
Kediaman Leander sudah dihias dengan sangat cantik, beberapa orang tampak masih sangat sibuk menata meja yang berisi makanan untuk para tamu. Rendra langsung masuk kedalam rumah dan melihat Mamanya yang juga sibuk memberi beberapa perintah kepada kepala pelayan agar semua makanan pasti akan cukup untuk semua tamu.
Rendra mendekat lalu memeluk Mamanya dari belakang dan mencium pipinya.
"Rendra? Udah pulang,?" ucap Bella kaget saat Rendra memeluknya. Anaknya yang satu ini memang sering sekali memeluknya seperti ini.
"Iya, Mama sibuk banget sih. Kenapa nggak istirahat aja, jangan sampai kecapekan Ma," kata Rendra melepaskan pelukannya kepada sang Mama.
"Cuma ngecek sedikit kok. Yaudah, kamu mandi gih, bentar lagi tamu pada dateng loh, panggil Eril sekalian, dia kalau dandan suka lama," kata Bella mengelus lembut lengan putranya.
"Iya Ma, aku masuk dulu, ingat jangan capek-capek Ma, aku aduin Papa entar," kata Rendra bercanda.
"Hahaha, memangnya Papa kamu berani sama Mama?" ucap Bella tertawa kecil mendengar ucapan putranya.
Rendra ikut tertawa, Papanya itu memang terlihat tegas dan berwibawa, tapi sebenarnya Papanya itu memiliki hati yang sangat lembut, dan yang paling penting, Papanya itu sangat mencintai Mamanya.
Rendra langsung masuk ke kamarnya, ia merebahkan sejenak tubuhnya yang terasa sangat lelah. Akhir-akhir ini memang banyak sekali hal yang harus di urusnya di perusahaan. Meskipun Eril sering membantunya, namun Rendra tak bisa jika harus melepaskan tanggung jawab begitu saja, baginya Eril itu masih terlalu kecil dan tidak ingin terlalu membebani adiknya.
Saat Rendra memejamkan matanya, bayangan wajah Kirana langsung menari-nari di otaknya. Tanpa sadar ia tersenyum tipis saat membayangkan wajah wanita ini. Hatinya bahkan seperti dihinggapi kupu-kupu hanya karena memikirkan Kirana, apa ini yang namanya jatuh cinta? pikir Rendra.
"Bayangin apa lu, senyum-senyum gaje gitu?" seru Eril mengernyitkan dahinya melihat Kakaknya yang senyam-senyum tanpa sebab.
"Sejak kapan kau disana?" ucap Rendra sedikit kaget melihat Adiknya Eril sudah ada di kamarnya.
"Enggak lama, setidaknya gue udah lihat senyuman enggak jelas elu," kata Eril tersenyum mengejek kepada Kakaknya. Ia sudah tampil rapi dengan setelan jasnya, rambutnya juga sudah tersisir rapi dengan bau pomade yang segar.
Rendra mendengus kecil, merasa kesal dengan ejekan Adiknya ini. Tapi ia tak mengatakan apapun, sudah bosan jika harus bertengkar.
"Gue mau mandi dulu," kata Rendra bangkit dari tidurannya.
"Iya buruan, Mama bilang jangan lama, tamu-tamu udah pada dateng," ucap Eril mengabarkan hal itu.
Rendra menyahut sambil lalu, ia langsung saja mandi dan membersihkan tubuhnya. Sebenarnya ini bukan acara resmi, tapi banyak teman dekat orang tuanya yang datang, jadi dia harus berpakaian yang rapi dengan menggunakan jasnya.
__ADS_1
"Lu masih disini?" tanya Rendra heran saat melihat adiknya masih ada di kamarnya.
"Ya, gue males kalau harus turun dulu," ucap Eril dengan wajah ogah-ogahan.
"Kenapa? Bukannya paling seneng tebar pesona sama cewek cantik?"kata Rendra tersenyum mengejek.
"Sembarangan lu, gue itu enggak pernah tebar pesona, tapi cewek-cewek itu aja yang terpesona sama gue," kata Eril mengulas senyum sombongnya.
"Benarkah? Udah tobat beneran ternyata" kata Rendra lagi.
"Iya, gue udah punya Jenny. Itu udah cukup," kata Eril dengan bangga menyebut nama kekasihnya.
"Terserah elu dah, gue mau turun," kata Rendra lagi.
"Gue juga mau turun. Gimana dengan lu? Udah ada cewek?" tanya Eril menjejeri Kakaknya.
"Cewek mulu ya yang ada di otak lu," kata Rendra menggelengkan kepalanya, tak habis pikir kenapa Adiknya ini selalu membahas wanita.
"Ya tinggal nikah aja, apa susahnya? Bukannya udah saling cinta?" kata Rendra enteng saja.
"Maunya sih gitu, tapi lu yang harus nikah dulu," kata Eril lagi.
"Santai gue, lu langkahin gue dulu juga nggak papa kalau emang udah kebelet," kata Rendra tertawa terbahak saat melihat ekspresi adiknya.
"Nggak gitu man, menurut gue ini terlalu cepet, gue kenal Jenny juga belum lama," kata Eril.
"Kenal belum lama tapi lu udah luar dalemnya dia, bukannya sama aja?" kata Rendra semakin mengejek Adiknya yang bermuka sangat masam itu.
Eril tak menyahut karena apa yang dikatakan Kakaknya ini hampir sepenuhnya benar. Namun meskipun begitu, Eril masih punya batasan agar tidak merusak masa depan wanita yang dicintainya.
Saat mereka berdua turun ke bawah, sontak saja pandangan semua orang langsung tertuju kepada mereka. Dua orang pria yang sangat tampan berjalan beriringan, membuat seolah semua mata terhipnotis untuk terus menatap keduanya.
"Rendra, Eril sini..." panggil Bella ketika melihat kedatangan dua putranya.
__ADS_1
"Ya ampun, si paling suka bertengkar ini sudah semakin besar saja," ucap Tiara heboh saat melihat kedua putra Bella yang sangat tinggi itu.
"Mereka kan tumbuh Tiara, memangnya Hazel enggak sebesar ini apa?" celetuk Bella tertawa melirik sahabatnya.
"Aunty Tiara? Kapan Aunty datang?" Rendra langsung memberikan salamnya kepada sahabat Mamanya ini.
"Aunty baru aja dateng," kata Tiara mengulas senyum tipisnya.
"Si kembar enggak ikutan Aunty?" tanya Eril ikut memberikan salamnya.
"Ikut, tuh udah sama Gwiyomi," kata Tiara menunjuk putranya yang di kerubuti teman-teman wanita Gwiyomi.
Tak lama setelah itu, tamu-tamu semakin ramai berdatangan, termasuk Karin bersama keluarganya. Mereka banyak mengisi waktunya untuk mengobrol dan bercengkrama, seolah mengganti waktu berkumpul yang memang sangat jarang lakukan karena kesibukan masing-masing.
"Jadi gimana? Masa dua anak bujang kamu belum ada yang laku?" celetuk Tiara yang biasanya ceplas-ceplos.
"Kamu pikir anak aku jualan apa, pakai laku segala" sahut Bella menggelengkan kepalanya, merasa ucapan sahabatnya ini memang terlalu frontal.
"Hahaha, lagian Rendra itu ganteng, kalau aku punya anak perempuan, pengen aku jodohin sama Rendra," kata Tiara tertawa kecil.
"Ya kalau dia mau, Ra" sahut Karin yang sejak tadi diam saja.
"Kenapa enggak? Rendra itu anak baik, kenapa nggak kamu angkat jadi menantu aja, Rin" kata Tiara bercanda.
"Nggak ada namanya perjodohan dalam kamus kita Tiara, biarin anak kita menentukan masa depannya masing-masing," kata Karin tentu saja pernah mengalami masa muda, dan baginya perjodohan anak itu sangat tidak mendukung. Baginya, kebahagiaan anaknya yang paling utama.
"Eh, tapi kayaknya lucu deh Rin kalau kita besanan," Bella malah senang jika anaknya akan menikah dengan anak sahabatnya, menurutnya hal itu akan membuat tali silaturahmi mereka semakin dekat.
"Siapa jeng yang mau besanan? Aku juga mau lo jeng, jadi besan kamu," suara seorang wanita terdengar mendekat ke arah mereka, membuat pandangan mereka sontak teralihkan.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1