Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Keracunan.


__ADS_3

Kirana hanya berdiri mematung mendengar ucapan Rendra, air matanya kembali menetes, namun ia tak menghapusnya. Membiarkan saja air mata itu membasahi wajahnya. Tanpa mengucap sepatah katapun, Kirana langsung beranjak pergi dari sana.


Rendra mengepalkan tangannya erat, sangat benci dengan penolakan Kirana. Apakah memang jatuh cinta se- bi adap ini? Jika iya, kenapa Tuhan harus membuatnya jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintainya. Lalu kenapa dia juga harus terjerat oleh cinta Kirana?


Rendra rasanya ingin marah, namun kepada siapa? Kirana? Bukankah itu akan sangat lucu jika marah karena Kirana menolaknya? Wanita itu juga berhak menentukan hidupnya sendiri kan? Mungkin sekarang, dia harus belajar mengikhlaskan.


Setelah mengganti bajunya, Rendra langsung menghubungi Bram untuk mengantarkan laptopnya. Tadinya, dia ingin beristirahat, tapi setelah apa yang terjadi tadi, Rendra merasa harus bekerja untuk menghilangkan sakit hatinya.


"Permisi Tuan, ini laptop yang Anda butuhkan" ucap Bram memberikan laptop yang diminta oleh Rendra.


"Taruh saja dulu" sahut Rendra menunjuk meja dengan dagunya, ia lalu mengambil kopinya terlebih dulu karena Rendra terbiasa meminum kopi sebelum bekerja.


Bram mengangguk dan segera meletakkan laptopnya. Setelah itu ia langsung pamit undur ini. Namun, baru beberapa langkah ia beranjak, ia mendengar suara gelas yang pecah disusul dengan suara sesuatu jatuh dengan keras. Bram langsung menoleh dan matanya seketika membesar saat melihat Tuannya jatuh ke lantai dengan mulut yang penuh dengan busa.


"Tuan Rendra!" pekik Bram bergerak cepat mendatangi Tuannya.


Ia memangku tubuh Rendra yang kejang-kejang dengan mulut yang terus mengeluarkan busa.


"Penjaga!" Teriak Bram dengan begitu paniknya saat menyadari Tuannya ini keracunan.


"Penjaga!" Bram kembali berteriak karena tak ada sahutan dari luar. Kepanikan Bram meningkat saat merasakan tubuh Rendra terus kejang.


"Tuan memanggil kami?" Dua orang penjaga terlihat datang ke kamar itu.


"Ayo bantu aku mengangkat Tuan Rendra, beliau keracunan" perintah Bram dengan suara tegasnya.


Semua orang yang berada di rumah itu langsung panik mendengar Tuan mereka keracunan. Selama bekerja disana, kejadian itu tak pernah terjadi karena semua bahan makanan ataupun minuman disana sangat higienis.


"Ada apa ini?" tanya Sella kebingungan melihat para penjaga berlarian untuk membantu mengangkat Rendra.


"Tuan Rendra keracunan, sekarang mau di bawa ke rumah sakit" sahut penjaga itu.

__ADS_1


Sella menutup mulutnya syok, bagaimana Rendra bisa keracunan? Bukankah bosnya itu baik-baik saja tadi? Sella langsung mencari Kirana untuk memberitahukan hal ini, tapi ia tak menemukan wanita itu sama sekali.


"Kiran?" panggil Sella menyusuri ruang belakang rumah Rendra, namun juga tak menemukan Kirana.


Melihat Kirana yang tidak ada di kamarnya, entah kenapa Sella sangat yakin kalau Kirana yang berada dibalik ini semua. Sella juga ingat kalau tadi Kirana yang mengantarkan kopi untuk Tuan Rendra.


"Penjaga! Kirana kabur! Kalian harus mencarinya, aku yakin dia yang sudah meracuni Tuan Rendra" Sella langsung saja melaporkan semua itu kepada penjaga yang tersisa disana.


Sementara itu, di belakang rumah Rendra. Kirana berjalan pelan menyusuri jalan yang gelap itu. Tatapan matanya kosong seperti tak bernyawa. Ia menatap sebuah mobil hitam yang sudah terparkir disana.


"Bagaimana?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitamnya.


"Target sudah dilumpuhkan" sahut Kirana datar tak bernada.


"Bagus, sekarang masuklah. Tuan sudah menunggumu" ujar Franky tersenyum puas karena rencananya berhasil.


Kirana tak menjawab, ia langsung masuk kedalam mobil itu. Tak ada yang bisa menebak apa yang ada dipikiran Kirana saat ini, yang jelas di balik baju yang dipakainya itu sudah tersimpan sebuah pisau yang sengaja dia bawa.


Gwiyomi dan Jingga sudah berhasil sampai di club yang ditujunya, setelah berbagai alasan yang dibuat untuk membuat Papi Dio dan Mami Karin percaya, akhirnya mereka berdua lolos.


"Lu beneran kebangetan Gwi, gue sampai harus bohongin Papi sama Mami, semoga Mami gue nggak ngutuk gue jadi batu karena udah bohongin dia" cetus Jingga merasa bersalah karena sudah membohongi orang tuanya.


"Kayak malin kundang aja" kata Gwiyomi terkekeh kecil.


"Ini kita mau ngapain sih? Joget-joget nggak jelas pasti" kata Jingga malas sekali rasanya.


"Kita ini tuh lagi healing, lu nggak mau coba rasanya wine itu gimana?" kata Gwiyomi mencoba mempengaruhi Jingga.


Jingga hanya diam, jiwa penasaran dalam dirinya sebenarnya sama besarnya seperti Gwi, tapi Jingga hanya takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan, karena bagaimanapun juga, club ini adalah tempat yang sangat berbahaya. Tapi dia juga penasaran.


Kedua sahabat itu langsung masuk ke dalam club, untung tak ada pengecekan umur sebagai syarat masuk club malam itu. Saat mereka masuk, dentuman suara musik yang sangat keras langsung menyambutnya. Pandangannya menyapu keseluruhan tempat yang tampak sangat ramai sekali itu.

__ADS_1


"Aduh, disini berisik banget, kita pulang aja" Jingga menyumbat telinganya karena tak tahan dengan suara musik yang begitu kerasnya.


"Ha?" Gwi tak mendengar apa yang diucapkan oleh Jingga karena suara musik itu.


"Kita pulang aja" teriak Jingga lagi.


"Pulang gimana? Kita baru aja sampai, ayo bersenang-senang" teriak Gwiyomi menarik kembali tangan Jingga untuk ikut bergabung dengan orang-orang lainnya yang sudah asyik dengan dunianya itu.


"Seru banget! Ayo joget" kata Gwiyomi langsung saja menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik DJ yang di putar.


Jingga merasa sangat risih sekali dengan keadaan ini semua, bahkan tak jarang ada pria-pria yang sengaja menyenggol tubuhnya. Ia mulai tak bisa melihat Gwiyomi yang berjoget ke tengah, saat ia ingin menyusulnya, tiba-tiba ada orang yang menghadangnya.


"Selamat malam Nona cantik" ucap seorang pria muda yang menghampiri Gwi.


"Siapa kau? Minggir! Kau menghalangi jalanku" kata Jingga kesal karena pria tidak di kenal ini menghalanginya.


"Jangan terburu-buru Nona Cantik, Ayo kita bersenang-senang dulu" kata pria itu mendekati Jingga yang malam itu terlihat sangat cantik sekali di matanya.


"Dasar pria gila!" cetus Jingga ingin meninggalkan pria itu, tapi nyatanya pria itu tak menyerah, ia malah menarik tangannya hingga tubuh Jingga membentur dadanya.


"Argh....Jangan kurang ajar kamu!" Jingga berteriak marah dan mencoba melepaskan dirinya.


"Wanita sombong! Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang, ayolah Babe" ucap Pria itu memeluk Jingga erat, tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh bagian belakang Jingga.


"Lepaskan aku! Pria ca bul!" Jingga sangat marah sekali kali ini, dengan sekuat tenaga, ia mendorong tubuh pria mesum itu dengan keras hingga pria itu tersungkur ke belakang.


"Aku peringatkan padamu! Jangan coba-coba menggangguku lagi!" teriak Jingga dengan penuh amarah.


Kejadian itu tentunya menarik perhatian semua orang, apalagi pria yang di dorong oleh Jingga itu merupakan pria yang sangat di takuti disana. Entah apa yang akan terjadi kepada Jingga, tapi pria itu pasti tak akan melepaskannya begitu saja.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2