Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Bab 47.


__ADS_3

Kirana tertawa sinis mendengarnya, tidak sengaja katanya? Jelas-jelas mereka berdua berciuman, apakah hal seperti itu bisa dilakukan tanpa kesengajaan.


"Sudahlah, aku sangat lelah hari ini. Aku ingin istirahat," kata Kirana memilih menghindari berdebat dengan Rendra. Ia juga tidak punya hak apapun untuk marah, toh mereka tidak punya hubungan apapun.


"Tidak! Kau tidak boleh pergi begitu saja. Kau marah padaku 'kan?" kata Rendra kembali menghadang langkah Kirana.


"Sebenarnya apa maumu Rendra? Kenapa susah sekali membuatmu mengerti? Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Aku juga tidak perduli kau punya hubungan dengan dia atau tidak" Kirana membentak Rendra dengan sangat kesal.


"Kau tidak perduli, tapi kau marah. Apa itu namanya cemburu?" ucap Rendra mencoba tenang menghadapi kekesalan Kirana. Ia mulai mengerti jika Kirana semakin di paksa, maka semakin kuat juga keinginannya untuk berontak. Lagipula bukankah jika Kirana marah itu bagus? Ia jadi tau kan, kalau wanita itu sebenarnya memang menyukainya.


"Kau bilang apa? Aku cemburu? Tentu saja tidak, memangnya aku siapa harus cemburu padamu," ucap Kirana sedikit salah tingkah tuduhan itu.


"Kau lucu juga ya, kalau sedang cemburu," ucap Rendra tersenyum manis, ia berjalan maju hingga membuat Kirana mundur.


"Sudah aku bilang, aku tidak cemburu!" kata Kirana berucap tegas, namun ia gugup karena Rendra terus mendekatinya. "Ka-kau mah apa ...?" kata Kirana benar-benar gugup.


Rendra semakin mengembangkan senyumnya, tanpa peringatan ia menarik pinggang Kirana hingga tubuh mereka menempel erat.


"Rendra!" Kirana memekik kaget, jantungnya bahkan mulai bekerja tak normal.


"Aku suka," kata Rendra menatap Kirana dengan tatapan mendamba. Fix, dia memang sudah tergila-gila dengan wanita ini.


"Suka?" ucap Kirana tak mengerti.


"Aku suka kalau kau cemburu padaku," kata Rendra masih tak melepaskan tatapan matanya.


"Maksudmu kau senang kalau aku marah,?" kata Kirana merengut.


"Ya, karena itu artinya kau memang mencintaiku" kata Rendra lagi.


"Tidak, siapa bilang? Kau terlalu percaya diri," kata Kirana melepaskan dirinya dari Rendra, ia memilih masuk kedalam kamar untuk menghindari Rendra.


"Masih mau mengelak juga? Nona Kirana, kau sudah tidak bisa membohongiku lagi," kata Rendra tak melepaskan Kirana begitu saja, ia mengikuti wanita itu masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Ck, kenapa sih susah sekali membuatmu mengerti? Aku tidak mencintaimu Rendra, aku mau kau sekarang pergi dari rumahku, ini sudah malam," kata Kirana lelah sekali rasanya.


"Aku tidak mau pergi sebelum kau mengatakan kau mencintaiku," kata Rendra malah sengaja mendudukkan dirinya di kasur dengan sikap keras kepalanya.


"Rendra!" ucap Kirana menahan dirinya untuk tidak membentak pria itu.


"Cepat pergi dari sini" ucap Kirana lagi.


"Tidak, aku akan tetap disini," kata Rendra dengan santai melipat tangannya di belakang mata lalu memejamkan matanya.


Kirana menghela napasnya, mencoba tenang dan mencari jalan keluar agar Rendra mau pergi dari rumahnya.


"Baiklah, kalau kau memang tidak mau pergi juga, aku yang akan pergi dari sini," kata Kirana menggertak Rendra, ia langsung ingin berjalan pergi, tapi Rendra lebih dulu menarik tangannya hingga ia jatuh di pangkuan pria itu.


"Kau tidak akan bisa pergi kemana pun," kata Rendra membuka matanya dan menatap Kirana dengan tajam.


"Rendra! Le-paskan aku," kata Kirana tak nyaman duduk di pangkuan Rendra seperti ini.


"A-aku ..." Kirana menelan ludahnya kasar, tak bisa hanya sekedar mengatakan satu kata. Ia hanya bisa menatap Rendra yang menurutnya cukup menakutkan.


"Kenapa kau terus menolakku? Apa aku harus membuatmu hamil dulu baru kau akan menerima ku?" selesai mengucapkan hal itu, Rendra langsung merubah posisinya dengan merebahkan Kirana di kasur dengan cepat lalu menindihnya.


"Rendra! Bukan seperti itu, maksudku ... " Kirana mulai panik melihat Rendra sudah berada diatasnya, posisi mereka sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


"Lalu apa maksudmu? Kau mencintaiku kenapa harus terus menolak? Kau membuatku hampir gila karena penolakan mu. Sekarang, aku tidak akan melepaskan mu lagi," kata Rendra benar-benar sudah hilang akal rasanya, harga dirinya sedikit terusik karena terus menolak dirinya. Come on, dia juga manusia yang bisa merasakan sakit.


"Jangan seperti ini Rendra, aku ..." Kirana semakin panik dan bingung harus berbuat apa sekarang, sepertinya Rendra memang mulai habis kesabarannya.


"Mau menerima cintaku atau tidak?" kata Rendra dengan suaranya yang mengancam, namun sebenarnya ia sedang berusaha keras agar tidak tertawa karena melihat wajah takut Kirana yang sangat lucu.


"Aku ... " Kirana bingung harus menjawab apa.


"Ya atau tidak?"

__ADS_1


Kirana mengigit bibirnya, haruskah dia mengatakan iya? Tapi melihat sorot mata Rendra yang begitu serius dan melihat bagaimana usaha pria ini ingin mendapatkannya. Kirana mulai yakin kalau Rendra memang tidak main-main dengannya. Lagipula kenapa dia harus mempersulit keadaan dengan terus menolak Rendra, toh dia juga menginginkan Rendra bukan?


"Aku menunggu jawabanmu Kiran," ucap Rendra lagi membuat Kirana tersentak.


"Ehm ... baiklah" kata Kirana mengangguk malu.


"Jawabannya hanya ya atau tidak?" kata Rendra menajamkan tatapannya.


"Ya," ucap Kirana sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar.


"Baiklah, kau sudah mengatakan ya, jadi jangan pernah coba-coba lari dariku lagi. Kirana, kau harus ingat, sekuat dan sejauh apapun kau ingin lari dariku. Aku pasti akan mencari mu sampai ke ujung dunia sekalipun," kata Rendra dengan tatapan tajam dan seriusnya, terselip nada arogan di dalamnya namun entah kenapa membuat hati Kirana menghangat.


"Iya ... tapi bisakah kau turun dulu?" kata Kirana sangat tak nyaman saat Rendra berada diatasnya.


"Turun kemana? Apakah tidak dilajutkan saja?" kata Rendra tersenyum menggoda, tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Dilanjutkan?" Kirana sedikit bingung saat mendengar ucapan Rendra.


"Ya, kita sudah resmi mempunyai hubungan. Jadi kita harus merayakan hari bahagia ini," kata Rendra mengelus lembut pipi Kirana, lalu bibir merah wanita itu yang selalu menjadi candunya.


Kirana menahan napasnya, tubuhnya rasanya seperti terkaku saat melihat tatapan mata Rendra. Ia bingung harus seperti apa sekarang.


Rendra tersenyum kecil, perlahan ia mendekatkan wajahnya. Menyentuhkan bibirnya di atas bibir Kirana, mengecupnya dengan lembut dan sedikit mengigit bibir kecil itu untuk terbuka.


Kirana memejamkan matanya, ia memberanikan dirinya untuk membalas ciuman Rendra seraya mengalungkan tangannya ke leher pria itu.


Mendapatkan tanggapan dari Kirana, Rendra menjadi lebih berani memperdalam ciumannya. Semakin lama ciuman itu semakin panas dan cepat,tangan Rendra bahkan mulai tak terkendali menyentuh diri Kirana. Rendra menurunkan ciumannya ke leher jenjang Kirana hingga membuat wanita itu tanpa sadar men de sah tertahan.


Mendengar de sa han itu, Rendra menjadi tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia melepaskan ciumannya dan menatap Kirana yang sudah pasrah di bawahnya. Baju wanita itu juga sudah tersingkap kebawah karena ulahnya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2