
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Yolan hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Ia memang diantarkan oleh Rendra pulang tanpa kendala apapun. Tapi, sejak tadi setiap kali Yolan bertanya, pria itu hanya menjawab sangat cuek. "Ya" dan "tidak" itu saja, sungguh mengesankan.
"Ren, hari ini malam minggu loh. Kita jalan yuk ke mall, disana ada cafe baru, makanannya ... "
"Tidak,"
Yolan belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Rendra sudah lebih dulu menyela, wajahnya terlihat sangat dingin sekali tanpa melirik Yolan.
"Kamu kenapa sih cuek banget sama aku? Aku ada salah sama kamu?" kata Yolan tak tahan dengan sikap Rendra ini.
"Bukankah dari dulu aku begini,?" ucap Rendra tak terpengaruh dengan kekesalan Yolan, ia juga tidak ingin repot membujuk Yolan karena menurutnya tidak penting. Sudah terlalu terbiasa dengan wanita yang seperti ini.
Yolan berdecak kesal, rasanya ia sangat lelah untuk memahami sikap Rendra yang benar-benar tak tersentuh itu.
"Nanti mampir di IndoApril depan, aku mau membeli beberapa barang," kata Yolan dengan muka bete-nya.
Rendra mengangguk singkat, mambawa mobilnya menuju IndoApril yang di sebutkan oleh Yolan. Ia menolak saat wanita itu mengajaknya masuk, Rendra lebih memilih menunggu di mobil seraya melihat lalui lintas malam itu.
Tak lama setelah itu, Yolan sudah kembali dengan membawa beberapa barang di dalam kantong plastik.
"Udah?" tanya Rendra.
Yolan tidak menjawab, ia memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Rendra.
"Ren ... kamu tau kan kalau aku suka sama kamu dari dulu?" ucap Yolan tak memikirkan apapun lagi. Sudah cukup baginya memendam perasaan yang selama ini ada di hatinya.
"Apa yang kau bicarakan?" kata Rendra tentu sudah tau kalau Yolan memang menyukainya, namun ia sama sekali tak menyangka, wanita itu akan mengatakan langsung padanya.
"Aku beneran suka sama kamu Ren, aku sudah menyimpan rasa ini sangat lama ... " kata Yolan membuang harga dirinya dengan menembak Rendra terlebih dulu, ia memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Rendra.
"Tapi aku tidak bisa Yol, aku hanya menganggap mu sebagai temanku, tidak lebih dari itu," kata Rendra mencoba berbicara lembut agar tak menyakiti wanita itu.
__ADS_1
"Jahat kamu Ren, apa tidak ada sedikit saja tempat untukku di hatimu?" ucap Yolan sangat kecewa karena penolakan dari Rendra, air matanya langsung keluar tanpa bisa di cegah.
Rendra menghela nafasnya, ia paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis.
"Aku minta maaf, tapi perasaan itu tidak bisa di paksa Yol, kita hanya bisa berteman, tidak lebih dari itu," kata Rendra memberikan senyum tipisnya, berharap bisa mengurai rasa kecewa dalam diri Yolan.
"Baiklah kalau begitu, jika kau memang tidak ingin denganku. Berikan aku kesempatan satu kali, untuk melakukan hal yang akan aku ingat sebagai kenangan indah kita berdua," kata Yolan mengusap air matanya pelan.
"Melakukan apa?" tanya Rendra mengerutkan dahinya bingung.
Belum hilang rasa kebingungannya, ia malah di buat kaget saat tiba-tiba saja Yolan menarik tangannya lalu menempelkan bibir mereka berdua. Yolan mencium bibir Rendra dengan penuh perasaan, setidaknya ia ingin memperlihatkan kelihaiannya berciuman bibir agar Rendra menyesal karena telah menolak dirinya.
Namun bukan itu saja yang membuat Rendra kaget, melainkan saat ia melihat sosok Kirana yang berdiri di hadapannya. Wanita itu jelas melihat apa yang terjadi di dalam mobil karena Yolan lupa belum menutup jendelanya.
Kirana memang baru saja pulang bekerja dari Toserba. Ia memang bekerja full karena ingin mendapatkan gaji tambahan. Malam itu dia terasa sangat lelah sekali karena dua minggu terus saja lembur berturut-turut.
Saat ia keluar dari Toserba, tak sengaja ia melihat siluet pria yang sangat ia kenal. Awalnya ia tak percaya kalau pria itu benar-benar Rendra. Mungkin karena sudah lama tak melihatnya, membuat pikirannya ngelantur. Namun semakin ia melihat, pria itu memang benar-benar Rendra.
Kirana tidak ingin mendekati atau menemui karena ingat janjinya sendiri, namun ia hatinya juga rindu dengan sosok pria itu. Kirana hanya bisa menatap pria itu dari jauh, sudah membuatnya senang. Namun nyatanya kesenangan itu tidak bertahan lama.
"Kirana ... " ucap Rendra tersadar dari apa yang sudah terjadi. Ia segera mendorong Yolan dengan keras hingga ciuman mereka terlepas.
"Aduh ... Rendra, sakit!" kata Yolan kesal karena sikap kasar Rendra.
Rendra tak perduli, ia ingin secepatnya pergi mengejar Kirana. Ia tak ingin wanita itu salah paham dengan yang baru saja di lihatnya.
"Rendra! Kau mau kemana?" ucap Yolan menahan tangan Rendra agar pria itu tidak pergi.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Rendra menatap Yolan dengan sangat tajam.
"Tidak! Aku tidak boleh meninggalkanku begitu saja," kata Yolan menantang tatapan mata itu dan malah memegang erat tangan Rendra.
__ADS_1
Rendra mengertakkan giginya, merasa kesabarannya sudah habis karena tingkah Yolan ini. Dengan kasar, Rendra mendorong wanita itu dengan keras.
"Jangan menantangku!" bentak Rendra langsung keluar dari mobilnya.
"Kamu jahat Rendra! Argh... sial!" Yolan berteriak penuh kekesalan, seumur hidupnya tidak ada satu orang pun pria yang menolak dirinya dan mempermalukannya seperti ini.
"Kau pasti akan menyesal Rendra ... "
****
Rendra terus berlari mengejar Kirana yang terlihat sudah sangat jauh, wanita itu berlari dengan cepat tanpa memperdulikan dirinya yang sejak tadi berteriak memamanggil-manggilnya.
"Kirana ..." teriaknya lagi namun tak membuat wanita itu berhenti.
Rendra sedikit berdecak, tak menyerah mengikuti Kirana yang berlari ke kontrakannya itu. Untung saja malam sudah cukup larut, membuat beberapa tetangga Kirana sudah tidur.
"Tunggu dulu Kiran," ucap Rendra berhasil menghentikan langkah Kirana sebelum wanita itu masuk kedalam rumah.
"Lepas," kata Kirana tanpa menoleh.
"Tidak, kamu harus dengerin aku dulu, semua tadi enggak seperti yang kamu lihat," kata Rendra menjelaskan, menatap wanita itu dengan tatapan seriusnya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun, lepaskan aku Rendra!" kata Kirana menghempaskan tangan Rendra dengan kasar.
"Enggak, kamu harus dengerin aku ngomong dulu," kata Rendra malah menarik wanita itu masuk kedalam rumah lalu mengunci pintunya. Ia tak ingin sampai ada orang yang melihat apa yang terjadi antara keduanya.
"Apalagi yang harus kau jelaskan? Semuanya sudah jelas!" kata Kirana mengusap air matanya dengan kasar. Nyeri dihatinya kembali terasa saat mengingat Rendra yang berciuman dengan wanita lain.
"Oke, maafkan aku. Ini semua tidak seperti yang kamu lihat, tadi kami tidak sengaja melakukannya,"
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.
Jangan lupa dukungan like dan komen ya guys...