Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 36.


__ADS_3

Kirana memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan keras dari Maxi. Ia tidak mengaduh ataupun menangis seperti biasanya. Ia malah balas menatap pria itu dengan tajam.


"Kau memang pria licik! Seharusnya aku tidak percaya padamu! Maxi! Aku akan membunuhmu!" teriak Kirana merangsek maju kembali tapi lagi-lagi Maxi sudah lebih sigap darinya.


Maxi memegang tangan Kirana dengan keras lalu memelintirnya ke belakang. "Aku yang akan lebih dulu membunuhmu Kirana! Bersiaplah untuk menyusul ibumu ke alam baka!" ucap Maxi lalu mendorong tubuh Kirana dengan sangat keras hingga kepalnya terbentur sudut meja.


"Argh....." Kirana mendesis memegang kepalanya yang langsung pusing.


"Kau pikir siapa dirimu berani denganku," kata Maxi meludahi Kirana.


"Penjaga! Bawa wanita ini kedalam gudang! Jangan beri makan atau minum selama dua hari, biarkan dia mati disana menyusul ibunya!" perintah Maxi kepada anak buahnya.


Kirana tak sempat melawan, kepalnya terasa sangat sakit hingga rasanya ia ingin pingsan. Namun matanya seolah tidak bisa terpejam, ia terus menatap Maxi dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian.


*****


Gwiyomi memutari seluruh kamar yang ditempatinya. Semua jendela disana ternyata tidak ada yang bisa dibuka. Selain itu, jika dia bisa keluar dari rumah itu, rasanya akan tetep mustahil jika dia bisa kabur, karena Gwi bisa menebak kalau saat ini tempatnya sedang berada di tengah hutan. Terbukti dengan suara anjing yang menggonggong beberapa kali.


"Ini gimana gue keluarnya, Ya Tuhan, bantuin Gwi," batin Gwiyomi sangat kalut sekali.


Ditengah kekalutannya itu, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka membuat Gwi langsung waspada. Terlihat sosok Maxi yang datang dengan rokok ditangannya.


Gwi langsung beringsut menjauh, ia sangat takut jika pria gila ini akan macam-macam padanya.


"Sudah bangun ternyata," ucap Maxi membuang putung rokoknya asal lalu mendekati Gwi yang sangat ketakutan itu.


"Pergi! Jangan mendekatiku!" seru Gwi benar-benar takut.


Maxi tersenyum sinis, ia membuka jasnya perlahan membuat Gwi semakin takut.

__ADS_1


"Jangan takut sayang, aku tidak akan kasar padamu kalau kau menurut padaku," kata Maxi menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.


"Tidak! Kalau kau macam-macam padaku, aku akan melaporkan mu kepada Kakakku! Kau pasti akan di habisi olehnya" kata Gwi mengancam sebagai satu-satunya cara, ia berpikir mungkin Maxi akan sangat takut dengan Kakaknya.


"Kakakmu? Apa kau yakin mereka bisa menyelamatkanmu Nona Gwi?" kata Maxi terkekeh kecil karena ucapan Gwi.


Mata Gwi membulat sempurna, ia bingung harus berbuat apalagi sekarang. Namun sialnya, kekagetannya itu malah di manfaatkan oleh Maxi untuk menyergap dirinya di kasur.


"Akhhhhhh.....Lepaskan aku!" teriak Gwi ketakutan, ia berusaha sebisa mungkin lepas dari kungkungan Maxi.


"Kau sangat ketakutan sekali? Dimana keberanian mu yang dulu saat menggodaku Nona Gwi, kau memang sangat cantik, tak salah jika aku ingin memiliki mu" ucap Maxi mengelus lembut pipi Gwi yang memerah.


"Maafkan aku Max, percayalah aku memang menggoda mh, tapi aku sebenarnya benar-benar mencintaimu," kata Gwi harus memutar otak agar Maxi bisa percaya padanya dan tidak melakukan hal gila ini.


Maxi tersenyum manis mendengarnya. "Jadi kau benar-benar mencintaiku? Berarti tak ada salahnya bukan kalau aku menginginkanmu, anggap saja sebagai bukti cintamu padaku," kata Maxi memegang kedua tangan Gwi lalu menekuknya di atas kepala.


"Sayangya aku tidak butuh maaf darimu Gwi. Kau yang sudah lebih dulu menggodaku, jadi jangan salahkan aku jika melakukan ini padamu. Asalkan kau tau Gwi, kalau saja kau bukan adiknya Rendra, aku pasti akan dengan mudah memaafkan mu. Tapi sayangnya kau bagian dari musuhku, jadi aku akan menghancurkan mu," kata Maxi lambat-lambat agar Gwiyomi mengingat apa yang baru saja dikatakannya.


Gwiyomi tak sempat saat Maxi tiba-tiba mencium bibirnya, ia sebisa mungkin mengatupkan mulutnya agar Maxi kesusahan menciumnya. Gwi menangis keras saat Maxi dengan kasar merobek bajunya hingga bagian depannya terbuka.


"Argh....Papa! Mama! Aku tidak mau....." Gwi menjerit keras saat Maxi semakin menggila memegang beda miliknya itu.


"Sssshh.....kau harum sekali, aku jadi semakin tak sabar," bisik Maxi menciumi telinga Gwi dengan penuh nafsu.


Gwiyomi tak ingin membiarkan ini semua terjadi, ia harus melawan Maxi. Jangan sampai pria gila ini melecehkannya. Dengan sekuat tenaga, Gwi menggunakan kakinya untuk menendang Maxi hingga mengenai tepat di bagian vitalnya.


Melihat kesempatan itu, Gwi langsung melepaskan dirinya lalu mengambil sebuah lampu tidur yang berada disana dan menghantamkannya ke kepala Maxi dengan keras.


"Argh!!!!" Maxi berteriak kesakitan saat Gwi memukulnya, kepalanya langsung berdarah namun ia masih sadar.

__ADS_1


Gwi langsung berlari keluar kamar itu, tapi sialnya kamar itu terkunci dan kuncinya berada di tangan Maxi.


"Jangan lari kamu! Dasar wanita kurang ajar!" ucap Maxi bangkit seraya memegangi kepalanya yang sangat sakit.


Gwi sangat panik, ia berlari untuk mengambil sebuah pajangan lain yang bisa digunakannya untuk melawan Maxi. Ia melemparkannya dengan membabi buta membuat Maxi kaget dan juga panik.


"Hentikan! Atau kau akan menyesal!" ancam Maxi menjauh dari Gwi, takut jika pajangan itu akan mengenai dirinya.


"Jika kau berani mendekatiku! Aku akan memukulmu dengan gucci ini" Gwi balas mengancam dengan menunjukkan sebuah gucci yang cukup besar kepada Maxi.


Maxi menyeringai, tapa Gwi duga, Maxi tiba-tiba mengambil pistolnya lalu menembak gucci itu dengan keras hingga hancur berkeping-keping.


Gwi sangat kaget tentunya, ia tak bisa kemana-mana lagi sekarang. Maxi pasti benar-benar akan melakukan hal gila itu padanya. Gwi sudah sangat ketakutan, namun tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar membuat pandangan mereka teralihkan.


Maxi berdecak kesal, siapa yang berani menganggu kesenangannya itu. Ia menatap Gwi sangat tajam sebelum membuka pintu kamar itu.


"Ada apa?" kata Maxi tak ada ramah-ramahnya sama sekali, terlihat sekali dia sedang sangat kesal.


"Mata-mata kita melaporkan kalau Tuan Axel sudah bergerak memerintah pasukan khusus untuk mengepung kita Tuan," ujar Franky melaporkan.


"Sial! Kenapa mereka cepat sekali tempat ini. Apakah dia tidak menunggui anaknya yang akan mati itu" umpat Maxi semakin kesal sekali rasanya. Kirana sudah gagal membunuh Rendra dan ia tak ingin rencananya mendapatkan Gwi ikut gagal juga.


Maxi memutar otaknya, dia harus mencari cara agar Axel tidak bisa menyelematkan Gwi.


"Franky! Bawa wanita itu ke ruang bawah tanah bersama Kirana, sepertinya memberikan sedikit kejutan untuk tua bangka itu akan sangat menyenangkan" ucap Maxi dengan seringai tipisnya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2