
Eril mengendarai mobilnya dengan cepat, ia benar-benar punya firasat tidak enak dengan adiknya. Apalagi ia ingat kalau club yang didatangi Gwi itu adalah salah satu club yang bebas. Tidak ada peraturan tentang umur dan juga keamanannya tidak terjamin.
Sesampainya disana, Eril sudah bisa melihat mobil adiknya terparkir disana, ia langsung saja masuk kedalam club itu. Tapi ia tentu tak akan bisa menemukan adiknya diantara ratusan manusia itu. Belum lagi ia harus menghalangi para wanita-wanita yang menggoda dirinya.
Saat ia akan mencari adiknya kedalam, pandangannya teralihkan dengan orang-orang yang berbondong-bondong pergi mengerubuti sesuatu di daerah kamar sewa disana. Eril awalnya tak ingin perduli, tapi samar-samar ia melihat sosok wanita yang tergeletak di lantai itu.
"Jingga!" Eril langsung bergerak cepat membelah kerumunan manusia itu. Dan seketika matanya membesar saat tau jika wanita itu benar-benar Jingga.
"Jingga! Kenapa dia bisa seperti ini?" Eril mengangkat kepala Jingga, mencoba menyadarkan wanita itu dengan mengguncang pelan bahunya. Ia bisa melihat pipi Jingga yang merah, pertanda kalau wanita ini baru saja dipukul hingga pingsan.
"Dia sudah pingsan daritadi Tuan, tadi saya sempat melihat wanita ini bertengkar dengan seorang pria, tapi pria itu sudah pergi bersama wanita satunya" ucap orang yang tadi menemukan Jingga.
"Wanita satunya?" kepanikan Eril seketika meningkat, ia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto adiknya.
"Apakah wanita ini yang bersamanya?" tanya Eril was-was.
"Ya benar, dia wanita itu Tuan," sahut orang itu mengangguk.
Eril menggenggam tangannya dengan erat. Sial! Dia kalah cepat dari ba ji ngan itu. Sekarang dimana lagi dia bisa mencari adiknya.
"Argh......" Jingga tersadar dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Jingga! Kau sudah sadar? Apa yang baru saja terjadi?" cerca Eril langsung.
"Kak Eril! Gwi Kak! Aku.....Dia....." Jingga sampai kesusahan untuk menjelaskannya karena panik dan juga takut, pipinya bahkan masih sangat nyeri sekarang.
"Tenang, tenang, kita pulang aja dulu. Kamu jelasinnya nanti," ucap Eril tak ingin memaksa Jingga, tau jika wanita ini sangat kesepian.
Jingga mengangguk singkat, ia baru saja akan bangkit tapi ternyata Eril malah menggendong dirinya. Jingga sedikit kaget dengan hal itu, ia menatap lekat wajah Eril yang sangat dekat dengannya, seketika saja jantungnya kembali berdegup tak karuan.
"Kak, aku bisa jalan sendiri" ucap Jingga benar-benar tidak bisa jika harus berdekatan begini dengan Eril.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kau pasti baru saja melewati hal yang mengejutkanmu, tenanglah, aku akan mengantarmu pulang," kata Eril dengan tatapan lurusnya.
Jingga mengigit bibirnya, ia memberanikan dirinya untuk mengulurkan tangannya ke leher Eril agar tidak jatuh. Bahkan ia hanya bisa terkaku saat Eril membantu dirinya duduk di mobil, posisinya sangat hingga ia bisa mencium harum tubuh pria itu, mungkin sebentar lagi kita akan pingsan jika terus saja seperti ini.
"Apakah sudah nyaman?" tanya Eril.
"Ya ya sudah, tapi kenapa sandarannya ke bawah banget kak?" ujar Jingga merasa tak nyaman dengan posisi tempat duduknya itu, terlalu rebah sempurna.
"Oh iya, Jenny memang suka gitu kalau duduk, aku naikan dulu," kata Eril membantu mengatur tempat duduk Jingga. Memang kekasihnya itu senang jika posisi tempat duduknya seperti itu.
Jingga sedikit kaget saat tiba-tiba sandaran itu dinaikan, hampir saja wajahnya dan Eril bersentuhan kalau ia tidak memalingkan wajahnya kesamping.
"Udah cukup kak," kata Jingga.
Eril mengangguk singkat, ia menutup mobilnya lalu beralih masuk ke bagian kemudi. Ia harus segera mengantar Jingga pulang dan menyelesaikan semunya. Tapi sepertinya ia harus menghubungi Papanya tentang Gwi.
"Kamu tau tadi Gwi diajak ke arah mana?" tanya Eril.
"Enggak, Pria gila itu memukulku sampai pingsan, aku jadi tidak bisa menyelematkan Gwi, maafkan aku kak" kata Jingga menjelaskan.
"Halo Pa, Aku udah di tempat Gwi, iya tapi aku telat Pa, Gwi sudah di bawa oleh Maxi," ucap Eril kembali mengusap wajahnya kasar.
"Ini aku sama Jingga, dia nggak apa-apa. Ya aku akan mengantarnya pulang," kata Eril lagi langsung memutuskan panggilan itu.
"Maxi itu jahat banget Kak, dia juga kasar, Kakak harus menemukan Gwi secepatnya" kata Jingga ngeri jika mengingat pria itu.
"Iya, aku akan mengantar mu pulang dulu," kata Eril melajukan mobilnya perlahan meninggalkan club itu. Setelah ini banyak hal yang harus dilakukannya.
*****
Kirana pikir ia akan di bawa ke rumah utama Maxi, namun ternyata dia salah. Mobil yang membawanya pergi itu jauh meninggalkan kota, melewati hutan-hutan belantara dan juga tempat yang sangat sepi. Sepertinya itu adalah sebuah desa terpencil.
__ADS_1
"Kenapa kita tidak pulang ke rumah utama?" tany Kirana.
"Tuan Maxi hanya ingin kesini," sahut Franky acuh tak acuh.
"Apakah ibuku juga di rawat disana?" tanya Kirana lagi, entah kenapa ia merasa jika Maxi akan melakukan kekejaman gila disana.
"Kau tidak berhak untuk bertanya disini, ingatlah posisimu Kirana," kata Franky menatap Kirana tajam.
Kirana mengepalkan tangannya erat, jika memang Ibunya masih hidup dan dirawat disana, kemungkinan besar Maxi akan kembali memanfaatkan dirinya. Namun kali ini Kirana tak ingin kalah, dia harus mendapatkan ibunya apapun caranya, bahkan jika perlu, ia akan membunuh iblis yang mengerikan itu.
Tak sampai dua jam, mereka tiba disebuah bangunan Vila yang sangat megah. Sekeliling tempat itu penuh dengan hutan yang masih sangat rimbun. Kirana lalu menatap keamanan yang ada disana itu, sangat banyak sekali, mustahil jika akan lolos darisana.
"Ayo turun! Tuan Maxi sudah menunggumu di dalam" ucap Franky pada Kirana.
Kirana tak menyahut, ia segera turun dari mobilnya lalu masuk kedalam mengikuti Franky. Dilihatnya Maxi yang sudah duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya. Melihat kedatangan Kirana, Maxi langsung tersenyum.
"Selamat datang calon istriku, bagaimana tugas dariku? Apakah berjalan lancar?" ucap Maxi dengan senyum sumringahnya.
"Dimana ibuku?" ucap Kirana to the point.
"Oh ibumu, kenapa langsung menanyakannya? Apakah kau sudah begitu merindukannya?" kata Maxi bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kirana.
"Jangan bertele-tele. Cepat katakan dimana ibuku! Kaz sudah berjanji ingin membebaskanku jika aku melakukan semua yang kau perintahkan!" kata Kirana mengertakkan giginya yang gemeletuk menahan emosinya.
"Memangnya kau berjanji padamu seperti itu?" kata Maxi suka sekali mempermainkan Kirana.
"Jadi kau membohongiku! Ba ji ngan!" teriak Kirana merangsek maju untuk menyerang Maxi tapi pria itu sudah lebih sigap mendorongnya hingga jatuh kebelakang.
"Jangan coba-coba berani menentang ku Kirana! Kau pikir siapa dirimu ha? Kau hanya wanita bodoh yang tidak berguna!"
Plak
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.