Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 70.


__ADS_3

Kirana disibukan dengan urusan melayani Rendra yang entah kenapa menjadi sangat multirewel. Pria itu selalu punya seribu satu alasan untuk meng komplain hal yang dilakukannya. Dari mulai terlambat menyiapkan sarapan, makanan yang tidak sesuai seleranya, bahkan masalah sepele, Kirana yang lupa mengganti sprei dengan yang baru.


"Hah, ini udah jam 7 pas. Aku nggak dateng terlambat, awas saja sampek dia cari masalah lagi," gumam Kirana setengah menggerutu karena lelah menghadapi sikap Rendra. Seharusnya sekarang dia juga sedang libur, tapi Rendra pasti punya cara untuk membuatnya tetap masuk.


Selang beberapa detik Kirana mengatakan hal itu, Rendra keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya. Kirana sempat terpesona sesaat, namun ia segera memutus kontak mata itu karena takut hatinya terusik.


"Selamat pagi Tuan, saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda. Ini kopinya di minum dulu," ucap Kirana lemah lembut dan penuh sopan santun meletakkan secangkir kopi untuk Rendra.


Rendra tidak mengatakan apapun, ia menerima kopi itu dan memulai sarapannya tanpa melirik Kirana sama sekali.


Helaan nafas lega langsung lolos dari bibir Kirana karena Rendra tidak meng komplain masakannya.


"Makanan ini sangat buruk, nanti siang aku ingin kau yang memasak sendiri makanan untukku," ucap Rendra mengelap bibirnya setelah menyelesaikan sarapannya.


"Memasak?" ucap Kirana mengerutkan dahinya.


Rendra hanya bertampang datar, ia bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi begitu saja. Kirana yang melihat hal itu segera mengejarnya.


"Tuan, Anda minta di masakan apa?" tanya Kirana tak ingin lagi membuat kesalahan jika salah memasak.


"Buat apa saja yang kau bisa," ucap Rendra singkat.


"Tapi ..."


"Jangan membuang waktuku, aku sangat sibuk dan aku ingin semua sesuai dengan apa yang aku harapkan." Sergah Rendra sebelum Kirana memprotes.


Kirana mengerucutkan bibirnya kesal, pria itu benar-benar tidak berubah. Dari dulu sangat menyebalkan, justru sekarang semakin parah.


"Jangan membuang waktuku, aku sedang sibuk, bla bla bla ..." gerutu Kirana menirukan gaya Rendra karena sangking kesalnya.


Sekarang ia harus memutar otak untuk membuat sarapan yang disukai Rendra dan jangan sampai pria itu menolak.


"Makanan apa ya?" gumam Kirana mengingat-ingat apa makanan kesukaan Rendra.


Mata Kirana langsung berbinar cerah begitu makanan apa yang tidak akan ditolak oleh Rendra.


*****

__ADS_1


Rendra kembali dari lokasi pembangunan proyek saat hari masih cukup pagi. Pembangunan itu sudah berada dalam tahap finishing dan hanya tinggal beberapa yang perlu di cek kembali.


Sebenarnya Rendra bisa saja pulang ke Jakarta, tapi ia masih enggan. Mungkin karena ada Kirana di sana, atau karena faktor lain. Yang jelas, Rendra benar-benar belum ingin kembali ke Jakarta saat ini.


"Kita langsung pulang, Tuan?" tanya Bram.


"Ya," sahut Rendra singkat. Ia membuang pandangannya ke sisi jendela, menikmati suasana kota Jogja yang masih sangat asri.


Saat pandangan Rendra menyapu keseluruhan tempat itu, ia tak sengaja melihat Kirana yang berada di tepi jalan.


"Untuk apa dia di sana?" ucap Rendra spontan.


"Siapa Tuan?" tanya Bram bingung.


"Tolong berhenti Bram," ucap Rendra kesal sendiri karena Kirana malah berkeliaran di jalanan yang sangat ramai itu.


Tak banyak protes, Bram segera menepikan mobilnya di teli jalan yang aman. Rendra sendiri bergegas turun untuk memanggil Kirana yang terus saja berjalan, wanita itu sepertinya ingin ke pasar, terlihat ditangannya sedang menenteng tas belanjaan.


"Aduh, dimana sih tempatnya?" gumam Kirana celingukan mencari tempat pedagang ikan laut.


"Aku kesana aja deh," ucap Kirana berjalan dengan tidak begitu melihat, karena sangking ramainya tempat itu, ia malah tak sengaja menabrak orang hingga makanan yang di bawanya tumpah mengenai baju orang tua itu.


"Astaga, maafkan aku, aku tidak melihatnya tadi, maaf ya ..." ucap Kirana begitu panik, ia mencoba membantu membersihkan bekas makanan yang tumpah di baju pria yang ditabraknya.


"Tidak apa Nona, aku juga tidak melihatnya tadi," ucap pria itu tadinya ingin marah, tapi saat melihat kecantikan Kirana, ia justru kesenangan.


Rendra membesarkan matanya melihat apa yang sedang terjadi. Darahnya mendidih saat melihat Kirana menyentuh pria lain dan begitu paniknya. Dengan langkah lebar, Rendra segera mendatangi Kirana dan menarik tangannya kasar.


"Aduh, Rendra?" ucap Kirana terkejut pastinya saat melihat Rendra ada di sana.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendra dengan geraham mengetat, tatapannya sangat tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.


"Aku sedang berbelanja," kata Kirana menjelaskan dengan wajah herannya.


"Kita pulang sekarang," ucap Rendra menarik tangan Kirana sebelum wanita itu sempat memprotes.


"Eh, tapi aku belum belanja, kau bilang tadi ingin aku memasak untukmu. Aku harus membeli ikan dulu di pasar," ucap Kirana sedikit tersandung-sandung mengikuti langkah kaki Rendra yang lebar.

__ADS_1


Rendra tak menggubris, ia hanya diam saja karena sangat kesal melihat kelakuan Kirana. Apa wanita itu tidak tahu kalau hal yang baru saja dilakukannya tadi bisa membuat pria lain berharap hal yang lebih.


"Bram, kita ke rumah pribadiku saja." Perintah Rendra pada asistennya itu.


Kirana yang menyadari jika Rendra sedang marah, mencoba menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun sampai mereka sampai ditempat tujuan.


"Rendra, kenapa kita kesini?" tanya Kirana bingung saat Rendra membawanya ke sebuah perumahan.


"Kau tidak berhak bertanya apapun! Cepatlah turun untuk menerima hukumanmu!" kata Rendra menatap Kirana tajam.


Kirana menelan ludahnya kasarnya, perasaannya mulai tak enak. Apakah Rendra akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya?


"Mati aku," gumam Kirana bergegas turun, ia tak mau memancing emosi Rendra jika sampai terlambat datang.


Kirana mengikuti Rendra sampai masuk ke dalam rumah. Rumah itu tidak terlalu mewah, namun sangat nyaman sekali. Ukurannya pun tak terlalu besar, namun ada banyak pelayan di sana.


"Tinggalkan kami berdua." Perintah Rendra begitu mereka sampai ke ruang tengah.


Para pelayan mengangguk hormat dan segera menurut pergi seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Seketika ruangan itu menjadi berubah auranya, Kirana hanya memeluk dirinya takut.


"Rendra aku ..."


"Apa kau tau kesalahanmu?" sergah Rendra sebelum Kirana menyelesaikan ucapannya. Ia berbalik untuk memandang wanita ceroboh yang ada di depannya ini.


"Memangnya apa salahku?" tanya Kirana merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


"Kau masih mengelak? Jelas-jelas kau sudah bersalah!" ucap Rendra geram sekali rasanya.


"Ya salah aku dimana? Kalau kau tidak mengatakannya, gimana aku bisa tahu," kata Kirana setengah menggerutu mengatakannya.


Rendra berdecak kesal, ia menatap Kirana yang hanya memasang wajah polos tanpa rasa bersalah sama sekali. Lalu pandangan Rendra menyusuri penampilan Kirana. Siang itu menggunakan seragam kerjanya yang sangat minim hingga setengah paha.


"Keterlaluan! Siapa yang mengizinkanmu memakai baju ini? Cepat ganti sekarang!"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2