
Setelah mengitari berbagai stand sayuran dan buah-buahan, Kirana dan Sella memutuskan untuk makan terlebih dulu karena sejak siang mereka belum makan apapun. Sebenarnya Sella juga ingin mengajak Kirana menonton mumpung di luar, tapi Kirana menolak karena dirinya tak suka menonton.
"Nggak asik ah kamu, kita mumpung di luar lo ini" kata Sella.
"Lain kali aja Sel, kita belum mandi juga, masak mau masuk bioskop dandanan kita kayak gini" kata Kirana minder melihat para anak muda yang berdandan modis itu.
"Makanya aku tadi nyuruh kamu mandi dulu kan?" kata Sella.
"Ya aku pikir cuma sebentar Sel" kata Kirana.
"Yaudah kita pulang sekarang aja" kata Sella sedikit cemberut karena gagal menonton bioskop.
"Aku ke toilet sebentar ya, udah kebelet dari tadi soalnya" kata Kirana lagi.
Sella mengiyakan saja lalu mereka berpisah di lobi Mall yang cukup ramai itu. Kirana pun segera masuk kedalam toilet untuk menuntaskan hajatnya. Saat ingin keluar, dia melihat penampilannya yang hanya memakai pakaian pelayan, tubuhnya kurus dan pucat, mana mungkin orang seperti dirinya bermimpi ingin bersanding dengan Rendra.
Kirana menghela nafasnya lalu mencuci tangannya di wastafel, sepertinya sudah cukup lama ia berada di toilet sana. Tak ingin membuat Sella menunggu lama, Kirana pun langsung keluar, namun ia kaget saat melihat sosok pria yang berdiri di pintu kamar mandi.
"Maxi!" seru Kirana sangat kaget, ketakutan langsung menyergap dirinya membuat ia reflek mundur ke belakang.
"Kirana.....Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu sayang?" kata Maxi membuang putung rokoknya lalu mendekati Kirana yang ketakutan itu.
"Mau apa kau?" kata Kirana mencoba melawan rasa takutnya, namun pria di depannya ini sudah membawa trauma sendiri bagi dirinya.
"Aku hanya ingin menemui mu, sekarang kau semakin cantik, apa Rendra merawat mu dengan baik?" kata Maxi menatap diri Kirana dari atas sampai bawah dengan pandangan melecehkan.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu!" kata Kirana berpikir keras bagaimana bisa keluar darisana.
"Wow, kau sudah mulai berani ya sekarang? Apa kau tidak merindukan siksaan dariku Kirana?" kata Maxi semakin tertarik untuk mendekati Kirana hingga tubuh wanita itu tak bisa lagi terhalang tembok di belakangnya.
"Cih, kau pikir aku takut Max? Aku tidak takut lagi padamu!" kata Kirana mendorong Maxi dengan kasar, mungkin dulu ia mau saja tunduk dengan perintah Maxi karena masih ada ibunya, tapi sekarang dia tak takut apapun lagi.
"Sikapmu membuatku terkejut, tapi apa kau masih bisa bersikap seperti ini setelah melihat video ini?" kata Maxi membuka ponselnya lalu memperlihatkan sebuah video ibu Kirana yang tampak pingsan namun banyak sekali alat bantu kehidupan dalam tubuhnya.
"Ibu" kata Kirana ingin melihat video itu dengan jelas tapi Maxi langsung menyembunyikannya.
"Saat ini kondisinya masih cukup mengenaskan, tapi dia masih bernafas karena alat bantu pernafasan dariku. Untung saja, aku sempat menyuruh anak buahku menyelamatkannya di hutan waktu itu" kata Maxi tersenyum begitu sinisnya.
"Apalagi yang kau inginkan?" kata Kirana menatap Maxi tajam.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu penawaran" kata Maxi lagi.
"Ini sangat mudah sebenarnya, tapi aku juga tidak ingin memaksa mu. Saat ini ibumu dalam kondisi stabil dan kemungkinan akan sembuh jika aku merawatnya. Tapi itu tergantung keputusanmu nantinya" kata Maxi sengaja berteka-teki membuat Kirana semakin meradang.
"Kau mau mengancamku menggunakan ibuku lagi Max? Dengarkan aku, aku sudah tidak perduli! Bahkan aku lebih rela melihat ibuku mati daripada dia hidup dalam tekanan darimu!" Kirana berteriak keras, antara putus asa namun juga sangat cemas jika memang ibunya masih hidup dan berada di tangan Maxi.
Kirana juga cukup ragu jika memang ibunya masih hidup, bukankah dulu dia sudah melihatnya sendiri kalau ibunya meninggal. Jadi kemungkinan besar Maxi hanya membohongi dirinya saja.
"Apa kau yakin Kirana? Saat ini hanya ibumu yang kau punya sebagai satu-satunya keluarga yang kau miliki. Apakah kau rela mengorbankan-nya hanya seseorang seperti Rendra? Lagipula, aku sebenarnya sudah berubah pikiran tentang dirimu, mungkin jika kau melakukan apa keinginanku, aku akan membebaskan kalian dan tidak akan menganggu kalian lagi" kata Maxi lagi, tau jika Kirana pasti sangat menyayangi ibunya.
"Aku tidak akan tertipu dengan akal licikmu" kata Kirana mantap dan tegas.
__ADS_1
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan menelepon anak buahku yang saat ini sedang menjaga ibumu, dia hanya tinggal melepas semua alat bantu pernafasan itu dan aku pastikan ibumu akan benar-benar mati" kata Maxi dengan wajahnya yang santai dan tak keberatan sama sekali.
Kirana mengepalkan tangannya, matanya tampak mulai berair karena dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. Kirana sama-sama menyayangi ibunya dan juga Rendra, Kirana pun tak ingin kehilangan salah satunya. Tapi, jika benar kalau ibunya masih hidup dan Maxi akan melepaskannya, itu artinya hal bagus bukan? Dia bisa hidup damai bersama ibunya dan memulai semua dari awal.
Sedangkan Rendra, bukankah dia sudah menolaknya? Dan Kirana juga tak ingin lagi berhubungan dengan pria itu. Jadi mungkin dengan cara ini, Rendra akan semakin membencinya dan mudah melupakannya.
"Tunggu dulu"
******
"Lama banget sih Ran? Kamu ngapain aja di toilet?" kata Sella hampir saja menyusul Kirana karena sudah terlalu lama menunggu.
"Mata kamu kenapa sembab gini? Habis nangis ya?" kata Sella memegang lengan Kirana untuk melihat kondisi wanita itu namun Kirana menghindar.
"Aku nggak apa-apa, cuma kemasukan debu aja tadi" kata Kirana mencubit cuping hidungnya menyamarkan tangisnya yang ingin jebol, suaranya pun terdengar masih bindeng pertanda dia habis menangis.
"Serius kamu nggak apa-apa?" kata Sella tak percaya begitu saja.
"Nggak apa-apa Sel, kita langsung pulang aja, kelamaan di luar nanti Tuan Rendra marah" kata Kirana mencoba tersenyum meskipun sulit.
Sella masih tak percaya sebenarnya, tapi ia tak ingin mengatakan apapun. Mereka pun langsung pulang ke rumah karena hari sudah cukup malam dan memang sudah sangat lama mereka berada di luar.
Sepanjang perjalanan pulang, Kirana lebih banyak melamun, sesekali hembusan nafas berat itu terdengar membuat Sella yang berada di sampingnya semakin curiga. Tapi bertanya pun percuma karena Kirana itu orang yang sangat sulit membagi cerita.
Ternyata saat mereka sampai di rumah bersamaan dengan Rendra yang juga pulang dari kantornya. Tatapan Kirana dan Rendra langsung terkunci, ada sorot maya penuh kerinduan yang sama dari diri mereka. Kirana pun tanpa sadar tersenyum namun matanya basah, dirinya hanya ingin memuaskan menatap lama wajah Rendra untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.