
"Rendra, apa ini? Ini benar-benar sangat cantik," Kirana tak henti berdecak kagum dengan kejutan yang di berikan Rendra padanya.
"Apa kau suka?" tanya Rendra memutar tubuh Kirana agar berhadapan dengannya.
"Suka, malam ini malam terindah dalam hidupku," ujar Kirana memandang Rendra dengan penuh cinta, Kirana bahkan lupa kapan terakhir kali ia merayakan malam tahun baru.
"Malam ini, dan malam-malam seterusnya akan menjadi malam terindah mu Kiran," ucap Rendra tersenyum tulus, ia berjanji dalam hatinya akan membuat wanita ini bahagia selamanya.
"Terima kasih," ucap Kirana balas tersenyum manis.
Rendra mengangguk, lalu tanpa Kirana duga, Rendra tiba-tiba berjongkok di depannya dan mengambil sesuatu di dalam saku kemejanya. Sebuah kotak kecil yang berisi cincin belian yang tempak berkilauan dengan indah.
"Kiran, maafkan aku jika selama ini belum bisa mencintaimu dengan benar. Aku mungkin pria dingin dan tidak peka dengan apa yang kau rasakan, tapi Kiran, percayalah kalau sampai detik ini aku tidak pernah menyesal telah bertemu denganmu. Aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri, dan sampai detik ini aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi Kiran, will you marry me?" Rendra menggenggam tangan Kirana dengan lembut dengan satu tangan masih memegang cincin yang dibawanya.
"Rendra?" Kirana menutup mulutnya syok, matanya berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Rendra yang begitu tulus. Pria ini, kenapa bisa seperti ini?
"Kau belum menjawab pertanyaanku, will you marry me?" Rendra mengulangi lagi perkataannya karena Kirana hanya diam saja.
Kirana mengangguk seraya menangis haru, apalagi yang dia harus ragukan dari Rendra?
"Yes, i will Rendra," ucapnya dengan suara bercampur tangis.
Rendra tersenyum lega, ia segera mengambil cincin berlian itu dan memasangkannya ke jari manis Kirana, ternyata sangat pas dan cocok sekali. Rendra lalu mencium kedua tangan Kirana lalu bangkit dan memeluk Kirana hangat.
"Terima kasih sudah menerimaku," ucap Rendra mencium kening Kirana dalam-dalam seraya mengeratkan pelukannya.
Kirana hanya mengangguk-angguk seraya menangis haru, ia juga memeluk Rendra erat seolah tak ingin terlepas. Setelah cukup lama, Rendra mengurai pelukan mereka lalu memandang Kirana sendu.
Tanpa mengucapkan apapun, mereka berdua menyatukan bibir mereka. Berciuman lembut dan syahdu dengan diiringi petasan yang meledak pertanda malam pergantian tahun baru akan datang.
Di tahun yang baru, Rendra ingin memulai semuanya dengan lembaran baru bersama Kirana.
*****
__ADS_1
Setelah puas menghabiskan waktu berlibur selama dua hari di kapal pesiar. Rendra mengajak Kirana pulang karena banyak pekerjaan yang sudah menunggunya. Dua hari adalah hari yang paling indah dan mengesankan bagi keduanya.
Rendra banyak menunjukan hal baru kepada Kirana. Pria itu mengajaknya menyelam dan menunjukkan keindahan laut yang selama ini tidak pernah Kirana tahu. Rendra juga mengajak Kirana bermain jetski dan masih banyak hal lain yang mereka lakukan bersama.
"Kamu kalau capek tidur aja, perjalanannya masih jauh," ucap Rendra menarik kepala Kirana agar rebah di kepalanya. Wanita itu terlihat pucat sekali.
"Nggak capek, aku malah seneng banget kamu ajak liburan," ucap Kirana tak memperdulikan rasa lelahnya, karena rasa lelah itu seolah tergantikan dengan pengalaman indah yang ia dapatkan.
"Lain kali kita liburan lagi," ucap Rendra juga merasa sangat senang dengan liburannya kali ini.
"Ya, tapi kamu harus janji kalau harus banyak jadwal kita di luar daripada di kamar," ucap Kirana menggerutu kesal karena ingat dengan tingkah mesum Rendra yang selalu mengajaknya berbagi peluh bersama.
"Kalau itu aku tidak bisa janji," ucap Rendra tersenyum manis mengingat percintaan panasnya dengan Kirana.
"Aku nggak mau gituan lagi sebelum kita menikah," ucap Kirana mengernyit.
"Kalau begitu, kita menikah saja," sahut Rendra enteng, malah tak keberatan jika harus menikahi Kirana sekarang.
"Rendra, aku serius," ucap Kirana memandang Rendra sebal.
Kirana mengerutkan dahinya kesal, daripada berdebat dengan Rendra, akhirnya Kirana diam saja selama perjalanan pulang. Saat mereka tiba di rumah pribadi Rendra, sudah ada mobil lain yang terparkir di depan rumah.
"Ada tamu?" tanya Kirana.
Rendra tak menyahut, ia langsung menatap Bram tajam meminta penjelasan.
"Maaf Tuan, Nyonya Bella datang bersama Nona Gwiyomi dan juga Tuan Eril, saya belum mengatakan pada Anda karena Tuan Axel baru saja memberi kabar," ucap Bram memang baru membuka ponselnya, jadi ia tidak tahu apapun tentang kedatangan keluarga Rendra.
"Ck, kenapa kau bisa ceroboh seperti ini," sergah Rendra kesal.
"Keluarga mu datang?" tanya Kirana ikut panik, ia takut jika harus bertemu keluarga Rendra sekarang.
"Ya, kamu tidak perlu takut. Aku selalu bersamamu," ucap Rendra menggenggam tangan Kirana erat.
__ADS_1
"Tapi Rendra ..." Kirana benar-benar ragu, apalagi ada Eril ikut bersamanya.
"Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja, oke?" ucap Rendra meyakinkan Kirana dengan wajah seriusnya.
Kirana tak membantah, tapi ia merasa sangat gugup sekali. Bahkan tangannya kini sudah berkeringat dingin. Rendra yang mengeratkan pegangannya membuat wanita itu menatapnya.
Kirana menghela nafas panjang, ia menormalkan detak jantungnya saat Rendra mengajaknya masuk ke rumah utama. Kirana sempat berhenti melihat tiga orang yang berada di ruang keluarga.
"Mama," panggil Rendra membuat semua orang menoleh.
Kirana menahan nafas begitu semua pandangan tertuju padanya. Pandangan mereka tampak terkejut, tapi juga ada yang menatapnya tajam seperti Eril.
"Kalian? Berdua?" Bella menatap putranya dan Kirana bergantian. Kaget tentunya melihat wanita yang sudah meninggalkan putranya, kini kembali lagi di hadapannya.
"Ya, kita baru saja liburan bersama dan aku akan menikahi Kirana besok," ucap Rendra langsung tanpa basa-basi.
Bella dan yang lainnya kembali syok, Eril pun semakin menajamkan tatapannya kepada Kirana yang hanya menundukkan wajahnya.
"Besok? Kenapa cepat sekali?" tanya Bella merasa semuanya terlalu mendadak.
"Mama setuju atau tidak, kami akan tetap menikah besok," ucap Rendra kini menatap Mamanya sedikit tajam, biarlah dia menentang Mamanya untuk kali ini saja. Dia sudah frustasi jika tak segera memiliki Kirana.
Bella menghela nafas panjang, ia lalu menatap Kirana. "Baiklah, jika itu keputusan kalian, Mama setuju, tapi Mama ingin bertanya satu hal kepada Kirana," ucap Bella tak ingin lagi menahan keinginan putranya, ia tak mau melihat putranya hidup dalam kesedihan karena tak bisa bersama orang yang dicintainya.
Kini giliran Kirana dan Rendra yang terkejut, mereka berdua saling pandang dengan bingung.
"Ma, Mama mau apalagi? Mama mau mengintimidasinya lagi?" ucap Rendra tak bisa mengontrol nada bicaranya karena takut Kirana akan pergi lagi.
"Apa Mama seburuk itu di mata Rendra?" ujar Bella menatap Rendra kecewa.
"Bukan seperti itu, aku-" Kirana segera menahan tangan Rendra agar tidak membantah Mamanya hanya karena membela dirinya.
"Maafkan Rendra Tante, dia mungkin tidak bermaksud seperti itu. Jika Tante ingin bertanya kepada saya, saya tidak keberatan Tante," ucap Kirana memberanikan dirinya untuk menghadapi situasi ini, ia sudah berjanji akan menghadapi semu masalah ini berdua.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.