yang bernama Kirana. Baginya Kirana sudah mati dihari wanita itu meninggalkannya.


"Jika kau berani menunjukkan wajahmu di depanku, aku benar-benar tak akan melepaskan mu!" ucap Rendra seolah janji yang harus ditepati.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2