Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 37.


__ADS_3

Rumah Sakit Medika Jakarta.


Sepeninggal Axel beberapa saat lalu, Eril mendudukkan tubuhnya di kursi. Hari ini banyak sekali hal yang harus dilalui. Padahal pagi tadi, semuanya masih baik-baik saja. Namun hanya beberapa saat kemudian, semuanya menjadi tak terkendali.


Kakeknya yang tiba-tiba sakit, lalu Kakaknya Rendra yang juga keracunan. Sekarang ditambah masalah adiknya Gwi yang diculik oleh Maxi. Benar-benar hari yang sangat melelahkan sekali.


Saat Eril sedang sibuk dengan pemikirannya, pintu ruang rawat terbuka membuat ia langsung mengangkat pandangannya.


"Dokter, bagaimana keadaaan Kakak saya?" tanya Eril langsung.


"Ini benar-benar sebuah keajaiban Tuan, saya sebelumya tidak percaya kalau mukjizat itu ada. Tapi setelah melihat kondisi Tuan Rendra, saya jadi sangat yakin karena ternyata efek racun itu tak berati apapun bagi Tuan Rendra" ucap Dokter itu membuat Eril kaget.


"Apakah itu artinya?"


"Ya Tuan Rendra sudah terbebas dari efek racun itu, tapi saat ini kondisinya masih cukup lemah karena tadi mengeluarkan banyak cairan dari tubuhnya. Tapi kondisi pasien sudah membaik," jelas Dokter itu lagi.


Setelah mengucapkan terimakasih dan basa-basi sejenak, Dokter itu langsung berpamitan pergi. Eril pun segera masuk kedalam ruangan Kakaknya.


"Kak," ucap Eril lega sekali rasanya saat melihat Kakaknya sudah sadar.


"Eril? Lu disini juga?" tanya Rendra sedikit kaget melihat adiknya.


"Iya, bagaimana perasaanmu?" kata Eril menarik salah satu kursi disana lalu mendudukkan dirinya disamping rajang perawatan Rendra.


"Aku tidak apa-apa" sahut Rendra pelan, ia masih cukup lemah untuk bergerak.


"Syukurlah racun yang diberikan oleh wanita itu tidak sampai berakibat fatal," kata Eril lagi.


"Maksudmu?" tanya Rendra tak mengerti.


"Ya, wanita itu yang sudah meracunimu Kak. Sekarang dia sudah kabur bersama anak buah Maxi yang lainnya. Mereka benar-benar sangat licik sekali Kak," kata Eril menggebu-gebu menjelaskannya.

__ADS_1


"Apa kau yakin dia yang meracuniku?" ucap Rendra merasa tak percaya jika Kirana yang akan melakukan ini semua.


"Tentu saja, semuanya sudah terbukti Kak. Kalau bukan dia, untuk apa dia harus kabur. Lagipula aku yakin wanita itu memang sudah bekerjasama dengan Maxi lagi, dia sengaja meracuni mu untuk membuat perhatian kita teralihkan, lalu dia dengan mudah memuluskan rencananya untuk menculik Gwiyomi" ucap Eril dengan nada kekesalannya.


"Maxi menculik Gwi?" tanya Rendra kaget.


"Ya, tapi Kakak tidak perlu khawatir. Papa sudah bisa melacaknya dan sekarang membawa pasukan khusus untuk menyelamatkan Gwi. Untuk menghukum Maxi dan wanita itu juga tentunya, hama seperti mereka memang sudah seharusnya dimusnahkan!" ucap Eril lagi, sorot matanya tampak sangat berapi-api penuh dengan kebencian yang nyata.


Rendra terdiam, dadanya mendadak sangat sesak sekali. Ada perasan tak enak saat ada orang yang membenci Kirana. Ia ingat saat dalam komanya tadi, ia juga mendengar Adiknya yang akan menghukum Kirana, hal itulah yang membuat ia tiba-tiba ingin sekali bangun.


"Kak, aku harap kau tidak terjerat terlalu dalam oleh wanita itu," kata Eril menatap Kakaknya yang hanya terdiam.


"Aku ingin ikut menyelamatkan Gwi, siapkan semua perlengkapan ku," kata Rendra tak menggubris keingintahuan Eril tentang perasaannya, karena ia memang sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada wanita itu.


"Jangan gila Kak! Kau baru saja sembuh, jangan banyak bergerak dulu" kata Eril kaget mendengar keinginan Kakaknya.


"Aku tidak apa-apa. Aku harus memastikan kalau bedebah itu akan mati ditanganku!" kata Rendra tegas, ia mencabut selang infusnya dan langsung saja turun dari ranjang.


Tapi karena tubuhnya masih lemah, ia malah terhuyung dan hampir saja terjatuh kalau saja Eril tidak menangkapnya.


"Aku tidak apa-apa! Cepat saja lakukan tugasmu! Aku akan pergi!" kata Rendra lebih mantap dari sebelumnya. Sorot matanya pun penuh tekad yang membara membuat Eril tal bisa berbuat apapun selain menuruti keinginan Kakaknya.


*****


Kirana duduk meringkuk di dalam sel bawah tanah rumah Maxi. Sakit di kepalanya tak lagi ia rasakan. Yang ada di otaknya saat ini bagaimana caranya ia bisa lolos dari sini lalu akan membunuh iblis itu. Kirana sudah bertekad, jika dia harus mati disini, ia juga akan membawa Maxi ikut mati bersamanya.


Pintu ruangan itu terbuka membuat Kirana langsung meliriknya. Seorang penjaga masuk kedalam sana, namun Kirana hanya bergeming.


"Tuan Maxi memanggilmu," ucap penjaga itu membukakan pintu untuk Kirana.


Kirana menekuk wajahnya, heran kenapa Maxi dengan mudah berubah pikiran. Bukankah pria itu mengatakan untuk membiarkannya mati disana.

__ADS_1


"Apa kau tuli? Cepatlah bangun! Jangan membuat kesabarannya habis!" bentakan dari penjaga itu membuat Kirana kaget.


Kirana langsung bangkit, ia mengecek kalau pisau dibalik bajunya masih aman. Ia lalu berjalan mengikuti penjaga itu menuju ruangan lain. Tapi ia sedikit kaget saat melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya, bukankah itu kekasihnya Rendra? Pikir Kirana.


Gwi pun kaget melihat Kirana ada disana, saat ini tubuhnya di ikat dengan sedemikian rupa membuat ia tak bisa bergerak.


"Kakak! Tolong aku" kata Gwiyomi berpikir kalau Kirana mungkin berada di pihaknya.


"Woho, panggilan yang menyenangkan sekali. Apakah hubungan kalian sudah sedekat itu?" kata Maxi bertepuk tangan seraya tersenyum mengejek.


"Sayang kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" kata Maxi mengulurkan tangannya kepada Kirana pertanda memanggil wanita itu.


Kirana semakin tak mengerti, ia menatap Gwiyomi dan sangat ketakutan itu. Ia lalu menatap Maxi yang menatapnya tajam. Kirana menghela nafasnya, ia harus tenang dan mengikuti keinginan Maxi agar rencananya berjalan mulus.


Kirana menyambut uluran itu membuat Gwiyomi terkejut, ia menatap Kirana tak percaya. Ia pikir setelah apa yang terjadi antara Kirana dan Kakaknya, wanita ini sudah ada di pihak mereka. Tapi ternyata ia salah besar.


Maxi tersenyum puas saat melihat ekspresi Gwiyomi. "Bagaimana Nona Gwi? Kau sepertinya sangat terkejut, apa kau berpikir kalau wanita ini ada dipihakmu?" kata Maxi sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Gwi.


"Sayang, kau sudah tau kan kalau wanita ini adiknya Rendra?" kata Maxi kepada Kirana.


Kirana sempat kaget sesaat mendengar hal itu, tapi ia segera menormalkan ekspresi wajahnya.


"Ya, aku sudah tau" sahut Kirana.


"Bagus, sekarang aku ingin kau melakukan satu hal untukku, apakah kau mau melakukannya?" kata Maxi dengan tatapan tajamnya, tangannya juga meremas pinggang Kirana membuat wanita itu kesakitan.


"Aku mau," sahut Kirana cepat.


"Kau memang wanitaku yang paling penurut" kata Maxi mengelus lembut pipi Kirana membuat wanita itu menahan nafasnya.


"Karena kau sudah berhasil membunuh Kakaknya dengan racun, sekarang aku ingin kau membunuh wanita itu untukku, bagaimana? Kau sanggup bukan?"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2