Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 68.


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sederhana, terlihat Kirana sedang merias dirinya di depan meja rias. Sudah enam bulan berlalu Kirana berada di kota Jogja. Ia kini sudah mempunyai pekerjaan sebagai pegawai di salah satu hotel bintang lima.


Dari gajinya itu, Kirana bisa menyewa rumah kontrakan sederhana dan melanjutkan hidupnya. Beruntungnya bagi Kirana, ia bisa bertemu dengan orang yang sangat baik dengannya. Orang itu juga yang membantu Kirana untuk mendapatkan pekerjaan.


"Kiran, kamu udah siap belum? Ini budhe bawakan kamu sarapan," teriakan seorang wanita dari arah ruang tamu membuat Kirana menghentikan aktivitasnya.


Kirana beranjak dari duduknya lalu keluar melihat siapa yang datang. Seorang wanita paruh baya yang memiliki perawakan yang mungil. Kirana tersenyum kecil melihat wanita yang sibuk membawa satu piring penuh berisi sarapan.


"Ya ampun budhe, kenapa harus repot-repot gini. Nanti Kiran bisa makan di hotel saja," ujar Kirana tak enak hati.


"Nggak repot lah, ayo kamu sarapan dulu. Kamu itu kalau jadi perempuan jangan terlalu kurus, nanti bisa dibanting sama suami kamu kalau ada apa-apa," ujar Budhe dengan gayanya yang sangat lucu menurut Kirana.


"Ya udah kalau Budhe maksa, aku ambil tas dulu, nanti sekalian berangkat," kata Kirana semakin tak enak jika menolak orang yang sudah banyak membantunya ini.


Namanya Budhe Rini, dia seorang janda yang memiliki dua orang anak. Yang satu sudah menikah dan yang satunya bekerja di salah satu pabrik di sana.


"Nanti kamu berangkat sama Benny aja, biar sekalian. Kan searah," ujar Budhe Rini masih setia menemani Kirana di sana.


"Memangnya Benny shift pagi Budhe?" tanya Kirana seraya menikmati sarapan pecel yang dibawakan Budhe Rini.


"Iya, tadi anaknya udah siap. Bentar budhe lihat dulu." Ujar Budhe Rini melesat pergi untuk memanggil putra keduanya itu.


Umurnya mungkin tak berbeda jauh dari Kirana. Ia juga sering mengantarkan Kirana jika pergi kemana, tapi hubungan mereka juga tidak terlalu dekat. Apalagi Kirana selalu membatasi dirinya jika dekat dengan pria lain.


"Aku nggak enak sebenarnya kalau bareng kamu, jadi ngerepotin terus." Ujar Kirana ketika memakai helmnya dan bersiap untuk pergi.


"Santai aja, aku sekalian berangkat juga," sahut Benny tersenyum tipis. Pria berperawakan tinggi ramping itu malah senang jika mengantarkan wanita secantik Kirana.


"Ya udah kalau nggak ngerepotin. Aku tadinya mau pesan gojek," kata Kirana lagi.


"Nggak usah, lain kali kalau mau pergi ngomong aku aja. Aku siap antarkan kamu kemana aja," kata Benny memberikan kode tipis.


"Kamu kayak tukang ojek malahan ntar," kata Kirana terkekeh kecil.

__ADS_1


Benny hanya membalas senyuman Kirana. Wanita ini memang sangat susah didekati. Padahal Benny orang yang cukup tampan di sana. Tapi sepertinya hal itu tidak mempan untuk membuat Kirana tertarik.


Kirana sampai di hotel setelah perjalanan hampir 30 menit. Ia segera masuk ke loker karyawan dan mengganti bajunya dengan seragam kerja.


"Kiran, kamu dipanggil pak Manager," Ujar teman Kirana menghampiri wanita itu.


"Oh, oke. Aku kesana sebentar lagi," ujar Kirana mengangguk. Ia segera menyelesaikan semuanya dengan cepat lalu pergi menemui Manager.


Kirana sedikit gugup jika Manager memanggil. Biasanya ada hal yang serius yang akan dikatakan.


"Selamat pagi, Pak" Kirana mengetuk pintu sebelum ia masuk.


"Kirana, masuk dulu. Bapak mau ngomong penting," ujar Manager memberikan gestur pertanda menyuruh Kirana duduk.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Kirana harap-harap cemas.


"Tidak apa-apa, hari ini hotel kita akan kedatangan tamu penting dari Jakarta. Kali ini orangnya lumayan ribet, Saya mau kamu nanti yang akan memegang tamu ini. Dia akan cukup lama disini, jadi kamu harus stay kalau sewaktu-waktu dia butuh sesuatu," ujar Manager menjelaskan dengan serius.


Kirana tak terlalu terkejut karena ia sudah terbiasa seperti ini. Biasanya tamu dari luar negeri atau dalam negeri yang memang memiliki kekuasaan yang bukan main-main.


"Bagus, saya percaya padamu," ucap Manager tersenyum tipis.


Setelah mendapatkan perintah, Kirana segera melakukan pekerjaannya. Ia merapikan kamar tamu dan mengganti sprei dengan warna gelap karena sebelumnya tadi ia sudah diberi catatan apa yang disukai oleh tamu dan tidak.


"Semuanya sudah, aku tinggal siapin makanannya," gumam Kirana membaca lagi semua daftar yang di pegangnya.


"Sarapan pagi harus jam 7 pagi, dan suka minum kopi tanpa gula?" Kirana mengerutkan dahinya, merasa seperti ingat sesuatu tentang kebiasaan ini.


"Kenapa mirip sekali seperti kebiasaan Rendra? Apa mungkin …"


Kirana menggelengkan kepalanya, tidak mungkin jika tamu itu adalah Rendra. Bisa saja ada orang yang memang memiliki kebiasaan yang sama dengan pria itu.


*****

__ADS_1


Rendra turun dari jet pribadinya, wajah dingin yang selalu menghiasi itu tampak semakin dingin. Terik matahari yang menyengat membuat Rendra tampak berkilauan dari jauh.


Ia sedang melakukan pekerjaan untuk meninjau proyek barunya yang berada di kota Jogja. Sebenarnya ini tugas Eril, tapi Rendra sengaja mengambil alih karena pekerjaan Eril sendiri masih sangat banyak di kota Jakarta.


"Kita langsung ke tempat proyek." Ujar Rendra langsung memerintah supir pribadinya.


Rendra orang yang tak suka mengulur waktu dan menunda-nunda pekerjaan. Sebelum apa yang dikerjakan selesai, jangan harap ia akan makan atau istirahat.


Susana di kota Jogja yang masih asri membuat Rendra cukup menikmati pekerjaannya. Sepertinya tidak salah ia memilih lokasi ini untuk proyek terbarunya.


"Semuanya sudah bagus Tuan, mungkin tinggal 20% lagi." Bram menjelaskan bagaimana perkembangan proyek pembangunan mall yang sedang dikerjakan saat ini.


"Satu bulan semuanya harus siap, aku ingin pada malam tahun baru mall ini sudah buka," ujar Rendra.


"Baik Tuan, kami pasti akan menyelesaikannya tepat waktu" ketua kontraktor segera mengangguk mantap.


Setelah memastikan semuanya beres, Rendra segera pergi meninggalkan lokasi. Mungkin ada sekitar 5 hari ia di sana. Banyak hal yang harus dikerjakan selain meninjau lokasi proyek itu.


Saat Rendra tiba di hotel, pak Manager segera melakukan penyambutan yang terbaik untuk Rendra. Ia ingin membuat kesan yang bagus di depan klien pentingnya ini.


"Selamat siang Tuan Gyanendra Xavier. Selamat datang di Hotel kami. Semoga Anda bisa nyaman selama disini," ucap Manager mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan Rendra.


"Terima kasih, dimana kamarku? Aku ingin istirahat," ujar Rendra menyambut uluran tangan itu, namun ekspresi wajahnya tak berubah sama sekali. Sudah terlalu terbiasa jika ada orang yang menjilatnya seperti ini.


"Oh, semuanya sudah siap, Tuan. Mari saya antar," ujar Manager memimpin jalan terlebih dulu.


Rendra mengikuti di belakang dengan tatapan lurus dan datar. Tak peduli banyak orang yang saat ini memperhatikannya, Rendra sama sekali tak menoleh. Namun saat ia akan masuk lift, ia menghentikan langkahnya. Ia seperti melihat siluet orang yang sangat dikenalnya.


"Kirana?"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2