Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 74.


__ADS_3

Setelah acara mandi tak berkesudahan selesai. Rendra mengajak Kirana untuk sarapan terlebih dulu. Wanita itu sudah cantik dengan balutan dress motif bunga yang baru diberikannya tadi.


"Mau sarapan apa? Nasi goreng atau roti?" tanya Rendra menawari Kirana terlebih dulu.


"Nasi aja, aku lapar," sahut Kirana lesu, tubuhnya terasa sangat lelah dan sendi-sendinya terasa ingin patah. Rendra benar-benar kurang ajar karena sudah menguras habis tenaganya. Bahkan sekarang saja, bagian intinya masih cukup perih.


Rendra menurut, ia mengambilkan nasi goreng ke piring Kirana. Wajahnya berbeda dengan Kirana yang tampak kuyu, wajah Rendra justru segar bugar karena baru saja mendapatkan amunisi tambahan.


"Makan yang banyak, hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan," ucap Rendra melirik Kirana sekilas.


"Jalan-jalan kemana?" tanya Kirana mulai memakan nasi goreng miliknya, ternyata ia benar-benar sangat lapar karena semalam juga tidak sempat makan.


"Kau ingin kemana?" Rendra bertanya balik, ia juga tidak ada rencana apapun untuk pergi jalan-jalan.


"Kan kamu yang ngajak, jadi kamu yang nentuin lokasinya," ucap Kirana mengernyit.


"Aku belum hafal daerah disini, katakan saja kau ingin kemana, hari ini aku libur," ucap Rendra seadanya.


Kirana semakin mengernyit, di Jogja memang banyak tempat bagus, tapi dia juga jarang keluar, jadi Kirana pun tidak begitu tahu.


Akhirnya daripada susah-susah berpikir, Rendra akhirnya membawa Kirana ke salah satu tempat. Kirana tidak tahu kemana Rendra akan membawanya karena pria itu tidak menjawab saat ia bertanya. Yang jelas mobil mereka meninggalkan rumah cukup jauh.


"Ini kita akan kemana sih? Pantai?" tanya Kirana benar-benar penasaran Rendra akan membawanya kemana. Jika dilihat dari jalanan yang mereka lewati, sepertinya memang akan ke pantai.


"Kau juga akan tahu nanti, tunggu saja dulu," sahut Rendra sengaja tak ingin memberitahu Kirana, ia ingin memberi kejutan kepada wanita itu nanti.


Kirana mengerucutkan bibirnya, Rendra ini memang susah ditebak, pembawaannya yang tenang membuat orang sering menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya. Kirana pun tak ambil pusing, ia menikmati perjalanannya yang menunjukan pemandangan lautan yang indah.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka berjalan perlahan memasuki tempat yang sama sekali tak terlintas di pikiran Kirana.


PELABUHAN SADENG


"Pelabuhan?" seru Kirana terkejut tentunya melihat tempat yang mereka kunjungi. Untuk apa Rendra mengajaknya kesana?


"Ya, kita sudah sampai. Ayo, turun." Rendra turun terlebih dulu dari mobil lalu membukakan pintu untuk Kirana.

__ADS_1


Angin laut yang berhembus begitu kencang langsung menerpa wajah Kirana saat ia turun dari mobil. Cuaca hari ini sebenarnya cukup panas namun tak begitu terasa karena hembusan angin yang kencang.


"Kita akan kemana sih?" tanya Kirana menggosok-gosok lengannya yang cukup kedinginan karena ia menggunakan baju dengan lengan yang pendek.


Menyadari hal itu, Rendra segera melepas jas miliknya lalu memakaikan kepada Kirana.


"Kau pasti akan suka nanti," ucap Rendra merangkul bahu Kirana seraya mengajak wanita itu pergi mengikuti Bram dan beberapa asisten yang membawa barang-barang mereka.


"Ya tapi mau kemana dulu? Kenapa bawa barang banyak banget? Kita mau menginap?" tanya Kirana tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Udah dibilang nanti akan tahu, penasaran banget sih," ucap Rendra mencubit gemas hidung Kirana.


"Aduh, sakit taukk!" Kirana merengek seraya mengelus hidungnya yang memerah karena ulah Rendra.


"Siapa suruh bawel banget," ucap Rendra tersenyum-senyum saja.


Kirana mencibir pelan, ia mengunci mulutnya selama kakinya melangkah menuju tempat yang di maksud Rendra. Pandangan Kirana lalu tertuju pada sebuah kapal pesiar besar yang ada di depannya. Ia menatap Rendra dan kapal itu dengan ekspresi bingung.


"Kita akan naik ini?" tanya Kirana syok tentunya, seumur-umur ia baru melihat kapal pesiar belum pernah menaikinya.


"Liburan?" Kirana semakin terkaget-kaget mendengarnya, Rendra memang benar-benar penuh kejutan.


"Ya, ayo naik dulu, kita akan melihat sunset di perjalanan nanti," ucap Rendra kembali membimbing Kirana untuk naik ke kapal.


Kirana hanya mengikuti dengan tatapan bingungnya, mungkin saat ini mulutnya sudah menganga karena rasa terkejutnya. Begitu naik di kapal, Kirana kembali dibuat tercengang dengan kemewahan kapal itu. Untung saja Rendra sudah berpamitan sebentar, jadi pria itu tidak tahu ekspresi ndeso nya.


"Selamat siang, Nona. Perkenalkan saya Vika, Tuan Rendra menugaskan kepada saya untuk menemani Anda disini. Jika Anda membutuhkan sesuatu, katakan saja kepada saya," seorang wanita muda dengan pakaian pelayan menghampiri Kirana yang masih sibuk mengagumi keindahan kapal itu.


"Oh, hai Vika, terima kasih ya," ucap Kirana bingung harus bersikap bagaimana, ia belum terbiasa dengan orang yang bersikap manis padanya.


"Tuan Rendra mengatakan jika Anda lelah, Anda bisa istirahat dulu di kamar Anda," ucap Vika dengan begitu sopan.


"Disini ada kamarnya juga?" tanya Kirana dengan wajah polisnya.


"Iya ada, Nona ingin istirahat sekarang? Atau mungkin Nona ingin mandi dulu? Saya akan menyiapkan airnya dulu," ucap Vika lagi.

__ADS_1


"Ehm, Vika, apa ini hotel?" tanya Kirana nyeleneh.


"Hotel?" Vika mengerutkan dahinya. "Bukan Nona, ini bukan hotel, ini adalah kapal pesiar milik Tuan Rendra pribadi. Semua fasilitas disini memang sangat lengkap, jika Nona menginginkan sesuatu katakan saja," ucap Vika menjelaskan seraya tersenyum lucu karena pertanyaan konyol Kirana.


"Kapal ini milik Rendra?" tanya Kirana semakin syok mendengar hal itu.


"Benar Nona," sahut Vika mengangguk mengiyakan.


"Rendra itu miliarder ya?" ucap Kirana mengira-ngira sekaya apa sih Rendra itu, kenapa bisa memiliki kapal pesiar pribadi.


"Miliader? Saya rasa bukan Nona, karena sekitar 2 tahun yang lalu saja, kekayaan Tuan Rendra sudah mencapai 15 Triliun, jadi ..."


"Apa?" Kirana langsung menyela sebelum Vika menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa Nona?" tanya Vika ikut terkejut mendengar suara Kirana yang cukup keras.


Kirana menggelengkan kepalanya, terlalu syok mendengar penjelasan dari Vika. Rasanya Kirana semakin jauh saja derajatnya dengan Rendra, bagaikan langit dan bumi.


"Vika, apa kau sudah lama bekerja disini?" tanya Kirana mendadak ingin tahu kehidupan Rendra.


"Saya baru dua tahun bekerja disini Nona," sahut Vika kalem.


"Ehm, berarti kau juga sudah sering melihat Rendra membawa pacarnya naik kapal ini?" tanya Kirana dengan sengaja.


"Kalau pacar sih sepertinya belum ada Nona, Tuan Rendra biasanya naik kapal ini bersama Tuan Eril dan Nona Gwiyomi untuk liburan keluarga," ucap Vika lagi.


"Apakah Rendra itu memang tidak pernah punya pacar?" tanya Kirana semakin penasaran, ia tak percaya jika orang seganteng dan sekaya Rendra tidak pernah punya pacar.


Vika mengulas senyum tipis mendengar pertanyaan Kirana. "Nona tenang saja, meskipun banyak wanita diluar sana yang mencoba mendapatkan hati Tuan Rendra, tetap Anda pemenangnya," ucap Vika lembut namun serius.


"Aku tidak yakin," ucap Kirana asal saja.


"Kenapa tidak? Asal Nona tahu, selama Saya bekerja disini, Tuan Rendra baru pertama kali membawa wanita kemari, dan wanita itu adalah Anda."


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2