
Tak terasa waktu terus berjalan dengan cepat, kehidupan rumah tangga Rendra dan Kirana terus diliputi kebahagiaan dan cinta. Meski kadang ada kalanya mereka berdua bertengkar dengan hal-hal kecil, namun itu justru membuat hubungan keduanya sangat erat.
Setahun hampir berlalu dan kini Rendra sedang menunggu masa-masa kelahiran anak pertamanya. Karena memang mereka berdua sepakat untuk tidak menunda kehamilan, jadi Kirana sudah diberi anugerah kehamilan yang kini berusia sembilan bulan.
Sudah begitu lama, namun perasaan cinta Rendra dengan Kirana tak pernah berubah, justru sekarang malah semakin meluap-luap dan Rendra semakin posesif dengan istrinya itu.
"Hari ini kamu jadi ke luar negeri?"
Seperti biasa, rutinitas Kirana di pagi hari adalah meyiapkan sarapan dan membantu suaminya sebelum berangkat ke kantor. Kirana dengan luwes membuat simpulan dasi Rendra.
"Jadi, nanti kamu aku antar ke rumah Mama ya? Nggak enak kalau ninggalin kamu di rumah sendirian," ucap Rendra menyempatkan dirinya untuk mengecup kening Kirana.
"Boleh, aku juga lama banget nggak ke rumah Mama," ucap Kirana sama sekali tak keberatan, justru ia sangat senang karena Bella selalu memberinya perhatian dan kasih sayang yang membuat Kirana merasa dirinya begitu berharga.
"Selama aku pergi, kamu jangan bandel. Harus nurut kata Mama, jangan keluar kemana-mana kalau nggak ada urusan penting, ingat?" kata Rendra mewanti-wanti istrinya ini agar selalu berhati-hati.
"Iya iya pak suami. Aku akan diam saja di rumah, kalau perlu kamu kunci aja aku di rumah Mama," ucap Kirana memutar bola matanya malas. Rendra ini kadang terlalu berlebihan menurutnya, padahal setiap keluar pun ia baik-baik saja.
"Ya nggak gitu juga Sayang, ini semua demi kebaikan kamu dan calon jagoan kita," ucap Rendra mengelus perut buncit Kirana dengan penuh kasih.
"Jagoan?" Kirana mengerutkan dahinya.
"Ya, jagoan kita. Anak pertama kita pasti laki-laki," ucap Rendra tersenyum percaya diri.
"Sok tahu, kamu tahu darimana emangnya?" tanya Kirana heran karena Rendra selalu menyebut anak mereka laki-laki, padahal mereka sengaja tidak pernah melihat jenis kelaminnya dari USG.
"Kita lihat saja nanti, instingku biasanya tak pernah meleset," kata Rendra mencubit pipi Kirana yang semakin gembul.
Memang sejak kehamilannya ini, tubuh Kirana semakin mengembang dimana-mana. Ia yang tak mengalami mual dan muntah, justru suka memakan apa saja. Waktu awal-awal kehamilan pun ia baik-baik saja karena Rendra yang mengalami ngidam.
Kata Mama Bella sih gejalanya persis seperti Papa Axel dulu saat Mama Bella hamil Rendra. Jadi ya bisa dibilang like father, like son.
Setelah sarapan dan bersiap sebentar, Rendra mengantarkan Kirana ke rumah Mama Bella. Ia langsung di sambut dengan hangat oleh Mama mertuanya itu, Gwiyomi juga senang karena ada teman di rumah.
"Asyikkk ... Kak Kiran nanti tidur di kamar aku ya, aku mau cerita," ucap Gwiyomi bersorak girang.
"Mau apa kamu? Jangan mengajak Kakak mu bergadang, dia harus istirahat cukup, jadi kau harus menjaga calon keponakanmu juga," ucap Rendra memperingatkan adiknya.
__ADS_1
"Ye, apaan sih Kak, jangan lebay kenapa," celetuk Gwiyomi melirik adiknya malas.
"Gwi, nggak boleh gitu," ucap Bella menggeleng tak setuju melihat kelakuan Gwiyomi.
"Kamu berapa lama di luar negeri?" tanya Bella pada putranya.
"Paling cuma seminggu Ma, aku titip Kirana disini ya, pastikan dia minum vitamin dan susunya tepat waktu Ma. Anaknya suka bandel kalau dibilangin," ucap Rendra mengadu.
"Ish, siapa yang bandel? Enggak tuh," celetuk Kirana melirik sebal suami posesifnya ini.
"Kamu sering lupa kalau nggak diingetin," kata Rendra cuek saja.
Bella tersenyum, kebahagian orang tua sepertinya itu sangat sederhana. Melihat anaknya bahagia dan hidup rukun itu merupakan sebuah nikmat yang tak tergantikan.
"Kamu nggak usah khawatir, Kirana pasti baik-baik saja disini," ucap Bella tahu jika Rendra sangat mencemaskan istrinya jika harus meninggalkannya sendiri.
"Makasih Ma, aku berangkat dulu kalau begitu. Nanti salam buat Papa ya," ucap Rendra mencium tangan Mamanya lalu memeluknya hangat.
Kirana menemani Rendra sampai di depan rumah. Entah kenapa kali ini rasanya Rendra berat sekali saat ingin meninggalkan Kirana. Padahal biasanya tak seperti ini.
"Ingat, jangan lupa minum vitamin dan istirahat yang cukup, aku hanya seminggu di sana. Semoga jagoanku ini masih menungguku sampai aku pulang," kata Rendra sebenarnya tak tega jika meninggalkan istrinya yang hamil besar, tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah," ucap Rendra memeluk Kirana hangat lalu mencium keningnya.
Kirana mendongak menatap suaminya sendu, perlahan ia menyatukan bibirnya dan Rendra. Saling berciuman lembut sebagai salam perpisahannya. Tak terlalu lama Rendra melepaskannya, ia lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati Papa ... See you ..." ucap Kirana melambaikan tangannya.
Setelah Rendra sudah tak terlihat, Kirana langsung masuk ke dalam rumah bergabung dengan Bella dan Gwiyomi di ruang tengah.
"Rendra udah berangkat?" tanya Bella.
"Sudah Ma," sahut Kirana seadanya.
"Oh ya, Kirana HPL kapan?" tanya Bella memandang perut menantunya yang terlihat sudah membuncit.
"Sekitar 2 minggu lagi Ma," sahut Kirana mengingat-ingat.
__ADS_1
"Wah sebentar lagi, Mama udah nggak sabar buat gendong cucu Mama," ucap Bella begitu senang, tak menyangka sebentar lagi ia akan menjadi nenek.
"Aku juga udah nggak sabar menunggu keponakan aku, pasti lucu banget," ucap Gwiyomi tak kalah hebohnya.
Kirana tersenyum manis, memiliki keluarga seperti mereka adalah sebuah anugerah yang indah. Bahkan tak ada yang lebih indah dari semua yang ada di dunia ini. Keluarga yang saling mencintai dan menyayangi. Selalu mendukung di saat duka maupun duka.
Malam harinya, Kirana menghabiskan waktunya untuk membaca-baca buku seputar kehamilan. Rendra belum menghubunginya lagi setelah tadi siang, jadi kemungkinan pria itu masih sibuk.
"Kak, Kak Kiran lagi apa?" tanya Gwiyomi baru keluar dari kamar mandinya seraya menggosok-gosok rambutnya yang basah.
"Baca buku aja, ada apa?" sahut Kirana melirik Gwiyomi sekilas, ia tahu kalau adik iparnya ini ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Kak Kiran mau bantuin aku nggak?" ucap Gwiyomi sedikit ragu.
"Bantuin apa?" tanya Kirana mengernyitkan dahinya.
"Cuma temenin aku aja sih ke mall, aku mau ketemu temen," kata Gwiyomi pelan.
"Temen atau pacar?" tanya Kirana semakin mengernyit.
"Ih, masih temen Kak. Temenin ya, hari ini dia ngeband di sana, aku mau lihat, cuma sebentar kok," ucap Gwiyomi memandang Kakak iparnya penuh harap.
"Tapi ini sudah malam Gwi, nanti gimana kalau Mama nyari?" ucap Kirana khawatir jika harus keluar malam-malam.
"Sebentar aja kok Kak, nanti aku minta anterin Kak Eril deh biar Mama nggak curiga,"
Gwiyomi terus membujuk Kirana dengan berbagai cara agar wanita itu mau. Ia juga harus mati-matian membujuk Kakak keduanya yang pastinya ogah-ogahan kalau di ajak keluar.
"Kalau Kak Eril nggak mau, aku pergi sendiri sama Kak Kirana. Awas aja kalau ada apa-apa sama kita, Kakak yang tanggung jawab!" ucap Gwiyomi terpaksa mengeluarkan ancamannya.
"Ck, nyebelin banget sih. Jangan lama tapi, satu jam kita balik," sergah Eril meski dongkol setengah mati, tapi ia tak akan membiarkan adiknya berkeliaran sendiri malam-malam.
"Nah gitu dong, itu baru Kakak aku," kata Gwiyomi nyengir.
Eril hanya memasang wajah datarnya, ia sempat melirik Kirana yang sejak tadi memperhatikannya. Kirana langsung menunduk karena masih takut dengan pria itu, bahkan sudah hampir setahun Kirana menjadi istri Rendra, mereka tak pernah bertegur sapa.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.