
Seminggu berlalu dengan cepat, Rendra tidak pernah menemui Kirana lagi. Bukan dia sengaja menghindar atau apa, tapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya belakangan ini. Hubungannya dengan Eril pun masih sangat kaku dan canggung, baik keduanya tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain.
Hari ini Bella sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Rendra terkadang juga menyempatkan diri menjenguk Mamanya di sela-sela kesibukannya, hanya saja Rendra merasakan perbedaan yang sangat terlihat dari Mamanya. Jika Rendra bertanya, Mamanya sering kali menjawab pendek atau lebih senang menghindar.
Rendra tahu apa masalah yang terjadi semua itu pasti ada hubungannya dengan masa lalu Kirana. Tapi dia bisa apa? Dia tidak mungkin bisa memilih antara wanita yang dicintainya atau Mamanya yang telah melahirkannya.
"Mama hari ini udah bisa pulang, aku bantu turun ya, Ma" ucap Rendra menawarkan bantuan kepada Bella yang terlihat kesusahan turun dari ranjang.
Bella hanya melirik anaknya sekilas, ia lalu menatap suaminya yang sedang sibuk menata barang-barang yang akan dibawa pulang.
"By, bantu aku turun. Biarkan Rendra yang membawa barang-barangnya," ucap Bella, belakangan ini ia seringkali mengabaikan Rendra. Rasanya ia masih belum siap jika harus membahas hal yang akan menyakiti hatinya kembali.
Rendra dan Axel saling pandang, mereka seolah tahu kalau saat ini Bella memang belumlah siap. Jadi Rendra tidak ingin memaksanya. Melihat apa yang terjadi, Rendra hanya bisa mengulum bibirnya, ia segera menggantikan sang Papa untuk membawa barang-barang yang akan dibawa pulang.
Di mobil pun tak ada percakapan yang begitu serius, hanya sesekali terdengar Axel menanyakan apakah Bella menginginkan sesuatu atau tidak.
Sesampainya di rumah Rendra berdiam diri di kamarnya, banyak sekali hal yang dia pikirkan. Di sisi lain ia ingin sekali menemui Kirana namun juga belum ada waktu, tapi sebelum itu, Rendra ingin membicarakan semua masalah ini dengan Mamanya.
Jadi seusai makan malam, Rendra meluangkan waktunya untuk menemui sang Mama di kamarnya.
"Mama mana, Pa?" tanya Rendra pada Axel ketika tak sengaja berpapasan di pintu dapur.
"Mamamu sedang menginginkan teh, Papa akan membawakannya dulu," sahut Axel menunjukkan teh yang berada di tangannya.
"Ehm Pa, biarkan aku saja yang mengantarkannya pada Mama," ucap Rendra menatap Papanya dengan tatapan tahu sama tahu.
Axel sempat terdiam sesaat, namun melihat sorot mata anaknya ia mengangguk mengerti.
"Baiklah, tapi jangan terlalu memaksa, Mama baru saja sembuh. Papa tidak ingin Mama kembali ke kambuh nanti," ujar Axel menepuk pelan pundak putranya seolah memberi semangat.
"Terima kasih, Pa" ucap Rendra tulus, Papanya memang sangat mengerti dirinya.
__ADS_1
Rendra membawa teh itu ke dalam kamar Bella, dilihatnya wanita yang telah melahirkannya itu sedang terduduk di samping balkon seraya menatap pemandangan malam. Perlahan Rendra mendekatkan langkahnya.
"Mama belum tidur?" tanyanya dengan nada lembut.
Bella tersentak mendengar suara Rendra, ia langsung menoleh dan bersitatap dengan mata anaknya. "Kenapa kamu yang mengantar? Papa mana?" tanya Bella.
"Papa ada sedikit pekerjaan mah, Mama nggak seneng ya kalau aku yang bawain tehnya?" ucap Rendra mengambil duduk tepat di samping Bella.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" ujar Bella melirik Rendra.
"Maafin Rendra, Ma" ucap Rendra menarik tangan Bella lalu menggenggamnya lembut.
Bella terlihat menarik nafasnya sangat dalam, ia mulai merasa sangat bersalah karena belakangan ini sering mengabaikan putranya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah apapun," ucap Bella mencoba tersenyum meski sangat sulit.
"Mama marah kalau aku punya hubungan dengan Kirana?" ujar Rendra menatap mamanya dengan tatapan sendu.
"Itu semua bukan keinginan Kirana, Ma. Dia terpaksa melakukannya," ucap Rendra mencoba menjelaskan.
"Mama tidak tahu apakah harus percaya atau tidak, Mama hanya berpikir kenapa harus Kirana yang melakukannya? Apakah tidak ada jalan lain selain membuat nama putra Mama menjadi hancur?" ujar Bella.
"Aku tahu kalau Mama pasti ingin yang terbaik untukku. Tapi percayalah Ma, Kirana bukan wanita jahat seperti yang Mama kira. Waktu itu kondisinya benar-benar sulit dan dia hanya bisa melakukan hal itu jika ingin menyelamatkan nyawa ibunya." Ucap Rendra terdengar penuh emosi, ia ingin mengucapkan hal yang sebenarnya terjadi agar Mamanya tidak salah paham.
"Kalau kamu memang mencintainya, kamu boleh menikah dengannya," ucap Bella membuang pandangannya ke depan, rasanya tak tega jika membiarkan anaknya patah hati demi menuruti keinginannya.
"Mama setuju?" tanya Rendra mengejar mata Mamanya yang sengaja menghindarinya.
"Jika kamu bahagia, Mama juga ikut bahagia. Setidaknya hal itu yang hanya bisa Mama lakukan," ucap Bella benar-benar tak tega untuk menatap wajah Rendra yang saat ini terlihat sekali sangat memelas.
Kali ini giliran Rendra yang terdiam, itu bukanlah sebuah jawaban. Ia tahu kalau Mamanya belum bisa menerima Kirana. Bagaimana mungkin ia bisa menikah tanpa restu dari Mamanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan keluar dulu. Mama istirahat, obatnya jangan lupa diminum ya Ma. Biar Mama cepat sembuh," Rendra bangkit dari duduknya, tak lupa ia menyempatkan diri untuk mencium kening Mamanya sebelum ia pergi. Tak ada gunanya jika ia terus memaksa menjelaskan, saat ini Mamanya masih terlalu syok dan belum merima semua kenyataan ini.
Bella hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat, rasa bersalah dan juga tak rela seketika menggelayuti dirinya. Apakah salah jika dia bersikap seperti ini?
*****
Hari ini hari yang sangat cerah, namun cuaca cerah itu sepertinya tak berlaku bagi Kirana. Hari-harinya hanya diliputi rasa gelap dan mendung hitam. Entah sudah berapa lama sejak kejadian ia datang ke rumah Rendra, pria itu sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Jika memang sibuk, mungkin sekedar menghubunginya juga sama sekali tidak dilakukan.
Kirana sering bertanya-tanya, apakah Rendra sudah menyerah dan tidak ingin memperjuangkannya kembali? Tapi Kirana juga sadar diri jika hubungan mereka diteruskan, hanya akan menyakiti hati keluarga Rendra dan Kirana tak ingin hal itu sampai terjadi.
"Kiran, jangan melamun terus, kamu nggak lihat semua apel itu sudah penuh? Kenapa kamu terus mengisinya?" tegur senior Kiran di Toserba.
Kirana terkejut melihat apa yang dilakukannya. "Maaf Kak, maaf, aku tidak begitu memperhatikan," ucap Kirana segera merapi-rapikan apel-apel itu dengan cepat.
"Kamu pulang dulu gih, kayaknya kamu ada masalah, kenapa? Coba cerita ke Kakak," tanya senior Kiran, umurnya lebih tua dari Kirana jadi dia memiliki nurani seorang kakak yang melihat adiknya sedang banyak sekali pikiran.
"Enggak Kak, aku cuma sedikit pusing saja," ujar Kirana terpaksa berbohong.
"Serius kamu? Kalau emang ada masalah, kamu pulang dulu aja. Nggak enak kerja kalau banyak pikiran, nanti malah keteteran lagi kerjaan kamu," ujar senior perhatian kepada Kirana.
"Terima kasih Kak, aku beneran nggak papa kok," ujar Kirana tersenyum tipis, ia segera merapi-rapikan lagi kerjaannya. Setelah menyelesaikannya, ia lalu membuang beberapa sampah yang belakangan ini sudah menumpuk di sudut toserba.
Saat Kirana keluar, ia melihat ada sebuah mobil van hitam yang terparkir tak jauh dari toserba. Kirana terdiam menatap mobil itu, entah kenapa ia merasa familiar, ia juga seperti melihat sosok pria yang duduk di dalam mobil itu dan sedang menatap kearahnya.
"Dia seperti Rendra," gumam Kirana merasa siluet pria itu mirip sekali dengan Rendra.
Kirana menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran gila yang tiba-tiba merayap di kepalanya.
"Mungkin aku terlalu memikirkannya," batin Kirana langsung memutuskan masuk kembali ke toserba dan menyelesaikan pekerjaannya
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.