
Rendra menemani Yolan melihat gedung yang akan digunakan untuk membuat usaha butik, dia dengan sabar menjelaskan jika Yolan yang manja itu selalu bertanya hal-hal yang tidak penting. Ia juga menuruti saja saat Yolan mengajaknya makan siang, lagipula hanya makan, kenapa harus menolak.
"Makasih ya Ren, kamu udah mau nemenin aku hari ini" kata Yolan memulai percakapan.
"Ya sama-sama, kalau begitu aku pamit duluan, masih ada hal yang aku urus" kata Rendra tak ingin berlama-lama lagi bersama Yolan.
"Buru-buru banget sih? Ini makanan kamu belum habis" kata Yolan menahan tangan Rendra sebelum pria itu pergi.
"Aku udah kenyang, duluan Yol" kata Rendra menepis halus tangan Yolan.
Yolan sedikit kesal, ia cepat-cepat bangkit dan menyusul Rendra tapi pria itu tak perduli saat dia memanggil-manggilnya. Rendra terus berjalan lurus menuju keluar, tapi ia kaget saat Bram terburu-buru masuk.
"Tuan, di depan banyak sekali wartawan, anda sebaiknya jangan lewat sini" kata Bram.
"Wartawan? Untuk apa mereka?" kata Rendra kaget.
"Ren, ada apa?" tanya Yolan ketika sampai disamping pria itu.
Rendra hanya meliriknya dan kembali menatap Bram yang menjelaskan kenapa para wartawan itu mengejar dirinya. Selama ini banyak wartawan yang memang begitu haus akan berita tentang dirinya, jadi ketika mendengar sedikit saja hal yang menyangkut dirinya, pasti langsung di serbu layaknya kawanan lebah yang mengejar madu.
"Saya tidak tau siapa yang menyebarkan berita kalau anda sedang pergi bersama seorang wanita, tapi sebaiknya anda segera mengajak Nona Yolan untuk pergi" kata Bram lagi.
Rendra mengangguk singkat dan memberikan gestur kepada Yolan untuk mengikutinya, tapi sialnya bagi Rendra salah satu wartwan itu sudah lebih dulu melihat dirinya.
"Itu dia Tuan Rendra! Ayo ambil gambarnya, dia benar-benar bersama seorang wanita" teriak wartawan itu bergegas mengajak temannya untuk mengejar Rendra.
Rendra kaget dan secara reflek langsung menarik Yolan untuk meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin sampai publik menilai yang tidak-tidak tentang dirinya. Sedangkan Yolan malah kesenangan saat para wartawan itu mengerubutinya, dengan begini semua orang tau kalau dirinya adalah wanita yang dekat dengan Rendra.
"Tuan Rendra, tolong konfirmasinya"
"Apakah benar kalian punya hubungan?"
"Tuan Rendra!"
__ADS_1
Para wartawan itu terus mendesak sampai Rendra masuk ke dalam mobilnya dan berjalan pergi. Wajah Rendra tampak begitu kesal sekali.
"Sorry Ren, aku nggak tau kalau bakal kayak gini" kata Yolan.
"Ini bukan salahmu, mereka saja yang haus akan berita tentang ku" kata Rendra tak ingin menyalahkan siapapun, sudah terlalu biasa dengan hal seperti ini.
*****
Kirana sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya, malah menurutnya ini lebih baik daripada dia harus tinggal bersama Maxi dan setiap hari harus mendapatkan penyiksaan. Meskipun hanya satu bulan disana, sudah banyak hal yang Kirana lalui. Awalnya dia dijadikan Ayahnya untuk menebus hutang, tapi ternyata Maxi sangat licik, karena bukan hutang yang lunas tapi justru Ayahnya yang dihabisi di depan matanya.
Kirana merasa miris, kedua orang tuanya mati tepat dihadapannya sendiri namun dia tidak bisa melakukan apapun.
"Kiran! Kamu gimana sih! Kerja yang becus, aku udah bilang berapa kali untuk membersihkan kolam renang sampai bersih" teriak Senior pelayan mendatangi Kirana.
Kirana padahal baru saja beristirahat setelah membersihkan seluruh rumah.
"Maafkan aku kak, bisakah aku istirahat sebentar? Aku akan membersihkannya nanti" kata Kirana memang sangat lelah sekali.
Apa yang dikatakan Sella sepenuhnya benar, para senior wanita disini memang tidak ada yang menyukainya, bahkan setiap hari mereka terus menyuruh Kirana mengerjakan semua tugas bagiannya, sedangkan mereka akan bersantai-santai.
"Kak Melda, kenapa Kakak kasar sekali pada Kirana? Kakak tidak berhak bersikap seperti ini" kata Sella kaget saat melihat Kirana diseret dengan kasar itu.
"Jangan ikut campur Sella! Lakukan saja tugasmu atau kau ingin menggantikan dia" kata Melda menatap Sella tajam, dia memang sangat ditakuti disini.
"Aku tidak apa-apa Sella" kata Kirana tak ingin Sella terkena masalah karena dirinya.
"Tapi dia keterlaluan Kiran" kata Sella masih begitu kesal dengan tingkah semena-mena Melda.
"Halah Drama! Ayo cepat" kata Melda menarik kembali tangan Kirana.
Kirana memberikan sedikit senyumnya kepada Sella sebelum mengikuti Melda dengan tersandung-sandung. Sesampainya disana, Melda langsung mendorong tubuh Kirana hingga hampir terjatuh.
"Guys, lihat nih wanita tak tahu diri mau sok-sokan suka sama Tuan Rendra kita lagi" kata Melda mengejek Kirana bersama dua teman pelayan lainnya.
__ADS_1
"Iya dasar nggak tau malu, sadar diri woy" kata teman Melda sedikit menoyor kepala Kirana.
"Udah guys, nanti dia malah nangis lagi, hush sana, bersihkan kolamnya sampai bersih" kata Melda tersenyum puas lalu mengajak kedua temannya itu duduk di kursi pantai dekat kolam untuk melihat Kirana.
Kirana menghela nafasnya, sudah terlalu biasa dengan hal seperti ini, ia tak banyak bicara dan langsung mengerjakan tugasnya membersihkan kolam. Tapi tak semudah itu Melda melepaskannya, ia bangkit dari duduknya lalu dengan sengaja mendorong tubuh Kirana hingga jatuh ke dalam air.
Byyurr!!!!
"Hahahaha... rasain tuh, makanya jadi cewek jangan belagu" kata Melda tertawa senang saat melihat Kirana basah kuyup.
Kirana sempat gelagapan sesaat karena kaget, ia kemudian muncul kepermukaan dan menatap Melda tak mengerti kenapa wanita ini begitu membencinya padahal dia tak melakukan apapun.
"Auh....kasihan sekali, ayo aku bantu naik" kata Melda pura-pura sedih dan mengulurkan tangannya.
Kirana menyambut uluran itu agar bisa naik, tapi Melda malah sengaja melepaskannya hingga ia jatuh kembali ke dalam kolam.
"Hahaha...kau pikir aku mau menolongmu? Bermimpi saja kau" kata Melda kembali tertawa lalu mengajak kedua temannya untuk pergi.
Kirana menghela nafasnya sejenak, dia harus sabar, ini lebih baik daripada tinggal bersama Maxi, begitulah Kirana menyemangati dirinya sendiri.
*****
Malam datang menggerus cahaya matahari, semua pelayan sudah berkumpul di ruang belakang untuk makan malam bersama. Kirana memilih makan paling akhir karena ia juga baru saja bangun tidur, tubuhnya terasa sangat lelah sekali, tapi semua makanan ternyata sudah di bereskan oleh Melda.
"Nggak ada makan untuk orang terlambat, salah sendiri waktunya makan nggak dateng" kata Melda ketika Kirana menanyakan tetang jatah makan malamnya.
Kiran akhirnya kembali ke kamarnya dengan tangan kosong, perutnya terasa perih sekali karena tadi siang pun ia melewatkan makan siangnya. Kepalanya juga sangat pusing hingga hampir saja terhuyung kalau tidak ada tangan kekar yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Kirana langsung mengangkat pandangannya hingga bertatapan dengan sorot mata tajam yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak kencang.
"Rendra!"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.