
Kini Kirana sudah berada di dalam mobil bersama Eril, ia mengambil duduk yang cukup jauh karena benar-benar sangat takut. Ia bertanya-tanya kenapa Eril menemuinya malam-malam begini, apakah Rendra tahu?
"Ini," ucap Eril menyodorkan sebuah cek kosong kepada Kirana, ia menghisap rokoknya dalam-dalam lalu membuang putung nya ke jalanan.
"Ini apa?" tanya Kirana menatap cek itu dan Eril bergantian.
"Jangan pura-pura polos, tulis saja berapa yang kau butuhkan, aku akan memberikannya." Kata Eril melirik Kirana dengan tatapan sinisnya.
"Apa maksudmu?" Kirana memutar tubuhnya dan menatap Eril tajam, ia merasa tak terima dengan perkataan pria itu.
"Kau sangat tahu maksudku, tujuanmu mendekati Kakakku untuk alasan ini 'kan? Sekarang aku memberikan padamu cuma-cuma, tapi dengan syarat, jauhi Kakakku!" ujar Eril menekan kata Kakak di akhir kalimatnya.
Kirana mengertakkan giginya, ia marah karena Eril menganggap dirinya mendekati Rendra hanya karena uang.
"Aku tidak butuh ini!" bentak Kirana melemparkan cek itu ke arah Eril dengan kasar.
"Ayolah Kirana, kau bisa menulis berapapun uang yang kau inginkan. Kau bisa menggunakan uang ini untuk keperluanmu, aku ingin kau pergi sejauh mungkin dari kota ini," tukas Eril tak berperasaan sama sekali.
"Dengarkan aku, aku sama sekali tidak butuh uangmu atau apapun dari kalian. Jika kau memang ingin aku pergi, aku akan pergi. Aku tidak akan mengemis uang kepada kalian," Kirana mengusap air matanya cepat lalu membuka pintu mobil Eril.
Hatinya sakit sekali, ia pikir ketika Rendra datang di hidupnya, ia akan menemukan kebahagiannya. Tapi kenapa sebelum ia merasakan kebahagiaan itu, Tuhan sudah memberinya cobaan yang bertubi-tubi. Kirana mungkin masih menerima jika hanya sekedar hinaan dari orang lain, tapi saat dari keluarga Rendra yang melakukan itu, rasa sakitnya bertambah dua kali lipat.
"Oh aku tahu, apa yang diberikan Maxi lebih banyak dari yang aku berikan? Kau ingin apa? Rumah? Mobil? Kenapa dulu kau tidak menggodaku saja, uangku lebih dari cukup jika hanya membeli dirimu," ucap Eril membuat Kirana membeku.
Tangan Kirana mengepal erat, emosinya memuncak dan tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkat tangannya menampar Eril dengan keras.
Eril tentu sangat kaget, ini pertama kalinya ada seorang wanita yang berani menamparnya. Atau bahkan ini pertama kali seumur hidupnya ada yang berani bersikap seperti ini padanya. Eril bukannya marah, tapi hatinya mendadak diliputi oleh perasaan aneh.
__ADS_1
"Kau menamparku setelah aku mengatakan kebenarannya," ucap Eril mendesis seraya memegang pipinya yang terasa panas, kekuatan Kirana memang tak main-main saat menamparnya.
"Cukup! Aku tidak serendah itu!" bentak Kirana dengan air mata yang tak henti mengalir. "
"Kau ingin aku pergi 'kan? Aku akan pergi, aku akan pergi sejauh mungkin dari kota ini. Terima kasih basa-basi nya, aku akan pergi sekarang," tanpa menunggu Eril menyahut, Kirana langsung turun dari mobilnya dan berlari menjauh dari sana.
Kirana terus berlari hingga ia merasa lelah, tak peduli nafasnya yang terengah-engah, ia terus berlari dan membiarkan air matanya berjatuhan. Malam itu adalah malam yang sangat menyakitkan bagi Kirana, rasa sakit ini bahkan lebih sakit dari siksaan Maxi yang dulu dia berikan.
"Argh ...!!" Kirana langsung menjatuhkan dirinya di jalanan saat kakinya tak mampu lagi melangkah.
Ia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya, se susah itukah ia ingin bahagia?
*****
Eril pulang ke rumah dengan wajah yang masih cukup kusut, entah kenapa ia terus kepikiran wajah Kirana yang menangis putus asa tadi. Apakah ia sangat jahat jika ingin menyingkirkan duri dalam keluarganya?
"Eril, baru pulang? Kamu darimana saja?" Eril tersentak saat mendengar suara Mamanya. Ia langsung menghentikan langkahnya, menatap Mamanya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Mama, aku baru aja ketemu temen," ucap Eril melangkahkan kakinya lalu mengambil duduk di samping Mamanya.
"Udah makan belum? Kebiasaan kalau makan malam nggak di rumah, makan dulu gih," ucap Bella terlihat masih sibuk dengan tabletnya.
"Udah, aku udah makan di luar. Yang main pada kemana, Ma?" tanya Eril heran melihat keadaan rumah yang cukup sepi.
"Papa sama Kakak kamu lagi di tempat biasa, kalau Gwi sedang keluar sama Jingga katanya," sahut Bella singkat.
Eril menganggukkan kepalanya seraya ber "oh" ria. Ia lalu menatap Mamanya yang sibuk sendiri itu. "Mama lagi apa?" tanya Eril ingin tahu.
__ADS_1
"Oh, Mama cuma mencari beberapa barang hantaran untuk lamaran Kakakmu," ucap Bella memang sudah mempersiapkan segalanya.
"Kakak? Mau lamaran dengan siapa?" tanya Eril semakin tak mengerti.
"Kamu sudah tahu calonnya," kata Bella kali ini menatap Eril yang juga sedang menatapnya.
"Maksud Mama Kirana?" ucap Eril tak menyembunyikan nada terkejutnya.
"Ya, Mama pikir ..."
"Kenapa Kak Rendra jadi menikah dengan dia? Mama sudah tau kan siapa wanita itu?" Eril langsung menyela karena sangking kesalnya.
"Iya, Mama tahu. Tapi kamu dengerin Mama dulu," kata Bella memegang tangan Eril.
"Enggak, aku nggak setuju kalau Kakak menikah dengan wanita itu," kata Eril tak mau mendengarkan apapun, ia masih bersikap keras kepala dan ingin beranjak pergi dari sana.
"Gabriel! Dengerin Mama dulu," ucap Bella menahan tangan Eril sebelum putranya itu pergi.
"Kalau Mama udah setuju ya silahkan, tapi aku tidak akan hadir dalam pernikahan itu," ucap Eril menarik tangannya lembut lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Bella menghela nafas panjang, sifat Eril memang sangat keras. Ia tak akan bisa mentolerir segala jenis pengkhianatan meski sekecil apapun. Ia juga tak bisa dengan mudah menerima orang yang pernah berbuat salah padanya.
Untuk hal ini, Bella sebenarnya sudah sangat mengerti karena sifat putra keduanya itu persis seperti dirinya. Tapi sebagai orang tua yang sudah memiliki banyak sekali pengalaman dalam hal seperti ini, Bella merasa tak ada salahnya untuk memberikan kesempatan untuk Kirana. Pernah menjadi orang jahat, bukan berarti akan terus jahat bukan?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1