
Cahaya matahari tampak masuk menerobos jendela kamar yang terbuka, sinarnya membias seluruh kamar yang Kirana tempati. Ia kembali terbangun setelah tidur cukup lama karena efek obat yang diberikan kepadanya. Saat ia membuka matanya, air matanya langsung lolos begitu saja, kenapa rasanya susah sekali untuk dia mati, seolah Tuhan tidak mengizinkan dirinya mengakhiri segala penderitaan ini.
Kirana melihat sekelilingnya mencari apa saja yang membuat dirinya bisa mati, tapi tak ada barang apapun disana karena Rendra tak ingin sampai kejadian terulang kembali. Kirana sudah tau kenapa Rendra menolongnya, pria itu pasti ingin membalas dendam padanya.
"Selamat pagi Nona" kata Pelayan wanita masuk kedalam kamar Kirana, ia membawakan sarapan untuk wanita itu.
"Kau siapa?" kata Kirana beringsut menjauh, dia takut jika melihat orang asing.
"Saya Sella Nona, saya yang akan melayani anda selama anda disini, Tuan Rendra mengatakan jika anda sudah bangun, anda bisa langsung membersihkan diri dan menemui beliau nanti" kata Sella terdengar begitu sopan kepada Kirana.
"Rendra?" kata Kirana sedikit bingung.
"Ya, tolong bekerjasamalah Nona, Tuan Rendra sudah berbaik hati menolong anda, jadi sebaiknya anda turuti saja keinginannya" kata Sella lagi.
Kirana mengigit bibirnya, rasa trauma akan kesakitan itu kembali menyerang dirinya membuat keringat dingin membasahi dirinya, tangannya mulai gemetaran membuat Sella kaget.
"Anda kenapa Nona?" kata Sella cemas.
"Minum" kata Kirana menatap gelas yang dibawa Sella.
Sella segera memberikan gelas yang berisi susu hangat itu, tapi karena tangan Kirana gemetaran gelas itu terjatuh dan pecah.
"Astaga, saya akan mengambilkan sapu untuk membersihkannya" kata Sella cepat-cepat bangkit untuk mengambil sapu di ruang belakang.
Saat keluar dari kamar Kirana, ia hampir saja bertabrakan dengan Rendra yang pagi itu sengaja datang kesana sebelum ke kantornya.
"Ada apa?" kata Rendra menatap Sella tajam.
"Maaf Tuan, saya ingin mengambilkan sapu untuk membersihkan pecahan gelas di dalam, tadi Nona Kirana ingin minum tapi tak sengaja menjatuhkan gelasnya hingga pecah" Kata Sella menjelaskan.
__ADS_1
Mata Rendra membesar, ia bergegas masuk kedalam kamar Kirana dan kaget saat melihat darah yang mengucur dari pergelangan tangan Kirana. Wanita itu berdiri dengan posisi membelakanginya membuat Rendra segera menarik tangannya dengan kasar.
"Lepaskan aku! Biarkan aku menyusul ibuku" kata Kirana berontak saat ada yang menyentuhnya, ia yang tidak tau siapa yang berada dibelakangnya terus berontak.
Kirana bersikukuh mempertahankan pecahan kaca itu karena lukanya belum terlalu dalam, tapi karena tenaganya yang lemah kekuatannya pun kalah dari Rendra, namun dia tetap memegang pecahan kaca itu dengan erat, dan entah bagaimana tiba-tiba saja ia tak sengaja mengarahkan pecahan kaca itu hingga menggores leher Rendra.
Kirana kaget dan memutar tubuhnya, ia menutup mulutnya saat melihat leher Rendra tergores, darah juga sedikit terlihat mengenai kulit Rendra yang begitu putih.
"Maafkan aku, maafkan aku, aku akan melihatnya" kata Kirana mencoba menyentuh luka Rendra, tak memperdulikan lukanya yang juga sudah berdarah.
"Jangan mendekat! Diam di tempatmu!" kata Rendra mundur kebelakang, ia bukannya apa-apa tapi jika Kirana melangkah sedikit saja disampingnya ada pecahan gelas, Rendra malah takut kalau kaki Kirana mengenainya.
"Maafkan aku" kata Kirana menunduk, ia merasa kalau Rendra pasti sangat jijik bersentuhan dengan wanita seperti dirinya.
"Maafkanlah dirimu sendiri, jangan pernah lagi kau berpikir untuk mati. Apalagi itu dirumahku, tetaplah hidup, setidaknya sampai aku puas membalas rasa sakit hatiku padamu" kata Rendra menatap Kirana tajam, dia paling tidak suka jika wanita ini terus ingin mengakhiri hidupnya.
Kirana hanya bisa mendudukkan wajahnya saat melihat tatapan tajam itu dari Rendra. Pria itu memang pantas sakit hati karena berpikir dia sudah mengkhianatinya.
"Jaga wanita itu, jauhkan semua barang-barang yang bisa membuatnya cepat mati, dia harus membayar mahal semua sakit hati yang aku rasakan" kata Rendra terus menatap Kirana dingin.
Sampai di titik itu Kirana sadar kalau Rendra tidak menolongnya, tapi pria itu hanya membiarkannya hidup agar bisa puas membalas dendam padanya. Kirana sudah membuat satu-satunya pria yang berbaik hati padanya menjadi membencinya, mungkin memang sudah menjadi karmanya jika tidak akan ada satupun pria di dunia ini menerima dirinya yang menjijikan.
*****
"Kak! Kenapa lehermu?" kata Eril kaget saat melihat Kakaknya terluka.
"Aku tidak apa-apa, hari ini kau datang saja sendiri ke kantor, aku akan menyusul nanti" kata Rendra.
"Baiklah, tapi bagaimana kalau Papa bertanya?" kata Eril tak ingin membantah perintah kakaknya karena melihat wajah Kakaknya yang mode serius itu.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah lebih pintar dari aku untuk masalah itu?" kata Rendra melirik Eril yang mendadak salah tingkah karena ia memang sering kali membuat alasan untuk menghindari ayah dan ibunya.
"Yasudah, aku berangkat kalau begitu. Berhati-hatilah kak, sepertinya hatimu mulai lemah sekarang" kata Eril kembali mengatakan sesuatu yang membuat Rendra tak mengerti.
Rendra masuk kedalam kamarnya, ia melihat goresan kecil dilehernya, namun itu bukan menjadi masalah baginya, tapi Rendra saat ini kepikiran dengan Kirana yang terus ingin mencoba mengakhiri hidupnya. Rendra pun akhirnya menelepon Dokter pribadi keluarganya untuk menanyakan kondisi Kirana.
"Jadi bagaimana kondisinya?" kata Rendra langsung begitu Dokter itu datang ke tempatnya.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia sepertinya pernah mengalami hal traumatis yang membuat dia mengalami gejala depresi berat" kata Dokter menjelaskan dengan menatap Rendra yang sedang berpikir itu.
"Apakah bisa disembuhkan?" tanya Rendra.
"Ya jika dia terus minum obat anti depresan itu bisa sembuh, namun dia kesehatan mentalnya juga harus di jaga dengan menempatkannya dilingkungan yang baik dan membuat dia merasa aman. Jika dia terus mengalami tekanan, bukan tidak mungkin dia akan melakukan percobaan bunuh diri lagi" kata Dokter.
"Jadi dia bisa mencoba bunuh diri lagi?" kata Rendra menatap Dokter itu, kenapa kondisi wanita itu begitu parah?
"Ya benar, Kirana sepertinya sering mendapatkan penyiksaan fisik dan juga mental, hal itu benar-benar mempengaruhi kondisi psikisnya, tapi untuk kasus ini, Kirana termasuk orang yang kuat karena dia tidak sampai gila" kata Dokter itu lagi.
Rendra terdiam, kenapa dia sekarang menjadi ragu untuk membalas dendam kepada Kirana. Apalagi dia ingat perkataan Kirana yang mengatakan kalau Ibunya juga meninggal, itu artinya dia sudah tidak punya siapapun di dunia ini.
Seharian ini Rendra terus memikirkan Kirana, padahal ia sudah mencoba mengalihkan dengan bekerja, tapi kenapa tidak bisa. Akhirnya ketika malam hari, Rendra datang ke kamar Kirana, ia berdiri menatap wajah cantik Kirana yang terlelap, perasaanya mulai campur aduk tak karuan, apakah memang dia perduli dengan wanita ini? Atau hanya karena rasa kasihan?
Happy Reading.
Tbc.
Bonus Visual Rendra dan Kirana__
__ADS_1