Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Waktu Pembalasan.


__ADS_3

Rendra turun dari mobilnya ketika sampai disebuah bangunan rumah yang begitu megahnya. Ia membenarkan sedikit kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya lalu berjalan masuk kedalam rumah itu dengan langkah mantap.


"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk" salah satu penjaga menghadang langkah Rendra.


"Apa kau tidak tau siapa aku? Katakan pada Tuanmu kalau Rendra datang, dan aku tidak suka menunggu" kata Rendra mengeluarkan pis tolnya lalu memamerkannya kepada penjaga itu.


"Baik, baik, saya akan memanggilkan Tuan Brandon" kata penjaga itu tentu sudah sangat mengenal siapa Rendra, orang paling di takuti di dunia bisnis kota ini.


Rendra mengibaskan tangannya, ia kemudian masuk kedalam rumah itu dan duduk santai seraya menyulut rokoknya. Bram sudah setia berdiri di belakangnya. Tak membutuhkan waktu lama terlihat seorang pria paruh baya datang dengan wajahnya yang begitu mengantuk dan juga kesal.


"Siapa yang sudah berani mengganggu ku sepagi ini?" Brandon menggerutu sepanjang langkah, namun begitu melihat sosok pria angkuh yang sedang duduk di ruang tamunya matanya yang mengantuk seketika melebar.


"Tuan Rendra" kata Brandon membungkuk sebagai tanda hormat.


"Kau sepertinya menikmati sekali kehidupanmu yang sekarang Tuan Brandon" kata Rendra dengan nada biasa tapi tidak dengan sorot matanya yang tajam.


"Ini semua juga berkat bantuan Ayah anda Tuan Rendra, tanpa beliau saya tidak mungkin memliki ini semua" kata Brandon mulai ketakutan, dalam hatinya ia memaki karena sikap Rendra yang sangat mudah mengintimidasi hanya dengan suaranya.


Rendra tersenyum sinis. "Tapi aku dengar kau sudah mendatangani kerjasama dengan seseorang untuk kawasan timur Tuan Brandon" kata Rendra lagi.


"Haha, itu tidak benar Tuan, mana mungkin saya berani mengkhianati Tuan Axel, anda mendapat kabar itu darimana?" kata Brandon mengusap keringat dingin diwajahnya.


Rendra kembali tersenyum, kali ini lebih sinis dari sebelumnya, ia kemudian bangkit dan mendekati Brandon yang semakin gugup sekali. Rendra menepuk pundak Brandon hingga pria tua itu menatapnya.


"Kau sudah sangat mengenal keluarga Leander kan? Dan kau juga sudah tau berapa banyak orang yang aku singkirkan karena sudah mengkhianati ku, aku harap kau bukan salah satunya Brandon" kata Rendra kini berubah kejam ekspresinya, ia sedikit mencengkram erat pundak Brandon.


"Saya mengerti Tuan" kata Brandon terbata.


"Bagus, sekarang lanjutkan tidurmu, sepertinya wanitamu sudah menunggumu" kata Rendra menepuk pelan dada Brandon seraya melirik wanita muda dengan tampilan begitu seksi berdiri di tangga rumah itu.

__ADS_1


Rendra segera pergi darisana setelah memberikan sedikit ancaman kecil kepada Brandon. Banyak sekali hal yang harus diurusnya karena berita yang sudah terlanjur tersebar juga cukup memberikan efek kurang baik untuk perusahaan, meskipun tidak begitu berpengaruh, tapi nama Rendra sudah tercemar karena kasus ini.


"Bram, bagaimana keadaan wanita itu?" kata Rendra entah kenapa selalu ingat wajah Kirana.


"Belum ada laporan, Maxi sangat berhati-hati sekali kali ini" kata Bram langsung.


"Baiklah, kita langsung ke perusahaan saja Bram, sepertinya kita akan kedatangan tamu" kata Rendra mengulas senyum liciknya.


"Ya Tuan, Brandon juga sudah membatalkan kerjasama itu" kata Bram lagi semakin membuat senyum Rendra mengembang.


*****


Rendra duduk di ruang kerjanya, tangannya mengetuk-ngetuk meja seolah menghitung waktu. Tak lama setelah itu Bram datang kedalam ruang kerjanya, Rendra langsung menarik sudut bibirnya.


"Suruh dia langsung masuk Bram" kata Rendra membenarkan sedikit penampilannya.


"Baik Tuan" kata Bram pamit undur diri.


"Selamat pagi Tuan Maxi, sepagi ini anda mengunjungi saya? Apakah ada hal yang mendesak?" kata Rendra mengejek.


"Apa yang kau lakukan?" kata Maxi begitu kesal. Pagi-pagi begini dia sudah mendapatkan hal yang begitu mengejutkan.


"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang sudah kau lakukan? Kau memfitnahku dengan tuduhan kotormu itu? Apakah ini balasan yang kau berikan kepada orang yang sudah menolong calon istrimu" kata Rendra melirik Maxi tajam.


"Aku hanya sedikit memperingatkan mu, perusahaan mu sudah menguasai seluruh kota ini, kenapa kau juga mengusik kerjasama ku dengan Brandon, kau membuatku rugi besar!" kata Maxi mengepalkan tangannya erat, ternyata lawannya ini benar-benar sangat licik.


"Oh masalah itu, aku juga hanya ingin memperingatkan mu, tangan dibalas tangan dan nyawa dibalas nyawa, kau sudah berani mengusik diriku jadi kau akan tau akibatnya Tuan Maxi" kata Rendra santai sekali.


Maxi hanya diam, ia menahan giginya yang gemeletuk, ia merasa sudah diatas angin karena sudah berhasil menjatuhkan nama Rendra tapi kenapa jadi seperti ini.

__ADS_1


"Apakah ada lagi yang ingin kau bicarakan Tuan Maxi? Jika tidak silahkan keluar dari ruanganku. Oh, sebelum kau pulang, tolong sampaikan salamku kepada calon istrimu, apakah dia menceritakan apa yang sudah kami lalui di hutan malam itu? Aku rasa dia tidak akan pernah melupakannya" kata Rendra sengaja mengatakan kalimat yang ambigu kepada Maxi.


Maxi mengerutkan dahinya, apa yang sudah dilakukan Rendra dengan wanita murahan itu?


*****


"Apakah rencana ini akan berhasil?"


Pukul lima sore, Rendra dan Eril tampak sedang berkumpul di rumah pribadi Rendra. Mereka berdua sedang menyusun rencana untuk membalas dendam kepada Maxi, mereka tentu tak akan membiarkan pria itu lolos begitu saja dengan mudah.


"Yakin, jika kita ingin membalas dendam kepada lawan kita, harus menggunakan kelemahan nya, dan kelemahan Maxi adalah wanita" kata Eril cukup mengenal Maxi sebagai salah satu don juan di club tempatnya bermain.


"Tapi siapa yang bisa melakukan ini semua? Wanita ini harus menarik perhatiannya dan yang pasti yang sampai menjadi pengkhianat" kata Rendra harus memikirkan matang-matang ini semua karena dia juga ragu jika mengirim wanita penggoda tapi wanita itu malah akan tergoda dengan pesona Maxi yang tak kalah tampannya dari Rendra.


"Tenang kak, aku sudah menemukan orangnya" kata Eril tersenyum misterius.


"Siapa orangnya?" kata Rendra memandang adiknya


"Mungkin dia akan segera sampai, tunggu saja" kata Eril melirik jam tangannya merasa orang yang ditunggu akan segera datang.


Rendra semakin mengerutkan dahinya, menebak siapa yang akan datang. Cukup lama dia menunggu hingga terlihat seorang wanita yang begitu cantik datang, wanita itu menggunakan baju berwarna corral dan begitu menggoda, tubuhnya tinggi semampai bak model, siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terpesona olehnya.


"Gwi????" Rendra membesarkan matanya lebar-lebar ketika melihat orang yang di maksud Eril adalah adik bungsunya.


"Yups, Gwi yang akan membantu melancarkan rencana kita" kata Eril tersenyum kecil.


"Benar kak, aku siap membantu kakak" kata Gwiyomi melangkahkan kakinya ikut bergabung dengan kedua kakak laki-lakinya.


"Kau gila! Maxi itu musuh yang berbahaya, bagaimana bisa kau menyuruh Gwi melakukan ini semua" Rendra justru marah karena tak ingin ambil resiko.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2