
Roland menekan giginya, tangannya mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol. Ia balas menatap Axel dengan tak kalah tajamnya, namun melawan Axel secara terang-terangan bukanlah hal yang bagus. Ia harus mengalah dulu saat ini dan menyusun cara agar menghancurkan pria itu.
"Salma, kita akan pulang sekarang. Kita sudah cukup tahu bagaimana sifat asli keluarga ini, jangan pernah lagi dari kalian yang berhubungan dengan mereka!" Ucap Roland bangkit dari duduknya dengan kasar, ia akan sangat mengingat baik-baik hari ini dan ia pasti akan membalas semuanya.
Salma mengangguk singkat, ia merangkul Yolan dan mengajak wanita itu. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat melirik Bella dengan tatapan penuh dendam.
"By, sepertinya mereka sangat marah," kata Bella mulai tak enak perasaannya, ia tak ingin mencari masalah dengan siapapun, tapi dengan kejadian ini sepertinya akan menjadi masalah baru.
"Kamu tenang saja, mereka tidak akan melakukan apapun," ucap Axel menenangkan istrinya yang sangat cemas itu.
"Papa benar Ma, selama aku masih hidup, aku akan memastikan tidak akan ada yang berani mengusik keluarga kita," ucap Rendra dingin. Tatapan matanya tampak lurus ke depan dan sangat serius.
"Jangan lakukan apapun, awasi saja gerak-geriknya. Selagi mereka tidak mengusik keluarga kita biarkan saja dulu," kata Axel menasehati putranya. Ia tentu sudah sangat hafal bagaimana sifat Rendra yang tak mudah melepaskan musuhnya karena itulah juga gambarannya saat muda dulu. Tapi ia sudah pernah sekali membuat kesalahan yang fatal dan tak ingin sampai Rendra mengulangi kesalahan yang sama.
"Baik, Pa" ucap Rendra mengangguk mengerti.
"Oh ya, kenapa kita masih disini? Mama belum berkenalan dengan calon menantu Mama, ayo kita kesana," ucap Bella tiba-tiba ingat akan wanita yang diajak Rendra datang ke rumah tadi.
Rendra tergelak, ia menatap Papanya yang ikut tersenyum melihat tingkah Mamanya.
"Kan tadi udah aku kenalin, Ma" kata Rendra masih dengan senyumnya.
"Tapi belum jelas, Mama mau nemuin dia dulu, kamu ngobrol dulu sama Papa kamu," kata Bella bangkit dari duduknya. Ia tak sabar ingin mengenal menantunya lebih dekat.
"Jangan galak-galak Ma, nanti dia takut," celetuk Rendra menggoda Mamanya.
"Ya tergantung, kalau dia masuk kriteria Mama, amanlah" kata Bella terkekeh kecil. Mana mungkin ia akan bersikap galak kepada anak orang, pikirnya.
*****
Di dalam kamar Gwiyomi, Kirana tampak masih cukup kaku saat Gwiyomi mengajaknya mengobrol. Ia masih merasa bersalah karena pernah menembaknya saat itu.
"Kakak lihat deh, ini foto siapa?" ucap Gwiyomi menunjukkan sebuah album foto masa kecil mereka bertiga pada Kirana.
"Ehm, ini Rendra bukan?" kata Kirana cukup sulit membedakan foto Rendra kecil dan Eril karena wajah mereka hampir sama.
__ADS_1
"Hahaha, bener. Ini Kak Rendra waktu umur 5 tahun, mukanya lucu banget ya," Gwiyomi tertawa melihat wajah Kakaknya masih sangat imut itu.
"Iya," Kirana ikut tersenyum, di foto itu Rendra memang sangat lucu sekali. Wajahnya tampak sangat imut dan tampan, sepertinya Rendra tidak pernah jelek dari kecil, pikir Kirana.
"Kalau ini siapa Kak?" Gwiyomi kembali menunjukkan foto yang lain.
"Ini Rendra juga?" sahut Kirana cukup ragu.
"Bukan, ini Kak Eril, tingkahnya tengil banget 'kan? Sampai sekarang juga masih menyebalkan," kata Gwiyomi setengah menggerutu.
"Kamu beruntung punya Kakak seperti mereka," kata Kirana bisa membayangkan bagaimana indahnya masa kecil mereka.
"Sangat Kak, aku sangat beruntung memiliki dua Kakak laki-laki yang sangat mencintaiku, tapi sekarang Kak Rendra sudah tidak mencintaiku lagi," kata Gwiyomi melirik Kirana.
"Kenapa tidak?" kata Kirana mengerutkan dahinya.
"Ya, karena sekarang Kak Rendra kan sudah mencintai Kakak," ucap Gwiyomi.
"Maaf," ucap Kirana merasa bersalah.
"Meminta apa?" tanya Kirana.
"Aku minta, tolong jaga Kak Rendra ya Kak. Cintai Kakak ku seperti kami mencintainya," ucap Gwiyomi menggenggam kedua tangan Kirana lembut.
"Gwi …" Kirana menggelengkan kepalanya, entah kenapa ia tak sanggup jika Gwiyomi meminta hal itu padanya.
"Aku yakin Kak Kiran bisa, satu-satunya wanita yang bisa memiliki hati Kakakku itu cuma Kakak. Jadi jangan mengecewakannya Kak, aku marah nanti," ucap Gwiyomi setengah bercanda, namun sebenarnya ia sangat tulus mengucapkan hal itu.
"Gwi, Kakakmu mungkin tidak pernah bercerita. Tapi aku bukanlah orang yang baik, kau tahu aku pernah menjadi bagian dari musuhmu dulu, tolong jangan beri aku kepercayaan sebesar ini," ucap Kirana menatap Gwiyomi sendu. Bagaimanapun juga masa lalunya cukup tak enak untuk diceritakan.
"Semua orang pernah punya masa lalu Kak, hal itu bukanlah hal yang bisa kita ubah atau kita ulangi lagi. Sekarang kita hidup di masa depan dan kita harus belajar untuk hidup yang lebih baik," ucap Gwiyomi bijak.
Kirana terdiam, ia menatap Gwiyomi yang mengulas senyum manis padanya. Seberuntung inikah dirinya bisa dipertemukan dengan keluarga sebaik keluarga Rendra.
"Lagi ngomongin apa sih, kelihatannya serius banget," ucap Bella tersenyum manis seraya memasuki kamar putrinya.
__ADS_1
"Mama!" ucap Gwiyomi balas tersenyum pada Mamanya.
Kirana buru-buru bangkit, ia membungkuk sebagai sapaannya kepada Mamanya Rendra.
"Selamat malam, Tante" ucap Kirana dengan suara gemetar, ia sangat gugup sekali.
"Malam, kenapa gugup sekali? Siapa namanya tadi?" ucap Bella menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kirana yang sangat kaku itu.
"Kirana Tante," sahut Kirana cepat.
"Oh Kirana, namanya cantik kayak orangnya," ucap Bella mengatakan yang sebenarnya, Kirana menurutnya sangat cantik sekali, tak salah putranya memilih pasangan.
"Terima kasih, Tante" kata Kirana bukannya senang mendapatkan pujian itu, justru semakin gugup.
"Gimana? Udah selesai kan Ma acaranya kenalannya? Apa aku boleh menjemput calon istriku," suara Rendra terdengar menyusul ke kamar membuat semua orang menolah.
"Astaga, kenapa kamu kesini? Mama baru aja mau ngobrol sama Kiran," kata Bella sedikit jengkel pada putranya ini.
"Ngobrolnya nanti saja, Ma. Aku mau berduaan dulu dengan Kirana, boleh?" kata Rendra mendekati Kirana.
Kirana melotot kan matanya, tak percaya Rendra akan bersikap se gamblang ini. Rasanya ia ingin sekali memukul pria itu.
Melihat tatapan Kirana, Rendra justru mengulas senyum tanpa dosa.
"Kamu juga ngobrolnya nanti saja, ajak Kirana makan dulu, ini sudah jam berapa? Ayo Gwi, kita turun dulu," kata Bella hanya bermuka masam, ternyata Rendra juga bisa bucin juga jika sudah jatuh cinta.
"Iya, Kak Rendra jangan lama-lama ya, aku udah laper," ucap Gwiyomi sengaja menggoda Kakaknya sebelum pergi.
Wajah Kirana semakin merah seperti kepiting rebus, ia langsung mencubit lengan Rendra dengan keras setelah Bella dan Gwiyomi pergi.
"Aduh! Aduh, sakit! Kenapa kau mencubitku," kata Rendra memprotes seraya mengusap-usap lengannya yang sakit karena cubitan Kirana.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1