Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 52.


__ADS_3

"Bram, setelah ini apa saja jadwalku?" tanya Rendra sepulang melakukan pengecekan beberapa barang yang di jual di Mall perusahannya.


"Setelah ini Anda memiliki janji temu dengan Tuan Dewangga dari kota Bandung, Tuan" ucap Bram memberitahukan.


"Astaga, sekarang jam berapa?" ucap Rendra lupa jika akan mengajak Kirana menemui kedua orang tuanya.


"Jam 2, Tuan" sahut Bram.


"Aku lupa kalau akan menjemput Kirana. Bram, batalkan saja pertemuan itu," kata Rendra tak ingin sampai terlambat menjemput Kirana.


"Di batalkan Tuan? Bukankah ini menyangkut bisnis yang penting? Lagipula Tuan Dewangga sudah menjadi partner bisnis kita sejak lama," ucap Bram mengingatkan.


Rendra terdiam, ia lupa kalau tidak bisa semudah itu membatalkan janji dengan klien. Apalagi klien ini merupakan klien penting dan sudah terbilang cukup dekat dengan keluarganya.


"Baiklah, kalau begitu perintahkan anak buah kita untuk menjemput Kirana. Setelah itu antar kan dia ke salon Syalome, aku akan menjemputnya disana nanti," kata Rendra.


"Baik Tuan," sahut Bram mengangguk patuh. Ia segera menghubungi anak buahnya yang sudah berjaga-jaga di sekitar Kirana.


"Halo, tolong jemput Nona Kirana, antar dia ke ..." Bram mengatakan semua yang diperintahkan oleh Rendra.


"Mohon maaf Tuan, tapi saat ini Nona Kirana sedang tidak ada di tempatnya bekerja"


"Tidak ada di tempatnya?" ucap Bram memastikan kembali, ia menatap Rendra yang langsung memasang wajah waspada itu.


"Benar, Nona Kirana sedang mengantarkan barang ke alamat XXX ..."


"Ada apa Bram?" tanya Rendra curiga ada yang tidak beres.


"Nona Kirana sedang mengantarkan barang ke alamat XXX, Tuan" sahut Bram.


"Kenapa Kirana harus mengantarkan barang itu? Apa pemilik toko itu tidak tahu kalau hal itu bahaya. Kita harus menyusulnya," kata Rendra cemas memikirkan Kirana yang seorang wanita harus mengangkat-angkat barang.

__ADS_1


"Tapi Tuan, bagaimana dengan meeting-nya?" tanya Bram kaget dengan sikap Rendra yang mudah berubah. Lagipula apa yang sebenarnya Rendra pikirkan, bukankah memang tugas seorang pegawai Toserba mengantarkan barang, pikirnya.


"Batalkan saja," kata Rendra enteng.


"Tapi Tuan ..."


"Kau masih mau bekerja denganku atau tidak!" bentak Rendra sedikit kesal karena Bram menahan dirinya.


Bram menghela napasnya, sebenarnya ia tidak takut dengan ancaman dari Rendra. Ia hanya malas jika harus mengatur ulang jadwal yang sudah susah payah dibuatnya. Tapi apa mau dikata, ia hanya bawahan yang hanya bisa mengangguk meski hati dongkol setengah mati.


****


Dandi menyetir mobilnya dengan pelan, sesekali ia melirik Kirana yang tampak kepanasan. Wanita itu mengipasi wajahnya yang penuh keringat dan kemerahan.


"Kiran, sepertinya kau sangat lelah. Aku tidak akan mengajakmu lain kali," ucap Dandi tak tega rasanya melihat Kirana, hatinya memang senang bisa berduaan dengan Kirana, tapi ia tak bisa mengabaikan begitu saja keadaan Kirana.


"Kau tidak apa-apa, Kak. Bukankah sudah biasa jika harus bekerja seperti ini" kata Kirana tak keberatan jika harus kepanasan, yang terpenting ia bisa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.


"Kau memang hebat Kiran, suamimu nanti pasti akan sangat beruntung," kata Dandi semakin kagum dengan sifat Kirana yang pekerja keras itu.


Saat mobil mereka sedang berjalan di jalan yang lumayan sepi, tiba-tiba saja ada sebuah mobil Van hitam yang menghadang mobil mereka. Dandi segera menginjak remnya agar mobilnya tak sampai menabrak mobil di depannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Kirana panik dan takut jika ada orang jahat yang akan menyerang.


"Aku tidak tahu, kita putar balik saja," kata Dandi juga sama takutnya, mungkin dia bisa menghadapi orang itu, tapi bagaimana kalau mereka itu begal yang akan mengambil mobil beserta barang yang dibawanya.


Kirana hanya mengangguk-angguk saja, ia juga takut jika orang itu akan macam-macam. Apalagi kini beberapa orang tampak keluar dari mobil dan mendatanginya sebelum mobil mereka sempat berputar arah.


"Kak, aku takut Kak," ucap Kirana pada Dandi.


"Kamu tenang ya, aku akan turun menghadapi mereka," kata Dandi meski ia takut tapi ia harus kuat demi menjaga Kirana.

__ADS_1


Dandi segera turun dan menantang anak buah Rendra yang memiliki badan tidak kecil itu. Dandi sempat menelan ludahnya saat melihat bagaimana kekarnya otot-otot lengan mereka.


"Kalian siapa? Aku tidak punya urusan dengan kalian, jangan menggangguku!" ucap Dandi dengan nada sok beraninya.


"Kami ingin menjemput Nona Kirana, dia ada di dalam 'kan?" ucap salah satu anak buah Rendra.


"Menjemput Kirana? Memangnya kalian siapa, ingin datang menjemput?" tanya Dandi mengernyit curiga.


"Ck, cepat panggilkan saja Nona Kirana. Kalau kau masih sayang nyawamu!" ancam orang itu membuat Dandi sedikit bergidik.


Di dalam mobil, Rendra tampak menunggu Kirana dengan gusar. Ia tak sabar karena wanita itu belum turun juga. Saat Rendra melihat seorang turun pria turun dari mobil itu, darah Rendra rasanya seperti mendidih. Dalam pikiran Rendra, Kirana dan pria itu baru saja berduaan di dalam mobil.


"Kurang ajar!" gumam Rendra memutuskan langsung turun dari mobilnya.


Dengan langkahnya yang mantap, ia mendatangi Dandi yang sedang sibuk bersama anak buahnya itu. Dandi terdengar menolak saat anak buahnya meminta pria itu menurunkan Kirana.


"Ada apa ini?" tanya Rendra dengan suara baritonnya yang khas.


"Pria ini tidak mau menurunkan Nona Kirana Tuan," lapor anak buah Rendra.


Rendra menatap Dandi dengan tajam, ia menatap pria itu dari atas sampai bawah. Hanya biasa saja, wajahnya pun sangat pas-pasan, tapi dia punya nyali untuk mendekati Kirana.


"Kau pikir siapa dirimu, berani sekali menghalangiku menjemput Kiran" ucap Rendra dengan nada arogannya. Ia langsung saja berjalan menuju mobil Kiran namun ternyata Dandi malah menahan tangannya.


Rendra mengangkat alisnya, menatap tangan pria itu yang dengan lancang menyentuh dirinya. Rendra segera mengibaskannya dengan kasar.


"Jaga sikapmu!" bentak Rendra begitu kesal rasanya.


Dandi menelan ludahnya, ia takut saat melihat tatapan Rendra yang begitu menusuk. "Jangan mengganggu kami Tuan, kami hanya bekerja. Tolong lepaskan kami," ucap Dandi mengiba kepada Rendra.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


Jangan lupa dukungan, like dan komen ya Kak...


__ADS_2