
Di kediaman Leander, Bella tampak begitu sibuk menata makanan yang cukup banyak di meja makan. Sejak pagi ia sudah begitu heboh saat putra sulungnya Rendra akan pulang membawa seseorang. Bella tentu sangat senang karena akhirnya putranya itu mau menjalin hubungan yang serius kepada seorang wanita.
Dan tentunya ia tak ingin biasa-biasa saja menyambut calon menantu keluarga Leander.
"Mama! Ya ampun, sibuk banget sih Ma" celetukan Gwiyomi terdengar menyusul Mamanya di meja makan. Ia menggelengkan kepalanya melihat bagaimana antusiasnya Mamanya saat tau Kakaknya akan membawa pulang seorang wanita.
"Gwi, kamu kenapa belum siap? Ini udah jam berapa? Kamu juga harus cantik buat ketemu pacar Kakak kamu" tukas Bella melirik putrinya yang masih menggunakan baju santai.
"Emang harus banget ya, Ma?" Sahut Gwiyomi mengernyitkan dahinya.
"Harus, Mama mau pacarnya Rendra tau kalau dia punya Mama dan Adik perempuan yang cantik" kata Bella terkekeh kecil. Ia hanya ingin sempurna menyambut menantunya, sudah itu saja.
"Aku dandan gini juga udah cantik. Lagian, aku juga udah ketemu sama Kak Kiran" kata Gwiyomi cuek saja.
"Kamu udah ketemu? Gimana orangnya? Cantik nggak?" Bella buru-buru mendatangi putrinya, ingin sekali tahu bagaimana wajah wanita yang bisa meluluhkan hati putranya.
"Dih Mama kepo ya?" Gwiyomi tertawa kecil melihat wajah Mamanya.
"Iya, Mama penasaran," sahut Bella mengangguk cepat.
"Hem, Kak Kiran itu orangnya cantik, tapi lebih cantikan aku sih" kata Gwiyomi begitu pedenya.
"Sudah Gwi, jangan beritahu Mamamu, biarkan saja dia penasaran." Axel yang baru saja pulang dari kantor langsung ikut menceletuk.
"Papa!" Seru Gwiyomi langsung memeluk Papanya.
"Kamu baru pulang jam segini? Udah dibilangin suruh pulang cepet juga" sergah Bella kembali mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Selama apapun sebuah hubungan, sepertinya tak akan bisa merubah kebiasaan orang.
Bella bahkan sudah sering mewanti-wanti suaminya untuk pulang lebih awal jika ada acara, tapi tetap saja tidak pernah berhasil.
"Baru telat lima menit loh Nyonya, jangan marah-marah, ingat nanti vertigomu naik" ucap Axel mengelus-elus lembut lengan istrinya yang hobi mengomel ini.
"Makanya jangan memancingku, sekarang cepat mandi. Ini Eril juga kemana lagi? Kamu udah bilang suruh dia pulang lebih cepat 'kan?" ucap Bella lagi.
"Eril ada kerjaan di luar kota, mungkin pulangnya agak telat. Sudah jangan marah, ayo temani aku dulu. Aku takut salah memilih baju jika tidak sesuai seleramu" kata Axel mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, ia tak ingin kembali kena omelan istrinya jika memilih baju yang tidak sesuai dengan tema baju yang dinginkan istrinya.
"Dasar, kau tidak sedang modus 'kan By?" bisik Bella mengerutkan dahinya.
Axel hanya tersenyum-senyum saja, usia pernikahan mereka sudah 26 tahun. Umur mereka pun sudah tidak muda lagi, tapi keromantisan pasangan itu tak pernah pudar digerus waktu.
__ADS_1
Axel masih sering melontarkan gombalan-gombalan receh yang selalu membuat Bella tersipu. Mungkin jika anak mereka tahu, akan malu melihat kelakuan Papanya yang lupa umur itu.
*****
Rendra kembali ke salon Syalome dengan langkah tergesa-gesa. Ia tadi sempat kembali ke kantor untuk melakukan dengan Tuan Dewangga yang menolak saat ia harus membatalkan meeting. Kliennya itu mengatakan kalau dia juga sama sibuknya, jadi tidak semudah itu mengatur ulang jadwal. Rendra mengerti kalau perbuatannya itu termasuk tidak profesional, maka dari itu ia menyempatkan diri untuk datang meski harus terburu-buru.
"Dimana dia?" tanya pada Syalome tanpa basa-basi.
"Hish, bertanyalah lebih sopan beruang kutub," cetus Syalome sedikit kaget dengan kedatangan Rendra yang seperti jelangkung itu.
"Waktuku hanya 10 menit" sergah Rendra tak sabar jika harus meladeni pria jadi-jadian ini.
"Aku tau, my Kiran masih mengganti baju. Tunggu saja dulu, mungkin masih lama karena dia tidak mengizinkan aku membantunya. Mungkin dia takut dengan pacarnya yang galak itu" tukas Syalome menyindir kelakukan Rendra yang cemburu buta padanya.
Rendra melirik Syalome malas, tanpa mengucapkan apapun, ia langsung saja masuk kedalam ruang ganti untuk mencari Kirana. Rumahnya dari sini lumayan jauh, ia tak ingin sampai kemalaman mengajaknya datang ke rumah.
"Kiran?" panggil Rendra mengetuk salah satu ruang ganti.
"Ya?" Kirana menyahut dari dalam, ia masih sibuk mengancingkan resleting gaunnya yang berada di bagian belakang.
"Apakah kau masih lama?" tanya Rendra dibalik pintu.
"Aduh!" Pekik Kirana tak bisa menahan suaranya karena kulitnya yang terjepit.
"Ada apa Kiran?" teriak Rendra ikut panik mendengar suara Kirana. Tak membuang waktunya, ia langsung saja masuk kedalam ruang ganti.
"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa" ucap Kirana tak ingin Rendra sampai masuk, tapi ia terlambat karena Rendra sudah lebih dulu masuk dan melihat dirinya.
"Rendra …" gumam Kirana mengigit bibirnya saat melihat bayangan Rendra dari balik kaca di depannya.
Rendra terdiam sejenak, matanya membesar dan terlihat begitu terkejut melihat punggung putih Kirana. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rendra berusaha keras untuk tidak melihat punggung mulus yang menggoda itu.
"Iya, punggungku hanya terjepit resleting," ucap Kirana gugup sendiri karena ada Rendra.
Rendra mengangkat alisnya, melirik sedikit ke arah punggung Kirana yang memang belum terpasang resletingnya. "Aku akan membantumu," ujar Rendra berdiri di belakang Kirana.
"Hm?" Kirana tak tau harus bagaimana, tubuhnya saat ini pasti sangat kaku seperti robot saat Rendra menyentuh gaunnya.
__ADS_1
Rendra menarik nafasnya berkali-kali, mencoba mengurangi perasaan aneh dalam dirinya. Dengan perlahan ia menarik lembut resleting gaun itu dengan pandangan menatap Kirana yang hanya bisa menundukkan wajah.
"Sudah," bisik Rendra tepat di telinga Kirana.
"Terima kasih," cicit Kirana tak berani menatap Rendra, tubuhnya meremang saat ia merasakan terpaan napas Rendra di tengkuknya.
"Hanya terima kasih saja?" Rendra tersenyum usil, ia tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk memeluk Kirana dari belakang.
"Lalu?" ucap Kirana mulai tak bisa berpikir jernih, ia hanya bisa menatap apa yang dilakukan Rendra.
"Berikan aku hadiah karena sudah membantumu," bisik Kirana sengaja berbicara dengan bibir yang menempel di telinga Kirana.
"Rendra! Lepaskan aku dulu, nanti ada yang melihat." Kirana panik karena tingkah Rendra ini.
"Biarkan saja, ayo berikan aku hadiah," ucap Rendra mengeratkan pelukannya seraya menguyel-uyel pipi Kirana.
"Hadiah apa?" tanya Kirana menahan geli di pipinya.
Rendra tersenyum tipis, ia memutar tubuh Kirana agar menghadapnya. Ia menatap lekat-lekat wajah Kirana yang sangat cantik sekali dengan riasan make up tipisnya.
"Kamu cantik," puji Rendra rasanya semakin cinta dengan wanita di depannya ini.
"Apaan sih," ucap Kirana malu sendiri.
"Aku serius, Nona cantik sekarang ayo berikan aku hadiah" kata Rendra lagi.
"Apa kau memang begitu ingin hadiah?" tanya Kirana memberanikan diri menatap Rendra.
"Ya," sahut Rendra mengangguk tipis.
"Baiklah, aku akan memberikanmu hadiah." Ucap Kiran mengulas senyum tipisnya. Perlahan Kirana mendekatkan wajahnya, meski sebenarnya ia sangat gugup karena tatapan mata Rendra, Kirana tetap memberanikan dirinya.
Rendra hanya diam menatap apa yang dilakukan Kirana, ia memejamkan matanya karena berpikir Kirana akan mencium bibirnya, namun ia malah merasakan pipinya yang basah.
"Kita pergi sekarang," ucap Kirana ngeloyor pergi begitu saja, ia tak malu sendiri jika bertatapan dengan Rendra lagi.
Rendra membuka matanya, ia memegang pipinya yang basah karena ciuman Kirana. Bibirnya seketika terangkat melengkungkan senyum tipis, lalu berubah manis dan tertawa kecil. Sepertinya harinya akan segera diliputi oleh hal-hal yang indah.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.