
Setelah Dokter pergi meninggalkan mereka. Rendra tiba-tiba pergi dan menghilang entah kemana meninggalkan Kirana. Pria itu cukup lama baru kembali lagi.
Kirana mengerutkan dahinya saat melihat Rendra datang dengan membawa nampan yang berisi makanan. Kirana terus menatap Rendra yang hanya diam saja membawa nampan itu ke sisi Kirana.
"Makan," ucap Rendra datar dan dingin seperti biasa.
"Eh? Tapi aku tidak lapar Tuan," ucap Kirana menolak halus. Ia malah merasa ini sangat aneh karena Rendra tiba-tiba menyuruhnya makan.
"Makan sendiri atau aku suapi?" ucap Rendra mengambil mangkok yang terletak di meja.
"Ha?" Kirana kembali terbengong sesaat.
Rendra mendengus kesal, tanpa mengucapkan kata, ia menyendok bubur yang berada di mangkok lalu mengulurkannya kepada ke bibir Kirana.
"Buka mulutmu!" ucap Rendra lebih tepatnya seperti memerintah. Tatapan matanya tajam menusuk hingga membuat Kirana terasa terintimidasi.
Kirana menurut, ia membuka mulutnya perlahan agar Rendra mudah menyuapinya. Pria itu memang sangat mudah mengintimidasi seseorang, hanya karena tatapan matanya saja, Kirana sudah tak berkutik. Ia harus bersusah payah menelan makanannya karena takut dimarahi Rendra nanti.
"Sudah," ucap Kirana sudah tak mampu lagi menerima suapan dari Rendra.
"Tinggal sedikit lagi," kata Rendra merasa Kirana makan terlalu sedikit.
"Aku sudah kenyang, nanti kalau di paksa akan muntah," ucap Kirana mengatakan alasan nya menolak.
"Baiklah, sekarang waktunya minum obat," kata Rendra tak lagi memaksa, ia meletakkan mangkoknya di meja lalu mengambil obat Kirana.
"Kapan aku boleh pulang?" tanya Kirana sudah tidak betah berada di sana.
"Pulang? Memangnya siapa yang mengizinkanmu pulang? Kau tidak boleh pulang sebelum kau sembuh," ujar Rendra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kau gila ya?" Seru Kirana terkejut.
"Kau bilang apa?" Rendra menatap Kirana tajam.
"Oh, eh, maksudku ... kenapa aku tidak boleh pulang? Kaki ku sudah baik-baik saja, jadi izinkan aku pulang ya ..." kata Kirana tak enak jika tidak pulang, apalagi ia juga cukup tak nyaman jika harus tinggal bersama Rendra.
"Memangnya kenapa kau harus pulang? Siapa yang akan kau temui di rumah?" ujar Rendra menyipitkan matanya menatap Kirana curiga.
"Siapa? Tidak ada, bukankah pekerjaanku sudah selesai? Jadi aku harus pulang bukan? Sekalian aku minta izin libur sampai kaki ku sembuh," ucap Kirana menjelaskan seadanya.
"Sayangnya aku tidak peduli, kau harus tetap disini sampai kaki mu sembuh," ucap Rendra seenaknya saja.
"Kenapa begitu? Ini pelanggaran, aku bisa melaporkan mu ke polisi karena menyandra ku disini," ucap Kirana semakin kesal saja dengan keinginan Rendra. Ia tak peduli jika harus melawan pria itu, lebih baik Rendra marah dan cepat-cepat mengusirnya.
"Memangnya siapa yang berani melawanku? Kau seharusnya tahu siapa aku bukan?" ucap Rendra tersenyum angkuh.
"Tapi tetap saja tidak bisa seperti itu, aku punya hak atas diriku sendiri dan kau tidak bisa seenaknya saja mengaturku," ucap Kirana geram.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu Kirana. Apa kau lupa, apa yang pernah aku katakan dulu padamu? Kau adalah milikku, sejauh dan sekuat apapun kau lari dariku, aku pasti akan mendapatkan mu dan kau! Selamanya akan menjadi milikku!" Rendra mengucapkan lambat-lambat setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia ingin Kirana tahu kalau ia tak pernah main-main dengan apa yang pernah diucapkannya.
Tubuh Kirana seolah membeku, ia tak menyangka jika Rendra masih sangat mengingat apa yang diucapkannya dulu. Tanpa sadar mata Kirana mulai berkaca-kaca, ia ingin sekai mengatakan kalau ia pun tak pernah menginginkan perpisahan ini.
"Aku bukan milik mu," Kirana lebih memilih membuang pandangannya ke arah lain, ia tak ingin sampai hatinya goyah jika terus bertatapan dengan Rendra.
"Katakan sekali lagi kalau kau bukan milikku," Rendra menarik dagu Kirana agar menatapnya kembali.
Kirana mengigit bibirnya, kenapa rasanya susah sekali untuk menolak Rendra.
"Aku bukan milik mu Rendra, hubungan kita sudah selesai," ucap Kirana menahan nyeri yang luar biasa di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang, aku akan menjadikan mu milikku untuk selamanya," ucap Rendra langsung me lu mat bibir manis Kirana.
Kirana tentu terkejut, ia berontak dan mencoba melepaskan ciuman Rendra, tapi Rendra malah menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka.
Rendra tak peduli jika Kirana marah atau memakinya, ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia mencintai Kirana, tapi kenapa Kirana selalu menolaknya. Rendra rasa sudah cukup kesabarannya selama ini, ia harus membuat wanita ini tunduk dan menerima cintanya, itulah yang ada dipikirannya.
"Rendra! Stop! Jangan seperti ini ..." teriak Kirana menangis lirih saat Rendra menurunkan ciumannya ke leher Kirana.
Rendra tak peduli, ia terus memberi sentuhan pada tubuh Kirana dengan tergesa namun juga tidak kasar. Lama-lama Kirana mulai terbawa suasana dengan apa yang dilakukan Rendra.
"Maafkan aku, tapi kau hanya milikku Kiran, aku tidak akan melepaskan mu lagi," ucap Rendra langsung menggendong tubuh Kirana dan membawa wanita itu ke kamar lalu kembali mencium wanita itu dengan lebih panas dan menggelora.
Kirana tak tahu apa yang harus dilakukannya, mungkin dia memang bodoh karena tidak bisa menolak Rendra. Ini seharusnya adalah hal yang salah, ia tidak boleh melanjutkannya.
"Rendra, please ... aku bukan wanita yang pantas untukmu," kata Kirana menangis seraya menahan tangan Rendra saat pria itu akan melepaskan satu-satunya kain yang tersisa.
Rendra menepis pelan tangan Kirana. "Tidak ada yang menganggap mu seperti itu, kau adalah wanita ku. Percayalah padaku, aku pasti akan tanggung jawab," ucap Rendra memandang Kirana dengan mata sayunya, sorot matanya tampak begitu teguh dan meyakinkan membuat Kirana perlahan melepaskan tangannya.
Rendra tersenyum lembut, ia kembali mencium bibir Kirana dengan lembut. Ia tak ingin tergesa-gesa untuk melakukannya, ia ingin membuat Kirana senyaman mungkin menerima dirinya. Apalagi ia tahu jika Kirana masih trauma dengan masa lalunya.
"Kirana, lihat aku ..." Rendra mengelus lembut pipi Kirana, ia tak mau wanita itu memejamkan matanya saat mereka melakukannya.
"Aku takut," ucap Kirana dengan bibir gemetar, meski ia sudah tidak perawan, tapi ia masih merasa kesakitan saat Rendra melakukannya.
"Semua akan baik-baik saja, lihat aku ..." ucap Rendra terus menenangkan Kirana, mencoba membujuk Kirana yang gemetaran untuk menerima dirinya.
Akhirnya di hari menjelang sore itu menjadi saksi peleburan cinta mereka berdua. Rendra tidak pernah mempermasalahkan jika ia bukan pria pertama yang menyentuh Kirana. Baginya Kirana tetaplah wanita suci yang akan menjadi pengisi hatinya untuk selamanya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.