Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Makan Malam Untuk Rendra.


__ADS_3

Rendra menatap Kirana dengan tatapan tajamnya membuat Kirana gugup, ia langsung melepaskan dirinya dari pelukan Rendra.


"Maafkan saya, saya tidak melihat anda datang" kata Kirana menundukkan wajahnya takut.


"Kalau bicara dengan orang itu lihat lawan bicaramu, sungguh tidak sopan" kata Rendra ketus, tak suka Kirana tidak melihatnya seperti itu.


"Maaf Tuan" kata Kirana mengangkat pandangannya sejenak lalu menundukkan kembali wajahnya karena takut jika terperangkap oleh pesona Rendra.


"Untuk apa kau berkeliaran malam-malam begini?" kata Rendra mengerutkan dahinya.


"Tidak apa-apa Tuan, saya baru saja makan" kata Kirana tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Rendra semakin mengerutkan dahinya dan terus menatap Kirana yang semakin salah tingkah.


"Ehm...kalau begitu saya permisi dulu Tuan" kata Kirana bisa gila jika berdekatan dengan Rendra terus.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" kata Rendra menahan tangan Kirana.


Jantung Kirana rasanya ingin meledak, ia menatap tangan Rendra yang menyentuhnya, menyadari hal itu Rendra segera melepaskannya.


"Maaf, maksudku aku sangat lapar, tolong buatkan aku makan malam" kata Rendra entah kenapa malah salah tingkah.


"Makan malam?" kata Kirana sedikit kaget.


"Ya, aku akan menunggu di meja makan" kata Rendra berlalu pergi dari hadapan Kirana, dia merasa aneh jika terus berdekatan dengan wanita itu.


Kirana menatap kepergian Rendra, dia tidak salah dengarkan? Tadi Rendra meminta dia untuk membuatkan makan malam. Kirana sedikit mengembangkan senyumnya, hanya dengan begini saha hatinya sudah senang. Ia cepat-cepat pergi ke dapur untuk membuatkan Rendra makan, tak ingin sampai pria itu menunggu terlalu lama.


*****


"Bram! Apa kau sudah mengumpulkan semua pelayan itu?" kata Rendra menemui Bram.


Malam itu ia sengaja datang untuk menuntaskan rasa gundah dalam hatinya selama beberapa hari ini, tapi ia sama sekali tak menyangka akan melihat kejadian yang membuat emosinya mendadak naik. Apalagi saat ia mengecek beberapa CCTV memperlihatkan bagaimana tingkah mereka yang semena-mena dengan Kirana.


"Sudah, mereka sudah berkumpul di ruangan anda" kata Bram.


Rendra mengangguk, ia segera berjalan masuk kedalam ruangannya, disana sudah ada tiga orang pelayan yang memasang wajah ketakutan karena tau jika mereka pasti membuat kesalahan sampai Rendra memanggilnya.


"Tuan Rendra" Melda angkat bicara tapi Rendra langsung mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun dari mulut kalian" kata Rendra dingin menatap satu persatu wajah di depannya.


"Apa alasan kalian melakukan ini pada Kirana? kata Rendra langsung.


"Kirana? Kami tidak melakukan apapun padanya Tuan" kata Melda kaget saat Rendra mengatakan hal itu.


"Kalian masih mau coba mengelak?" kata Rendra geram, padahal jelas dia melihat dari CCTV apa yang mereka lakukan kepada Kirana.


"Maafkan kami Tuan, kami memang tidak pernah melakukan apapun kepada Kiran, justru Kirana yang selama ini bermalas-malasan dan tidak mau bekerja" kata Melda langsung memutar balikkan fakta.


"Kau pikir aku bodoh Melda? Aku sudah melihat apa yang kalian lakukan kepada Kirana dari rekaman CCTV. Tak kusangka hatimu begitu busuk, selama ini kau yang menyuruhnya melakukan semua pekerjaan yang bukan tugasnya" kata Rendra dengan tatapan tajam menusuk membuat mereka semakin ketakutan.


"Karena kalian sudah berani membohongiku, kalian pasti tau konsekuensinya apa bukan?" kata Rendra lagi.


"Bram, usir tiga wanita tak tau diri ini dari ruanganku, dan suruh mereka mengemasi barangnya" kata Rendra sudah tidak bisa lagi memaafkan apa yang dilakukan oleh mereka, hatinya merasa tak terima jika ada yang bertindak seperti itu kepada Kirana.


"Tuan tolong maafkan kami, jangan pecat kami" kata Melda langsung bersujud untuk meminta pengampunan bersama kedua temannya.


Tapi tak sedikitpun bisa merubah keputusan Rendra, ia bergeming saat melihat tiga wanita itu di seret pergi. Setelah itu Rendra bangkit dari duduknya untuk melihat Kirana.


*****


"Apakah sudah?" Kirana tersentak saat mendengar suara berat itu.


Kirana langsung menoleh dan kaget saat melihat Rendra sudah berdiri dibelakangnya.


"Iya sudah Tuan, ini saya akan menyajikannya" kata Kirana terkaku karena Rendra masih berdiri di belakangnya.


"Tuan, bisakah anda minggir sebentar? Saya ingin lewat" kata Kirana.


"Kau tinggal lewat, kenapa aku harus minggir?" kata Rendra datar saja.


Kirana mengerutkan dahinya, perlahan ia menggeser tubuhnya agar tidak mengenai Rendra, tapi karena terlalu gugup dia malah terpeleset hingga ia kembali terjatuh dipelukan Rendra untuk kedua kalinya, untung saja nasi goreng yang di bawanya tidak jatuh.


"Berjalanlah dengan benar! Apa kakimu begitu lemah sampai kau selalu jatuh" kata Rendra sedikit ketus.


"Maafkan saya"


"Tidak dimaafkan, mulai saat ini jangan terlalu banyak melamun yang tidak berguna" kata Rendra beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Kirana kembali terpaku, ini aneh, kenapa dia malah senang kalau Rendra memarahinya.


"Kau masih disitu juga? Kau ingin membiarkan aku kelaparan karena menunggumu" teriakan Rendra kembali mengejutkan Kirana.


"Iya Tuan" kata Kirana mengutuk kebodohannya, padahal Rendra sudah memperingatkannya untuk tidak terlalu sering melamun.


"Ini makanan anda Tuan" kata Kirana dengan hati-hati menaruh nasi goreng itu di depan Rendra yang terus menatapnya dingin.


"Duduk" kata Rendra.


"Ha?" Kirana menatap Rendra bingung.


Rendra menatap Kirana semakin tajam, apa wanita ini tidak mengerti perkataan manusia, pikirnya.


"Oh, iya aku akan duduk" kata Kirana ciut karena tatapan Rendra.


Setelah Kirana duduk, barulah Rendra melepaskan tatapannya, ia beralih menatap nasi goreng yang di buatkan Kirana, tapi kenapa bentuknya aneh.


"Apa ini?" kata Rendra.


"Nasi goreng putih, ini menu kesukaan ibuku, dulu ibuku bilang nasi goreng buatanku enak, Tuan harus mencobanya" kata Kirana sedikit menerawang jauh mengingat kenangan bersama ibunya.


"Apakah ini bisa di makan?" kata Rendra benar-benar meragukan nasi goreng itu.


"Bisa kok, coba saja" kata Kirana yakin.


"Aku tidak mau memakannya" kata Rendra mendorong nasi goreng itu.


"Kenapa Tuan? Ini enak loh, aku jamin semua bahan yang aku pakai ini bersih dan higienis, Tuan tidak akan sakit perut" kata Kirana menatap Rendra dengan mata bulatnya yang polos dan indah.


"Benarkah? Tapi siapa yang tau kalau kau memasukkan sesuatu kedalam makanan itu?" kata Rendra memasang wajah tak minatnya.


"Tuan, aku memang pernah punya salah padamu, tapi aku tidak pernah punya pemikiran selicik itu" kata Kirana tak terima rasanya jika Rendra mencurigainya seperti itu.


"Aku belajar dari pengalaman dan aku tidak akan tertipu kedua kalinya. Jika kau yakin makanan itu tidak beracun, kau harus memakannya terlebih dulu" kata Rendra menarik sudut bibirnya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2